IPv6 Kita, Mati Suri (Lagi)!

In Nguprek on 4:21 am

ipv6Sekarang awal 2008.
Sampai mana pertumbuhan ipv6 Indonesia ?

Agaknya setelah IPv6 menginjakkan kaki nya di tanah air, hingga saat ini (riset pertama tercatat pada tahun 2004 oleh CBN dan XL – CMIIW) pertumbuhan ipv6 di Indonesia sering terganjal beberapa masalah.. Masalah yang paling fundamental menurut versi saya pribadi adalah faktor SDM nya. Untuk masalah perangkat kita tak perlu lagi mempermasalahkannya. Dengan SDM yang benar-benar consern dengan ipv6, berbagai perangkat bisa dimanfaatkan..

Beberapa kali saya mengajukan pertanyaan kepada rekan2 saya yg aktifis di ISP Indonesia mengenai penerapan ipv6 di instansi mereka.
Jawaban yang saya dapat pun tidak jauh beda, rata-rata masih berkutat pada tidak adanya SDM yang konsern hingga alasan yang paling klasik, “belom butuh tuh..!”

Jika kita bicara masalah butuh dan belum butuh, memang masih sangat mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan network dengan IPv4 di Indonesia pada saat ini. Namun kalau kita terus berkata ‘belum butuh’ dan seiring itu IPv4 terus digunakan, dan tanpa sadar menjadi bom waktu buat kita. Suatu saat, ketika IPv4 benar2 menipis, barulah terasa.. dan ironisnya, kita belum siap..!!

Secara pribadi saya lebih suka mengatakan implementasi IPv6 di lepaskan dari permasalahan butuh atau tidak butuhnya. Namun teknologi yang ditawarkan ipv6 dan perbandingannya dengan ipv4. Analoginya pada saat kita diberikan sebuah sepeda oleh orang tua. Dalam usia anak2, betapa senangnya kita, tapi suatu ketika orang tua kita menawarkan sebuah sepeda motor.. Apakah kita akan menolaknya dan tetap menggunakan sepeda? Saya sangat yakin kita akan meninggalkan sepeda dan segera beralih ke sepeda motor yang menawarkan berbagai kemudahan. Apakah alasannya hanya karena sepeda sudah tidak bisa dipakai?? tentu bukan, jika Anda berfikir masalah ‘upgrade’ dan peningkatan performa, ok, kita dalam jalur yang sama sekarang.

Sempat juga terpikir oleh otak nakal saya, bahwa bangsa Inodonesia mirip dengan bangsa yang ‘latah’, mudah kaget. Memang suatu saat perlu sedikit ‘paksaan’ untuk melakukan sesuatu atau berpindah ke sesuatu yang baru. Saya ambil contoh migrasi opensource. Beberapa saat yang lalu, kita terlena dengan sistem operasi binary yang begitu memanjakan. Walaupun OpenSource telah hadir dan menunjukkan keistimewaannya, tampak sekali kemalasan telah membawa kita mementahkan opensource dan tetap asyik dengan Office kita. Hingga suatu saat ramai lah terdengar kabar tentang HAKI dan sweeping software bajakan yg mulai se-ramai operasi WTS dan Waria.
Bagaimana ya untuk melakukannya juga di IPv6, bagaimana kalau dilakukan sedikit ‘gertakan’ dan ‘ancaman’ untuk men-trigger user2 malas untuk segera berpindah (ke IPv6 tentunya). Dengan memanfaatkan sifat ‘latah’nya Indonesia, mungkin cara ini bisa mulai difikirkan. he he he.

Saat detik.com menelorkan www6 nya, sempat untuk beberapa lama kalangan aktivis ‘kaget’ dan ramai lah lagi ipv6 di tanah air. Wong namanya orang kaget, pasti gak lama, dan segera adem lagi. Yah, liat saja sekarang.
Sekali lagi, ini cuman tulisan nakal anak ingusan yang kurang kerjaan. Kalo gak setuju, ya silakan saja.


.dk_

Andika Kurniantoro,
Blogger paruh waktu. Karyawan di sebuah perusahaan swasta Indonesia. Lajang. Gemar menonton film dan membaca buku sejarah.

Related posts ...

    Comments ...

  1. Wikusama.com » Blog Archive » IPv6 Kita, Mati Suri (Lagi)! | 22 February 2008 | 11.30

    [...] Original post by betet [...]

  2. leenoux | 24 September 2009 | 16.46

    salam kenal mas :)
    saya sendiri mendukung ipv6 adoption di indonesia, dengan cara tunneling ke hurricane electric. masih dual stack sih.
    website saya sendiri ipv6 enabled di ipv6forum, cuma kayaknya sendirian aja… hehe

    http://www.ipv6forum.com/ipv6_enabled/approval_list.php?type=loc&content=ID

    btw nice info

It is your turn now!