seputar opini masyarakat
pagi ini saya menonton acara editorial media indonesia di metrotv
konsep acaranya adalah ada seorang moderator dan pakar yang didatangkan. mereka akan mendengarkan sebanyak mungkin opini masyarakat berkenaan dengan topik yang sedang diangkat, lalu kemudian sang pakar akan memberikan komentar dan menarik kesimpulan.
kebetulan hari ini topik yang sedang dibicarakan adalah mengenai isu upaya pelemahan kpk sekaligus undang-undang tipikor.
saya mengikuti dari awal acara tersebut dan menurut hitungan saya 99% masyarakat yang menyumbang opini menggariskan satu hal yang sama.
satu penelpon kurang lebih berkata seperti ini, “kasus korupsi di indonesia sepertinya sudah kronis dan tidak mungkin bisa disembuhkan lagi, setiap kali pemerintah membentuk badan anti korupsi pasti berujung pada korupsi yang lebih besar dan pada akhirnya berlalu begitu saja”
penelpon berikutnya berujar “kpk selama ini hanya berkonsentrasi menangani korupsi di dpr pusat saja, coba lihat, lingkungan pemerintah daerah telah menjadi ladang korupsi yang subur.”
penelpon selanjutnya tak kalah sengit “undang-undang tipikor terasa mengebiri kpk dan memanjakan koruptor, bagaimana tidak? lhawong yang melahirkan undang-undangnya para koruptor juga”
dan penelpon-penelpon lain yang menyuarakan hal senada.
benang merah yang saya (dan mungkin anda) tangkap adalah: pesimisme dan krisis kepercayaan.
masyarakat mulai pesimis pada kinerja eksekutif, legislatif sekaligus yudikatif yang membuat mereka bingung harus percaya kepada siapa lagi. kasian sekali bukan ?
namun terlepas dari apa yang dibahas, paling tidak ada satu sinyal bagus yang bisa ditangkap, yakni masyarakat mulai berani vokal dan kritis terhadap pemerintah. apakah didengar atau tidak (atau seolah-olah tak didengar) kita hanya bisa berdoa untuk yang terbaik.
apakah sampeyan pesimis juga ?
gambar: waroengseni.blogspot.com
comment
Please Leave a Reply
TrackBack URL :

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Tetapi kok korupsi selalu jalan terus. Terkadang sempat juga terlintas dalam pikiran; dia komentar seperti itu lantaran emang belum berkesempatan untuk merasakan korupsi, coba kalau berkesempatan…?