seorang teman pernah bercerita kepada saya, suatu hari ia pergi ke sebuah acara pameran peralatan elektronik di jakarta dan pulang dengan tas-tas yang berisi barang perkakas komputer yang baru dibelinya. kemudian dia mengaku hampir 2 bulan peralatan barunya hanya menumpuk saja di rak dan tak digunakannya karena bingung untuk apa. mudah sekali ya masyarakat indonesia mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebetulnya kurang diperlukan.. apakah teman saya itu telah menjadi konsumtif ?
mengapa konsumtif?
mengapa masyarakat indonesia menjadi konsumtif ? saya sengaja hanya fokus terhadap masyarakat indonesia sebab konon di negara lain sifat konsumtif tak terlalu menonjol seperti di indonesia. tak percaya? kapan-kapan mari kita pergi ke sana dan membuktikannya.
1. gengsi
membeli telepon genggam model terbaru yang berukuran besar yang bisa digunakan untuk mengambil gambar, mendengarkan musik dengan kualitas super, menulis dan mengedit dokumen, mengolah images, bluetooth, wi-fi, modem, push email, gps, bla, bla, bla. pertanyaannya, berapa banyak dari segudang fitur tersebut yang anda pergunakan dengan maksimal? geli sekali saya ketika suatu hari saya bertanya pada seorang ABG (anak baru gede) yang dengan percaya dirinya menenteng sebuah telepon genggam merek terkenal, tentang apa yang biasa ia lakukan dengan perangkat mahalnya itu. ia jawab, untuk telepon, sms dan…. facebookan (mengupdate facebook — situs jejaring sosial paling mentereng saat ini). itulah yang saya sebut gengsi.
mereka merasa percaya diri, hebat dan bahagia luar biasa bila memegang barang-barang bermerek internasional, berkilau dan up-to-date, plus menjadi pusat perhatian. sebaliknya, resah, gelisah dan merasa sangat hina jika harus berjalan di tengah keramaian tanpa dilengkapi barang-barang tersebut. itu gaya hidup.
celakanya, tingkat sosial masyarakat sering kali (seakan) ditentukan oleh perangkat yang dikenakan. jas dan kemeja berkelas, sepatu mengkilap, telepon genggam sebesar batu bata yang tak lepas dari tangan, seolah dengan lantang berteriak “hai semua, saya orang terhormat!”
anda pernah pergi ke mall kelas elite dengan mengenakan pakaian sopan dan rapi (namun kurang bermerek) dan di pandang dengan sinis oleh hampir semua orang? saya pernah.
2. banyak menonton dan kurang membaca.
dimana konsumen mendapat informasi barang-barang keluaran terbaru? jawabannya adalah sebagian besar dari mereka menemukannya di iklan televisi. spesifikasi, peringatan dan himbauan (yang pada umumnya tertulis) tak terlalu dihiraukan. yang penting miliki dulu, daripada keduluan tetangga.
mengapa harga beriklan di televisi menjadi berkali-kali lipat lebih mahal daripada beriklan di koran? ya karena iklan di televisi jauh lebih efektif menjaring pembeli daripada iklan yang terpampang di surat kabar.
padahal di media cetak kita punya lebih banyak waktu dan ruang untuk mempelajari baik dan buruknya sebuah produk, spesifikasi teknis, mempertimbangkan, dan seterusnya sehingga pengeluaran yang seharusnya tak perlu bisa ditekan.
3. negeri sejuta komunitas
anda sadari atau tidak, kegiatan kopdar (kopi darat) komunitas hanya (atau setidaknya paling banyak dilakukan) di indonesia! saya juga baru menemukan fakta ini ketika mengikuti pesta blogger beberapa waktu yang lalu.
lalu hubungannya dengan sifat konsumtif? hmmm… jadi misalnya di sebuah komunitas hampir semua anggotanya menggunakan nokia komunikator, kemudian anda satu-satunya anggota yang tak menggunakan gadget jenis tersebut. apa yang anda pikirkan? terkadang ketakutan untuk ditolak oleh komunitas karena ‘perbedaan’ ini menjadi begitu dominan dan membuat seseorang menjadi konsumtif juga.
kebablasan
mungkin kita bisa saja mengatakan, “ah biarkan saja, toh mereka punya uang”
tapi tunggu dulu, pernahkah anda mendengar berita tentang pelajar yang melakukan “korupsi” uang sekolah untuk membeli sepatu sport agar bisa ‘diterima’ oleh teman-temannya dan dikatakan gaul ?
atau saudara-saudara kita yang sebetulnya hidup berkecukupan namun nekat mencopet atau menjual narkoba hanya untuk membeli mobil baru agar tak kalah dengan tetangga sebelahnya?
sifat konsumtif (dan segala sesuatu) akan berakibat kurang baik tatkala mulai melampaui batasnya. apakah pantas hanya untuk hal-hal yang belum tentu besar manfaat dan kegunaannya, kita harus merugikan orang lain ?
sementara itu …
ah, sedih saya menuliskannya. di beberapa daerah terpencil di sudut-sudut indonesia, saudara-saudara kita harus berjalan 10 kilometer hanya untuk mengambil 2 jerigen air bersih untuk masak. harus berjalan kaki melewati sungai, tebing dan hutan-hutan untuk bersekolah. dan seterusnya.
lalu masih pantaskah kita disebut warga negara beradab, jika di satu tempat saudara kita mengantri di tengah terik matahari dan debu, untuk mendapatkan sedekah senilai 20ribu rupiah, sementara kita mengantri di ruangan luas ber-AC untuk membeli kemeja Calvin Klein seharga jutaan rupiah?
syukuri saja
bukan orang indonesia rasanya jika tak pandai bersyukur dan selalu mengambil nilai positif dari segala hal. sifat konsumtif masyarakat ini sedikitnya memiliki 3 sisi positif, seperti yang ditulis Ir Handito Joewono di Agrimedia tahun 2003, yaitu:
1. sifat konsumtif masyarakat menunjukkan bahwa indonesia memiliki banyak marketer yang handal. terbukti mereka bisa dengan sukses merayu para konsumen untuk berbelanja dan terus menghabiskan uang mereka untuk produk yang dipasarkan. tentu saja para marketer ini aset yang berharga untuk menghadapi pasar bebas kelak.
2. semaki deras uang yang berputar, maka pajak dan pemasukan negara akan mengalir pula. selain itu iklim investasi positif juga akan terdorong.
3. tingkat konsumtif bisa menjadi hal positif bila merata hingga masyarakat lapisan bawah, apalagi disalurkan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga.
jadi, apakah anda tipe masyarakat yang konsumtif ?
Gambar: http://ekonomi.kompasiana.com/
Untuk menghindari konsumtif kita belanja yang kita suka namun ekonomis sifatnya karena kita membeli sesuatu yang memang kita perlukan dan kita merasa nyaman dengan apa yang kita beli.
Untuk kopdar, saya suka banget kopdar dengan dblogger, saya rasa kopdar tidak memicu konsumtif apabila kita bisa bijaksana dengan berperilaku apa adanya , teman teman pun menerima dan ajang kopdar hanyalah acara silaturahim yang sesekali buat saling tukar pikiran juga refreshing, itu pun tidak sering hanya sesekali dan kadang timbul idea untuk berbuat sesuatu yg berguna.
Btw budaya konsumtif memang harus ditekan agar dampak globalnya bisa dicegah, great post
alhamdulillah saya bukan termasuk tipe orang konsumtif, karena sudah terbiasa susah dr kecil, saya kira konsumtif itu merupakan sebuah pola pikir yang menghasilkan perilaku.. tapi saya juga gak tau gimana mengubah pola pikir orang konsumtif
eniwei, nice post
Saya mencoba hidup apa adanya,mas. Membeli apa-apa yang dibutuhkan saja dan menunda yang tidak urgent. Masih banyak sodara kita yang hidupnya masih susah,mas, bukan waktunya untuk buang-buang uang.
kalo gw sih biar nggak konsumptif, sering2 pinjem punya temen ajah (blush),
pinjem BB nya donk gan… (blush)
karena pola hidup sekarang adalah Pentingin dulu gaya masalah yang lain gimana nanti, ini adalah sebuah cermin terjadinya pergeseran hidup…..
wah dibilang konsumtif sih ngga tau.. aku sih biasa biasa aja kok.. ya biasa jajan,, biasa belanja, biasa jalan jalan..
haha ngga becanda.. aku lebih seneng seperlunya aja.. perlu ambil,, klo ngga ya buat apa ntar aja klo dah perlu.
Juragan, konsumerisme itu adalah wabah global pada masing-masing individu.. bukan hanya dimonopoli mereka di Indonesia aja kok..
Wong ireng di negeri si bau kelek ini juga setali tiga uang.. alias sami mawon, apalagi mereka yang tinggal dan hidup di Monrovia, Ibukota Liberia – istilah sing penting gaya adalah salah satu semboyan mereka meski rumahnya nggak ada listrik atau naik angkot busuk, sing penting HPnya canggih
(meski isi pulsanya –> senen-kemis!) hehehehe…
Seneng udh bisa mampir kesini lagi, salam hangat dari afrika barat!
Kalo aku mudah2an ngak trmasuk org konsumtif ya…selama ini msh dlm tahap wajar. Belanja cuma kalo merasa perlu..
Bloghicking di hari jumat.
Mengunjungi para sahabat,
siapa tahu ada suguhan hangat.
Meski datangnya telat,
jangan didamprat.
Yang penting semangat!
Ok, sobat?
jangan lupa; JANGAN MALU UNTUK SEDERHANA
hmm…saya sepertinya belum termasuk yang seperti itu, mungkin karena kantong yang semakin hari semakin kempes saja @,@
siapa bilang Indonesia miskin? kaya lageeeeeeee
)
)
itu yang ada dalam otak saya saat melihat limpahan manusia yang mengantri untuk barang ratusan ribu, nongkrong di kafe ratusan ribu, dinner di resto jutaan dan mengendarai mobil puluhan juta, dll, dll
heran itu duit darimana ya? canggih juga Ngepetnya
)
saya suka banget mengkonsumsi rujak, pedas segaaaar… apalagi di Jakarta saat siang yang panas. apakah saya konsumtif?
konsumtif ? *buka kamus
………
saya termasuk ! *termasuk tidak bisa konsumtif (no money)