Christine (Sylvie Testud), seorang gadis muda, harus menjalani kenyataan sebagai seorang penyandang cacat yang hanya bisa duduk di kursi roda dan dituntun oleh para relawan kemanapun pergi. Bahkan untuk melakukan kegiatan sehari-sehari seperti makan dan menyisir rambut pun harus dengan pertolongan orang lain, sebab kedua belah tangannya pun telah lumpuh.
Ia tinggal di sebuah yayasan sebuah gereja di Perancis bersama para penyandang cacat yang lain. Dan suatu hari mereka semua mengadakan perjalanan ziarah ke Lourdes, sebuah kota ziarah kecil di pegunungan Pyrenees. Di sana, Christine dan penyandang cacat yang lain melakukan ritual-ritual kebaktian katolik dan memohon kepada Bunda Maria untuk kesembuhan. Hari-hari berlalu dan semua berjalan seperti biasa, hingga pada suatu pagi Christine terbangun dan mendapati sebuah kejaiban.
Ia bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya dengan normal. Tangan dan kaki yang semula lumpuh bisa berfungsi sebagaimana biasa secara ajaib. Sejuta harapan baru pun terbentang di hadapannya kini. Ditambah lagi dengan munculnya seorang relawan pria tampan yang menunjukkan rasa suka padanya. Namun kebahagiaan Christine menjadi terganggu oleh perawatnya, Maria (Léa Seydoux) yang rupanya juga menaruh rasa suka kepada perawat tampan yang mencintai Christine.
Cobaan pun semakin bertambah berat ketika para dokter klinik mengabarkan bahwa kesehatan yang diperoleh Christine kemungkinan adalah sebuah siklus yang suatu saat akan menghilang dan Christine akan menjadi lumpuh kembali.
–
Saya tak menemukan terlalu banyak hal yang menarik dari film ini. Alur cerita berjalan lambat dan hambar, banyak scene yang sebenarnya tak perlu. Terasa sekali tujuan film ini sebenarnya adalah memancing suasana sendu dan haru dari para penontonnya, namun rupanya tak berhasil dengan baik.
Bahkan tak banyak dialog yang dilakukan, sebagian besar cerita di film ini saya mengerti dari olah gerak para pemainnya saja. Dan parahnya lagi, saya berani menjamin Anda tak akan bisa mengingat nama setengah dari jumlah pemeran utama di film ini begitu film berakhir, sebab memang nyaris tak pernah disebutkan.
Namun saya tetap melihat beberapa hal yang menarik. Lagu-lagu maupun scoring yang menyertainya khas suasana gereja-gereja katolik di Roma, cukup membuat ‘merinding’. Selain itu mata kita akan dimanjakan oleh arsitektur bangunan gereja dan pemandangan lanskap pegunungan Pyrenees yang muncul di salah satu scene. Saya juga suka dengan mode fashion para perawat, balutan busana yang dikenakan sangat keren. Perpaduan warna merah, putih dan hitam dengan hiasan beberapa aksesoris menimbulkan kesan anggun dan manis bagi pemakainya. Tak mengherankan, sebab film ini diproduksi di Perancis, si negara mode.
Selebihnya, jika Anda adalah tipe-tipe penikmat film action dan drama romantis macam twilight, saya tak menyarankan Anda menonton film berdurasi 99 menit ini.
satu lagi nilai positifnya,
selepas menonton Lourdes, saya pun meraba tangan dan kaki,
lalu berucap.. Alhamdulillah!!
^_^, hehe, selalu ada yang bisa disyukuri dalam segala hal yang kita alami
Kalau ak kurang begitu menyukai film yang berlur lambat macam ini pilm bro
tapi lumayan lah buat tambahan referensi aja
hihihii.. komen pertamax.. setujuuu!
itulah kadang alur ceritera kurang
tapi background arsitekturnya okew!
bole di cuba ni..
aku kurang suka nonton
jadi seneng kalo ada yang mau berbagi resensi film kaya gini
tapi kadang ada asyiknya juga sih nonton film beginian. JAdi alternatif tontonan. soalnya udah kebanyakan nonton yang mainstream action, horor dan romatis-romantisan, hitung-hitung nambah referensi film.
resensinya aja udah buat miris..kq harus lumpuh kembali??
selamat tahun baru 2010
willingness to do more!!
kira-kira film ini lebih enak ditonton dibanding twilight ngga kang?
@all: Film ini tujuan utamanya untuk memancing emosi penonton. ingin menjadi kisah yg mengharukan dan menyentuh. tapi percayalah, tak terlalu berhasil!
@mamah Aline: Tergantung penontonnya mah, suka film yang model gimana.
@Julie: Happy new year jugaa! semoga bisa lebih keren di tahun yang baru
makin sadar dengan apa yang kita miliki..
mengucap syukur senantiasa…
makasih
Ini film Eropa yang alurnya lambat dan datar, beda banget dengan film Hollywood yang penuh tegangan dan kejutan. Tapi begitu kita masuk dalam alurnya, ada banyak pesan inspiratif bagi kehidupan. Kasih setia mama demi kesembuhan anaknya, teladan heroik relawati sampai mati (sakit kanker, tapi tetap membantu orang sakit). Saya senang film Amrik. Tapi film begini pun layak ditonton, karena memberi pesan kehidupan. Terima kasih ya untuk review di atas. Saya nonton setelah disemangati oleh review ini.