Pak Kos Tukang Sol
Langkahnya berat tapi pasti, punggungnya mulai membungkuk tapi bahunya tetap setegar dulu. Pak Kosasih (Pak Kos) berjalan dengan mantap di siang panas itu. Di pundaknya menggantung sebuah pikulan dengan dua beban di kedua ujungnya, sambil sesekali teriakannya memecah keangkuhan Jakarta siang itu, “sol sepatuu!”
Sudah sejak pagi saya menunggunya melintas di jalan depan kontrakan. Sepatu yang baru saya beli tiga bulan yang lalu mulai menyingkap perekatnya di bagian tumit dan ujungnya. Tukang sol sepatu selalu menjadi solusi alternatif jika belum ingin membeli sepatu baru.
Tahun 1984 Pak Kos berangkat ke Jakarta dari Garut bersama beberapa orang teman bermodal tekad, semangat, mimpi dan sedikit uang saku. Tanpa ijasah, tanpa keahlian. Sampai di Jakarta, berkenalanlah ia dengan seorang tukang sol sepatu di terminal Cililitan yang menurunkan ilmu sol sepatu kepadanya.
Tahun-tahun pertama ia mendapat angin segar rupanya. Pak Kos mangkal di seputaran terminal Cililitan, di trotoar dekat pos polisi tepatnya. Masyarakat Jakarta kala itu, dengan daya beli yang relatif rendah dan harga yang tinggi membuat mereka berpikir ulang untuk buru-buru membeli barang baru ketika yang lama sedikit rusak. Jika sepatu atau sendal tua sedikit terkelupas lemnya, tukang sol sepatu solusinya!
Namun apa mau dikata, awal tahun 1990-an, Jakarta berubah. Teman-teman senasib mulai berduyun-duyun mengikuti jejaknya ke Jakarta, sialnya sebagian besar dari mereka memilih tukang sol sepatu sebagai profesi juga. Persaingan semakin ketat, napas semakin sesak saja bagi Pak Kos kala itu. Dengan berat hati ditinggalkanlah profesi tukang sol sepatu yang telah menghidupinya selama hampir sepuluh tahun terakhir.
Berjualan gorengan, bubur, ayam goreng, hingga baju anak-anak pun dicoba Pak Kos. Benar-benar malang tak bisa ditolak, segala usaha Pak Kos tak jua menghasilkan keuntungan, padahal kala itu ia telah menikahi seorang wanita betawi dan memiliki 2 orang anak.
Tekad dibulatkan, Pak Kos kembali ke profesi awalnya, tukang sol sepatu. Namun berbeda teknik “pemasarannya” kali ini, ia berjalan kaki berkeliling kampung. Entah keahliannya di bidang itu, atau mungkin memang telah digariskan pintu rejekinya berasal dari sol sepatu, Pak Kos kembali memperoleh kehidupannya, dapur pun kembali mengepul. Dengan sabar, setiap hari dari pagi hingga petang Pak Kos berjalan menyusuri jalan-jalan kampung yang sempit hingga ke bilangan Pasar Minggu, sembari meneriakkan jasanya, hingga kini.
Hari ini, kala usianya telah menginjak separuh abad, Pak Kos masih bertahan. Dengan peluh yang mengalir dari sekujur tubuhnya Pak Kos masih tetap setia menyusuri jalan-jalan Jakarta yang bau dan tak selalu ramah itu. Pulang kampung? Pak Kos mengaku saat ini sangat malas untuk pulang ke Garut, sebab selain biaya yang semakin mahal, saat telah sampai kampung banyak saudara dan familinya yang kerap meminta uang padanya.
Dan saat ini Pak Kos harus bekerja ekstra keras untuk mengumpulkan lebih banyak uang, mengingat beberapa bulan lagi, dua dari enam orang anaknya akan menempuh ujian akhir dan harus melanjutkan ke jenjang berikutnya!
Catatan:
Pak Kos ini sangat pemalu dan anti-eksis. Sampai-sampai saya sangat kesulitan memperoleh fotonya, pandai sekali ia berkelit kesana-kemari. Tak hilang akal, saya potret pakai kamera ponsel saya yang jadul. Yak, dapat! Konsekuensinya sampai saat ini saya sudah jungkir balik berusaha mentransfer foto dari ponsel saya yang super antik itu ke komputer. Dan… belum berhasil sampai sekarang..
![]()
comment
Please Leave a Reply
TrackBack URL :

Pak Kos yang penuh perjuangan murni dan aku terharu membaca kisahnya, ada inspirasi dibalik cerita pak Kos