Buku yang Dibredel, Intelektualitas yang Dicekal

posted by Bakul Rujak on 2010.02.04, under Live & Society, tulisan panjang
04:

BukuBerapa buku yang sempat anda baca? Entah sejak kapan, buku telah menjadi instrumen pembentuk intelektualitas rakyat. Ia juga merupakan salah satu perangkat yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan opini, penentu sikap dan pendewasaan berpikir. Buku juga merupakan karya intelektual para pengarangnya, yang telah melewati masa riset dan uji kelayakan yang tak main-main. Apapun yang terkandung di dalamnya juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi bahan pengaya berpikir kita.

Kejaksaan membredel buku
Tertanggal 3 Desember 2009, Kejagung secara resmi menyatakan pencekalan terhadap 5 judul buku yang beredar. Kelima buku tersebut adalah Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa, Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri, karya Cocratez Sofyan Yoman, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan, karya Darmawan MM, dan Mengungkap Misteri Keberagaman Agama, karangan Drs H Syahrudin Ahmad.

Pola yang masih sama seperti yang terjadi pada era-era sebelumnya. Buku-buku yang dibredel sebagian besar masih berkutat pada tema nasionalisme dan ideologi.

Mengapa dibredel ?
Mari kita ulas, apa saja kira-kira yang melatar belakangi pembredelan buku-buku ini. Buku karya Cocratez Sofyan Yoman, Darmawan MM dan Drs H Syahrudin Ahmad berbicara seputar keagamaan. Kontroversi dan konspirasi keyakinan nampak dengan jelas pada judulnya. Sementara sisanya, John Rossa, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan menulis tentang kontroversi seputar gerakan 30 September dan yang terjadi setelahnya.

Kejagung hanya menyebutkan buku-buku tersebut dicekal karena dapat mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UUD 1945, dan Pancasila. Titik. Tak ada penjabaran lebih lanjut apa dan bagaimana bisa menyebabkan ketertiban menjadi terganggu oleh karena orang membaca buku. Sehingga (mohon maaf) untuk kasus ini saya lebih menghargai MUI yang melakukan himbauan untuk tidak melakukan ini dan itu ataupun menonton film ini dan itu. Setidaknya masih ada penjelasan di belakangnya.

Kebenaran versi siapa ?
Lain lagi dengan kisah kelima buku yang dicekal secara resmi oleh Kejagung, adalah Boni Hargens seorang dosen Politik UI sekaligus praktisi politik yang menulis buku berjudul 10 Dosa Politik SBY-JK. Buku Boni memang tak secara formal dicekal oleh siapapun, namun secara ‘ajaib’ menghilang dari toko-toko buku. Ada apa?

Kembali, topik seputar kontroversi komunisme di Indonesia dan keberagaman agama adalah topik yang paling sensitif dan rawan, saya mengakuinya. Saya sendiri juga selalu antusias terhadap buku yang mengulas hal-hal tersebut di atas. Terutama mengenai seputar gerakan 30 September 1965, apa dan bagaimananya. Mengapa? Tak perlu disangsikan bahwa sejak masih duduk di sekolah dasar hingga entah kapan, buku-buku pelajaran sejarah menuliskan suatu fakta tentang peristiwa penghianatan partai komunis Indonesia dari satu sudut pandang saja. Ya, hanya dari versi pemerintah (pada masa itu).

Kemudian pada masa peralihan ke era reformasi, kaum intelektual semakin berani bersuara, makin banyak versi yang beredar. Multi-versi seperti itu menurut saya sangat sehat sebab orang semakin bebas memutuskan mana yang menurut mereka paling layak dibenarkan.

Jadi jika dimasa kini masih terjadi pencekalan terhadap karya-karya intelektual yang didasari penelitian dan fakta yang teruji, dan seakan masih tetap saja menjejalkan kebenaran yang dipaksakan, layaklah kiranya kita bertanya. Kebenaran versi siapa ?

Mari berpikir
Tak ada orang yang bertindak anarkis dan membunuh setelah membaca sebuah buku. Semua buku yang dikonsumsi adalah sumber informasi yang memperkaya. Memperkaya persepsi, sudut pandang, sekaligus menjadi bahan pembelajaran untuk menerima berbagai versi dari sebuah fakta, sebab memang itulah esensi dari sistem demokrasi. Banyak pendapat dan sudut pandang adalah pupuk dari demokrasi yang sehat.

Gambar: www.wartakota.co.id

Pranala:
http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06/pembredelan-akun-cermin-admin-yang-tidak-demokratiskah/
http://kickandy.com/theshow/2010/01/29/1780/1/1/1/MENGAPA-MEREKA-DIBUNGKAM-
http://indonesiabuku.com/?p=3210
http://oase.kompas.com/read/2009/12/24/2158302/Tentang.Pembredelan

comment

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

Seharusnay yang ditekankan kepada kita adalah budaya membaca dan menelaah semua referensi yang ada kemudian mengapresiasi mana yang benar dana salah. Pemaksaan hanya akan mengakibatkan efek balik.

Kalau sempat, ditunggu untuk ikutan resik2 di biru hati biru bumi | biru selalu

alamendah ( February 4, 2010 at 11:51 am )

Tapi nurut ane seh gan, kalo negara beragama (bukan negara komunis), sebaiknya buku-buku yang mengopinikan tentang komunisme memang harusnya dilarang beredar secara luas, mungkin untuk kalangan tertentu itupun untuk semacam studi saja, karena kalo semakin dibiarkan apalagi sampe ke kalangan orang-orang yang belum bisa berpikir jernih, kebayang pan efeknya bisa kemana-mana, apalagi kalo tuh orang punya pengaruh, semakin banyak kelompok-kelompok yang bisa mengancam keamanan…

just my opinion, karena jangan salah, buku juga bisa berdampak luar biasa, banyak orang-orang yang berhasil berangkat dari buku, bukan cuman sekolah, ane merasakan besarnya pengaruh buku karena ane juga buku lover, terutama tentang dunia intelijen, kapan2 deh ane review beberapa nyang ane punya..

he..he..cuman berpendapat, boleh kan?

Oyen ( February 5, 2010 at 7:27 am )

Betul.
Kalau disangka pembaca bakal berbuat ngawur setelah membaca, berarti itu meng-underestimate mereka. Buku adalah wacana. Membaca buku artinya memperkaya hidup dengan pengetahuan-pengetahuan. Rasanya sangat tolol sekali kalau belum-belum sudah ketakutan duluan lalu diam-diam, bukunya diborong dari rak-rak buku…
Tapi, kalau dapet royalti sih, masih mending lah, daripada nggak dapet sama sekali… :)

Lala ( February 5, 2010 at 10:29 am )

bagaimana budaya baca dan tulis bisa berkembang di negara ini klo pemerintahnya sendiri yang membatasinya..
ehhhmmmm..
capek deh

gusthy ( February 7, 2010 at 1:46 pm )

Ilmu yang luas yang harus kita telaah dan kita cari arti dan maknanya seharusnya apapun buku itu tetap ada, masalah kebenarannya bisa dicari dan ditemukan dengan penelaahan

anny ( February 8, 2010 at 2:03 pm )

Please Leave a Reply

TrackBack URL :

pagetop