Di New York terdapat seorang pengusaha sukses bernama Charles Hawkins (Pierce Brosnan). Namun sayang kesuksesan karirnya tak diikuti dengan kesuksesan dalam membina keluarga. Ia harus bercerai dengan istrinya setelah memiliki 3 orang anak, Michael, Tyler (Robert Pattinson) dan Caroline (Ruby Jerins).
Michael harus mengakhiri hidupnya secara tragis dengan cara gantung diri, tepat di hari pertama ia bekerja di perusahaan ayahnya. Dengan sendirinya harapan Charles hanya pada Tyler — anak laki-laki terakhir yang dimilikinya — untuk mewarisi perusahaan. Namun lagi-lagi Charles harus menelan kekecewaan karena Tyler Hawkins justru menjadi anak muda yang sulit diatur dan cenderung memberontak. Sebagian besar disebabkan oleh kematian kakaknya, dan juga karena Tyler merasa sang ayah tak lagi menyayangi adiknya yang juga anak perempuan Charles, Caroline.
Hingga pada suatu hari Tyler bertemu dengan Ally Craig (Emilie de Ravin), cewek cantik di kampus yang semakin hari membuat Tyler menemukan hidupnya kembali. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa menerima ayahnya dan keadaan menjadi semakin baik. Namun justru di saat-saat segala sesuatu menjadi nyaris sempurna, gelombang kesedihan yang hebat harus datang menerpa.
Duel aktor britis
Beberapa waktu yang lalu ketika saya iseng menggali mengenai film ini di internet, 2 kata yang paling berkaitan dengannya adalah sad dan cry. Ada apa ?
Oh, rupanya (diluar dugaan saya) Robert Pattinson bermain dengan brilian. Aktor Inggris yang konon sanggup meluluhkan hati kaum hawa ini cukup sukses meremas-remas emosi penonton. Setiap detail akting dan pembawaannya yang kalem, tenang dan meledak di beberapa bagian membuat 2 kata most related di atas menjadi masuk akal bagi saya.
Alur cerita sengaja dibuat menyentuh dan berjalan lambat. Membuat para penikmatnya memiliki cukup waktu untuk mencerna cerita dan pesan yang disampaikan.
Setelah Pattinson berakting dengan piawai, Brosnan melangkapinya. Kedua aktor britis ini mampu membuat saya benar-benar menikmati alur cerita drama kali ini (meskipun tak sampai menangis tentu saja).
Sebuah variasi cerita dan hubungan antar keluarga yang unik. Saya rekomendasikan untuk Anda nikmati. Tapi ingat, ini sama sekali bukan film untuk semua umur, jadi pastikan putra-putri Anda tak turut menontonnya.
Tadinya saya pikir si robert (berasa kenal) akan kesulitan melepaskan sosok vampire yang sudah melekat kuat di karakternya. Tapi ternyata di film ini dia lumayan sukses.
wah kapan ya uni sempet nonton film ini, btw makasi kak atas rekomendasinya
Ide dasar sebuah film biasanya tidak saja hanya dari rekaan sebuah pristiwa namun bisa juga diambil dari kehidupan nyata seseorang dan biasanya ditambah dengan imajinasi dari sang penulis.Semoga bermanfaat film tersebut . Salam kenal dari kami di tunggu kedatngannya di http://rumahsehatafiat.wordpress.com/