Judul Buku : Oeroeg
Pengarang : Hella S. Haasse
Penerjemah: Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2009 (cetakan pertama dalam bhs. Indonesia)
Tebal Buku : 144 halaman
Harga di Gramedia : Rp 33,000.00
“Macan kumbang berbeda dari monyet,” kata Gerard setelah beberapa saat, “tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau benar.” (hal. 64)
Tokoh “aku” adalah anak seorang Administrateur sebuah perkebunan, seorang berdarah Eropa. Sedangkan Oeroeg seorang bocah pribumi anak mandor perkebunan milik ayah si “aku”. Mereka berdua menjadi akrab dan tak bisa terpisah secara strukstural. Lahir hampir bersamaan dengan lingkungan yang berdekatan, ayah dan ibu si aku yang orang Eropa menjadi sangat sibuk sehingga hanya Oeroeg dan keluarganya lah tempat si aku berkeluh kesah. Rumah yang sederhana, perabotan yang didominasi kayu dan lantai tanah membuat si aku tumbuh menjadi seorang Belanda berjiwa pribumi. Oroeg pun mahir berbahasa Belanda karena setiap saat dilewatkan bersama si aku. Semua nyaris berjalan dengan indah dan sempurna.
Hingga pada suatu malam ayah Oeroeg harus tewas demi menyelam menyelamatkan si aku yang nyaris tenggelam. Rasa bersalah dan hutang moral membuat ayah si aku menampung dan menyekolahkan Oeroeg hingga tingkat MULO.
Begitulah, seakan tak mungkin memisahkan si aku dengan Oeroeg. Bahkan terhadap apapun yang direncakan ayah si aku terhadap anaknya, si aku selalu saja membawa-bawa Oeroeg ikut serta. Hingga membuat ayah si aku jengkel. Jelas menurut norma yang berlaku pada saat itu, strata antara bangsa Eropa dan penduduk pribumi jelas berbeda. Tak lazim rasanya jika seorang pribumi berkawan terlalu dekat dan intim dengan bangsa Belanda.
Keputusan telah dibuat, si aku akan dikirim bersekolah ke negara asalnya, Belanda. Sedangkan Oeroeg harus menjalani hari-harinya di Indonesia. Waktu berlalu dan pada suatu hari dengan kondisi yang sangat berbeda mereka bertemu kembali. Namun ada yang berubah. apa ?
Setengah kisah nyata
Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1948 di Belanda, dan pertama kali diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia justru baru pada tahun 2009. Hella S. Haase sang penulis berusia 30 tahun kala menulis buku ini, dan Oeroeg adalah karya pertamanya. Menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh ‘aku’ terkesan begitu nyata dan menyatu dengan suasana pribumi. Hal tersebut rupanya disebabkan oleh Hella telah tinggal di Batavia (Jakarta) dari lahir hingga remaja. Cerita ini pun konon adalah olahan dari peengalaman pribadinya sendiri dengan banyak penambahan.
Menyoroti pola pergaulan antara para anak pribumi dengan bangsa Belanda yang sangat timpang. Oeroeg berusaha menunjukkan bahwa apapun yang terjadi di dunia luar, anak-anak tetaplah anak-anak. Tak ada batasan pergaulan bagi mereka. Jahat sekali orang-orang yang menjejalkan pemahaman bahwa satu kaum tak pantas bergaul dengan kaum yang lain dan seterusnya.
Kisah perjalanan tokoh ‘aku’ dapat dijadikan bahan permenungan bagi kita semua, bahwa tak benar karena perbedaan strata sosial membuat lingkungan pergaulan umat manusia menjadi terbatas. Sangat inspiratif.
sepertinya pernah di film kan deh!
tapi sepertinya..
asyik kalo anda dalam soal kupas mengupas
(maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
keknya memberikan pelajara berharga buat kita semua, bahwa starata sosial seharusnya bukan menjadi jurang pemisah namun seharusnya mampu membuat kehidupan saling bersinergi dengan indah
Ihhh keren banget Oeroeg nya murmer lg harganya
Intisari ceritanya mampu membuat kita berada dalam suasana itu
hitung duit dulu…masih cukup ngak yaa buat beli..
oh cukup2, ntar mau beli aaah
Mantap. Jadi review-er sejati ya Bro..
Jadi berhasrat untuk membaca buku ini
setelah bertemu kembali apa yang berubah kak? hehe, jadi pengen baca buku oeroeg ^_^
penyelesaian certa kok gak happy ending gitu cu. nenek masih mencari lanjutannya. kasihan nasib anak negri tuh.