Ah, hari ini sedang ingin mendongeng.
Syahdan di negara Alengka, tanah para rakshasa, Rahwana yang agung berkuasa sebagai raja. Sifat serakah dan lalim membuatnya tergoda untuk menculik Sita, istri seorang ksatria sakti bernama Rama.
Keinginan hampir terwujud, Sita telah berada di Alengka. Rahwana sendiri yang menculiknya dari sisi Rama, suaminya. Terlindung diantara megahnya istana Alengka, Sita menderita siang dan malam, tubuh menjadi semakin kurus, kemawahan dan kejayaan yang dijanjikan Rahwana tak membuat luruh cintanya kepada Sri Rama.
Sementara di seberang samudera, Rama dan Laksmana, adiknya, telah mendapat bala bantuan dari kaum wanara yang dipimpin oleh Sugriwa. Mereka menyusun strategi guna menggempur Alengka dan menjemput kembali Sita.
Di sisi kaum rakshasa, Rahwana memiliki dua saudara lelaki bernama Wibisana dan Kumbakarna. Konon mereka bertiga (Rahwana, Wibisana dan Kumbakarna) sangat taat menmuja dewa Brahma. Hingga pada suatu saat Brahma turun ke bumi menemui ketiga bersaudara wangsa rakshasa tersebut. Rahwana dan Kumbakarna meminta kesaktian dan kemampuan untuk menandingin para dewata. Namun Wibisana justru memohon diberikan kebijaksanaan.
Dalam menyikapi pertentangan antara Rahwana dan Rama, baik Wibisana maupun Kumbakarna sadar betul bahwa saudara mereka berada di pihak yang salah. Wibisana berusaha sekuat tenaga membujuk Rahwana untuk mengembalikan Sita dan berdamai dengan Rama. Tak terima ditentang oleh adiknya sendiri, Rahwana mengusir Wibisana.
Berbeda dengan Wibisana, Kumbakarna lebih mencintai tanah airnya. Dia tahu pasti Rahwana salah dan jahat, namun rupanya rasa cinta dan pengabdian terhadap bangsa dan negara mengalahkan bisikan hati nuraninya.
Demikian, pada akhirnya Wibisana menyeberang ke pihak Rama, yang walaupun dengan bergitu berarti ia harus berkhianat pada bangsa dan rajanya, namun Wibisana merasa tenang batinnya sebab telah berada di pihak yang benar.
Sesaat sebelum pertempuran meletus, Wibisana meminta ijin kepada Rama untuk menemui Kumbakarna, kakak yang sangat dicintainya. Wibisana memohon ampun dan maklum kepada kakaknya bahwa ia dengan berat hati harus berkhianat kepada bangsanya dan menyeberang ke pihak musuh.
Kumbakarna sangat maklum dengan keadaan adiknya dan mengatakan bahwa dengan berat hati juga ia harus membela tanah air dan bangsanya hingga titik darah penghabisan, meskipun tahu bahwa rajanya berada di pihak yang salah.
Akhirnya perang besar meletus antara kubu Rama dan tentara Alengka. Rahwana dan Kumabakarna pada akhirnya bisa ditumbangkan oleh panah-panah Rama dan Laksmana.
Sepeninggal kedua kakaknya, Wibisana dinobatkan menjadi raja Alengka. Ia memimpin dengan bijaksana dan menjadikan Alengka negara yang selalu mengamalkan dharma. Wibisana juga merawat dan menghormati janda Rahwana yang bernama Mandodari, dan hidup tentram bersama permaisurinya, Sarma.
Setelah memerintah cukup lama, Wibisana menyerahkan kepemimpinan Alengka kepada putranya Bisawarna dan ia sendiri memutuskan untuk menjadi pertapa (resi) di gunung Cindramanik.
Moral cerita, Wibisana bijaksana dan selalu mengikuti hati nuraninya menuju kebenaran. Kumbakarna adalah patriot sejati, rasa cinta tanah air dan pengabdian pada negara membuatnya rela mengabaikan hati nurani dan memilih menerima panggilan negara, meskipun ia tahu pasti tak ada peluang mengalahkan ksatria sakti bernama Rama itu. Ingin menjadi seperti Wibisana atau Kumbakarna, silakan Anda putuskan sendiri.
Walau bertentangan dengan hati nurani jika hal itu adalah untuk kebenaran sangat dianjurkan untuk ikut akan kebenaran itu ya, dan aku setuju banget sm prinsip Kumbakarna, nice story bro
untuk jaman sekarang susah siapa yang bisa seperti itu … terlalu banyak yang pandai berbicara
ringkasan cerita dan pesan moralnya apik bener, bos
ah jadi kangen sama cerita mahabharata
dua perilaku yang sama-sama baik, namun tentunya ada konskwensi dari masing-masing perilaku dua orang tadi.. dan kesemuanya memerlukan proses pemikiran yang berlatar belakang yang berbeda juga… hmmm nice story.. makasih.. sukses dan salam kenal mas