warung desa jl sabang, menunya tak semanis suasananya
mendengar kata desa, kaum urban jakarta pasti membayangkan sesuatu alami yang samar-samar memunculkan kenangan masa bocah yang indah. sehingga frasa “desa” menjadi alat jualan yang menjanjikan.
di jakarta, setahuku ada dua warung makan yang memakai kata desa. bumbu desa di sekitaran blok s dan warung desa di jalan sabang. minggu (21/09/2008) kami berlima buka bersama di istiqlal. lalu dilanjutkan makan malam ke daerah sabang, jakarta pusat.
ketemulah papan nama bertuliskan “warung “desa” dengan huruf warna hitam dan aksen merah. tampak luar menarik. interior yang cozy dan bersih. namun agak shock juga ketika masnya yang berseragam hitam-hitam menyodorkan menu. ada menu taiwan, china arab, eropa dan sunda.
lalu kami memesan saja ayam goreng, capcay goreng seafood, cahkangkung, sapi lada apa gitu. rupanya perlu sesabar budha untuk bisa mencicipi makanan yang sudah di pesan itu. memang pelangganya banyak. suasanya ckup riuh. sayang waktu mau memesan bebek ijo, menu itu sudah habis.
kekecewaan itu masih terus berlanjut. capcay goreng seafood yang aku pesan rasanya sangat di bawah standar. entah apakah chef nya memasaknya sambil melamunkan yang iya-iya. hanya rasa asin yang mendominasi. kata teman saya, “rasane” ora karu-karuan.
memang sih, kalau melihat harganya cukup murah, rp 17 500. namun bukan berarti harus dengan pelayanan lama dan memasak asal-asalan kan. yang lebih beruntung teman yang memesan ayam goreng. rasanya ayamnya cukup standar, juga sambal, lalap dan tambangan terong ungu yang di goreng sampai layu.
masih penasaran, cobalah makan di sana sekali-sekali. rasakan suasana yang beda banget. itung-itung latihan melatih kesabaran. dan tolong ceritakan pengalaman kalian kepada saya.
begitu ingin cepat pergi, mau motretpun ogah-ogahan. jadi maaf saja, tak ada foto pada postingan ini.
comment
Please Leave a Reply
TrackBack URL :

wah warungnya kena embargo
mampus dah…