Satu Kata Buat Bokap …

In Live & Society, masa kecil on 4:37 am


Saya jadi ingat ketika kecil, sedang asyiknya menonton Si Unyil di TVRI, kemudian bapak datang mematikan televisi dan menyuruh saya membantunya membersihkan got depan rumah. Tak terbayang betapa kesalnya. Namun sekesa-kesalnya saya pada saat itu ekspresi terekstrim yang saya tunjukkan adalah cemberut dan bekerja dengan asal-asalan. Tapi seingat saya, tak lebih dari satu jam berselang, saya sudah benar-benar lupa semua kekesalan itu. Betapa tidak, kala itu satu tatapan tajam bapak seakan mampu membuat saya ciut!

Well, mari kita tinggalkan kenangan masa kecil saya itu. Bumi berputar dan masa berganti. Arus informasi berlalu lalang tanpa batas dan hambatan. Saya heran dan tak habis pikir dengan segala regulasi yang diterapkan sang penguasa. Kuno sekali menurut saya, pembatasan akses. Konten yang masuk disaring habis-habisan, konten yang tak lulus sensor akan terkena cekal.

Saya kehabisan kata untuk mengatakan ini. Arus informasi itu seperti air, ditutup di satu pintu maka ia akan mencari jalan lain, tetap akan mengalir, tak terbendung. Memasang filter di satu pintu saja mungkin saja sedikit mengurangi efek negatif. Tapi ingat, konsumen juga belajar. Orang berkata makin dipersulit ia mendapatkan sesuatu, bukannya mundur, justru akan berusaha menemukan cara-cara yang lain.

Anak-anak awal masa remaja adalah masa-masa penuh perjuangan dan pilihan. Silakan cari dan baca literatur dan rujukan mengenai hal ini, berserakan dengan bebas di internet. Mari lihat sekeliling, banyak siswa berprestasi yang dengan memanfaatkan media dan segala teknologi bisa mengangkat harkat diri sendiri hingga bangsanya. Namun mari lihat sisanya.

Arus masuk boleh di blokade dengan ketat, namun bagaimana membendung arus keluar? Semua orang (dianggap) boleh berekspresi dengan bebas kini, tak ada batasan sama sekali di media dewa bernama internet. Akibatnya, lihat saja gambar-gambar yang saya sertakan.

Jika benar tak ada filter di media, maka bagaimana membendung arus kebebasan ‘liar’ itu? Pendapat saya, tindakan preventif.

Tindakan preventif, sebelum anak mengenal segala bentuk penyaluran ekspresi di internet, tanamkan dulu nilai-nilai moral yang memadai. Agama dan etika sopan-santun. Tak mudah, memang.

Lembaga-lembaga pendidikan atau organisasi yang merasa bertanggung jawab memperkenalkan teknologi kepada siswa juga harus berimbang. Mengajarkan menggunakan internet, memperkenalkan dan menunjukkan segala manfaat twitter, facebook, milis tanpa diimbangi pendidikan moral dan tata krama yang memadai adalah omong kosong.

Andika Kurniantoro,
Blogger paruh waktu. Karyawan di sebuah perusahaan swasta Indonesia. Lajang. Gemar menonton film dan membaca buku sejarah.

Related posts ...

    Comments ...

  1. warm | 18 June 2010 | 06.57

    anak2 yang mengumpat Bokapnya edan-edanan itu
    bener2 perlu di ajarin sopan santun lagi
    miris bener euy
    :|

  2. wongkamfung | 18 June 2010 | 07.00

    bukannya menutup pintu masuk. lebih bijak jika mengajari anak bagaimana menghadapi luapan informasi.
    salam kenal mas

  3. GaL | 18 June 2010 | 07.22

    Wohooooo
    *terharuu pengen pulangg ke yojo meluk bapak!!

  4. dian widiyanarko | 18 June 2010 | 07.35

    saya juga sering dulu liat tv dilarang disuruh bantuin di sumur atau cabut rumput..

    solusinya.. liat tv ke tetangga :)

  5. farus | 18 June 2010 | 10.12

    aku juga pengalam waktu kecil malah sering bantah kalo disuruh bantuin…salam sobat…

  6. dobleh yang malang | 18 June 2010 | 11.28

    waw menarik artikelnya
    salam hangat dari blue
    d

  7. Ramdhan | 18 June 2010 | 11.43

    jadi inget masa kecil hehe.. salam kenal aja ttuk semua

  8. Cloud | 18 June 2010 | 12.24

    wah parah klo anak anak pada kayak gitu ma ortunya..

    btw keren postingannya bermutu..

  9. gusthy | 20 June 2010 | 07.08

    waduh parah juga ya…

  10. bukan detikcom | 20 June 2010 | 23.48

    boleh juga di share ID si anjing-anjingan itu sob…

  11. AngelNdutz | 21 June 2010 | 08.28

    hmm,,,salah didik ortu juga pengaruh lho

  12. nandrito | 24 June 2010 | 03.30

    anak jaman sekarang memang sangat tidak ingin diatur, dan reaksinya sangat berlebihan. tapi mungkin sejalan dengan waktu mereka akan mengetahui bahwa perbuatan mereka itu salah. seperti pengalaman saya dulu juga suka kesal atau marah kalau di larang-larang (walaupun reaksinya gag seperti itu) tapi saat ini saya menyadari dan makin menyayangi kedua orang tua..

    yang ga kalah penting anak2 itu harus diajari kalau mau berekspresi harus melihat tempat dan cara berekspresi..
    paling sebel juga liat orang2 maki2 dengan kata2 kotor di twitter ataupun ruang publik yang lain..

    baru maen lagi nih ke blog si agan, dah gag gaya twitter lagi yah :P

  13. nenekmu | 23 July 2010 | 08.28

    bagaimana reaksi sibakul rujak kalau anak kesayangannya nanti memaki ‘ uanjing lu pak ‘ KEPEDIHAN hati yang seperti apa. yang pak tua bakul rujak rasakan .[ siapa menanam dialah yang akan panen ],

  14. cheap beats by dre singapore | 14 January 2012 | 08.47

    When I look over a sites, I hope that it doesnt disappoint me as much as this one. I mean, I’m sure it’s my choice to read, however I really assumed you’d have some thing cool to say. All of I see is usually a couple of whining about something you can fix if you ever werent too busy looking for focus.

It is your turn now!