Judul Buku : Satu Cinta Sebait Syair Kebenaran
Pengarang : Connie Constantina
Penerbit : Diksi
Terbit : Juli 2010
Tebal Buku : 128 halaman
Harga di Gramedia : Rp 25.000.00
Pada bab awal buku ini, Connie Constantina menceritakan mengenai masa kanak-kanaknya di Manado. Tentang bagaimana figur ayah yang hebat dan teguh harus direnggut oleh tangan-tangan kapitalis dan mendekam di penjara atas perbuatan yang tak pernah dilakukan.
Dilanjutkan dengan fase kedua dimana Connie harus berjuang mati-matian untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Mulai dari berjualan sayuran, mengangkat batu di kali hingga menyanyi di pub. Semua dilakukan semata karena di dalam keluarga hanya dia yang memiliki keteguhan hati paling kuat. Semua dilalui Connie dengan sabar hingga pada akhirnya nasib mempertemukan dia dengan gemerlap Jakarta dan perlahan menjadi penyanyi profesional dan meraup banyak uang.
Sampai pada fase ini semua berjalan seperti halnya yang lazim terjadi. Perjuangan keras dan panjang hingga berbuah kesuksesan. Tapi justru disinilah kisah baru dimulai. Tercatat pada tahun 1994 untuk pertama kalinya Connie mengalami sebuah perjumpaan dengan pribadi yang selama ini hanya dilihatnya di patung dan lukisan-lukisan di gereja. Ya, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih datang kepadanya. Satu hal yang ditekankan pada perjumpaan tersebut adalah tuntutan Sang Juru Selamat untuk tidak menyekutukan Tuhan. Bahwa Tuhan itu hanya satu.
Selebihnya, Connie diminta untuk mengabarkan perjumpaan dan ajaran yang diterimanya kepadanya semua orang. Peristiwa sakral dan mistis tersebut tak hanya terjadi sekali dua kali saja. Hingga tahun 2008, terhitung telah 4 kali Yesus mendatanginya untuk menyampaikan perihal yang serupa.
Kontroversi ?
Penuturan Connie Constantina ini bukan fiksi, demikian yang dituturkannya. Pertemuan dengan Isa Al-Masih, ajaran yang diterimanya langsung dari Sang Juru Selamat, hingga dogma-dogma ke-Kristenan yang harus didobraknya. Semua dilaluinya bukan tanpa penghalang. Sempat pula kawan-kawan dekat dan keluarganya menganggapnya gila.
Buku ini berhiaskan ayat-ayat suci Al-Kitab dan Al-Qur’an. Semua bermuara pada satu hal, tentang ke-Maha Esaan Tuhan. Ini bukan novel, melainkan sebuah ajaran. Bukan hal yang baru tapi penyegar, seakan ingin mencoba meluruskan sesuatu yang telah lama bengkok dan menyimpang. Namun tetap, Connie masih menjadi seorang kristiani yang taat (setidaknya pada batas-batas tertentu, menurut penuturannya pada buku setebal 128 ini).
Menurut saya tak ada muatan kontroversi di sini. Semua murni penturan seorang sumber berdasar pada pengalam pribadi. Para pembaca tentu saja bisa memilah dan memilih sendiri, kesimpulan apa yang bisa ditarik dari serangkaian peristiwa gaib yang dialami penulis.
Dan tentu saja tak ada ending di sini, seperti yang saya sampaikan di awal bahwa buku ini bukan novel yang harus memiliki klimaks dan antiklimaks. Buku ini memiliki awalan dan penutup yang diserahkan kembali kepada para pembaca. Akhirnya, mari kita sepakat bahwa kebenaran hanya Tuhan yang mengetahui. Kita manusia hanya berusaha mendekat hingga sedekat mungkin kepada-Nya.
Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya
Hehehe… setiap kepala yang berbeda, berbeda pula persepsinya tentang buku ini. Chic menangkap kesan yang beda, dan saya pun punya kesan yang berbeda pula.
Tulisan yang bagus, Dhik. Jadi pengen nulis hal yg sama di blog…. hihi..
wah, bener2 sebuah perjuangan!
Diskusi Internet Sehat yu
http://cucuhermaone.blogdetik.com/umum/membangun-peradaban-indonesia-dengan-internet-sehat/
Aku cuma tertarik atas perjuangan dia dari pengangkat batu dikali sampai dia jadi penyanyi
jadi penasaran sama buku ini,
dan ah ya
tumben ga apdet blog lg mas ?
Next time I read through a blogs, I am hoping that it doesnt disappoint me as much as this one. I mean, I know it was eventually my choice to read, but I really assumed you’d have some thing helpful to share. All I see is actually a couple of whining about something which you could resolve if you ever werent as well busy looking for consideration.
Next time I read a sites, I hope that it doesnt disappoint me as much as this one. I’m talking about, I’m sure it was my choice to read, but I definitely thought you’ll have something nice to share. Many I learn is a couple of whining about something which you may fix if you ever werent too busy looking for attention.