Mati, Bertahun yang Lalu

In buku, review on 9:28 am

Judul Buku : Mati, Bertahun yang Lalu
Pengarang : Soe Tjen Marching
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Oktober 2010
Tebal Buku : 153 halaman
Harga di Gramedia : Rp 40.000,00

Di tengah tumpukan pekerjaan yang sedang kugeluti, aku mati. Rohku terangkat dari setiap lubang poriku. Tapi anehnya tubuhku tak lantas membusuk. Energi hidupku masih begitu besar sehingga memungkinkanku untuk beraktifitas kembali seperti biasa. Ya, tapi aku sudah mati.

Tak mudah baginya untuk bergaul dengan manusia-manusia “hidup” sedangkan dia sendiri sudah menjadi mayat. Mayat yang bisa bergerak, berjalan, makan dan minum seperti manusia hidup. Dengan kondisi tak bernyawa, ia harus menghadapi ibu, kakak dan keponakannya. Tak lupa ia harus sering-sering berkedip, menggerakkan kaki dan mengembang-kempiskan dada agar semua orang menyangka bahwa ia masih hidup. Bukankah itu yang biasa dilakukan orang hidup?

Unik, rupanya permasalahan dalam hidup yang lazim terjadi dan menimpa manusia hidup yang “normal” akan memunculkan persepsi yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang orang mati. Mengapa manusia harus mati-matian mempertahankan hidup? Lalu ia teringat proses kematian ayahnya yang terlihat berat dan menyakitkan. Ia melihat betapa manusia rela menukar nyaris segalanya agar tetap hidup dan menunda kematian. Tentu saja tak semua pertanyaan terjawab, ada hal-hal yang tetap mengambang. Belum ketemu jawabannya, ataukah memang sengaja dibuat tanpa penjelasan?

Novel pendek ini tak sama dengan novel fiksi yang lain. Jika dengan membaca novel Anda memperoleh jawaban dan kepuasan, maka setelah membaca halaman terakhir novel setebal 153 halaman ini Anda justru akan mendapati pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin belum pernah terpikirkan. Mengapa begini, mengapa harus begitu dan seterusnya. Penulis jelas sekali mengajak pembaca untuk berpikir. Alur bahasa dan ceritanya menuntun, menuntun dari satu permasalahan ke pertanyaan berikutnya. Dan tak selalu ada jawaban. Pembaca boleh merenungkan sendiri.

Sindiran-sindiran terhadap hidup dan manusia terasa begitu satir dan dalam. Kita akan dibuat tertawa sambil berpikir dan merasa malu. Novel yang layak dibaca.

Andika Kurniantoro,
Blogger paruh waktu. Karyawan di sebuah perusahaan swasta Indonesia. Lajang. Gemar menonton film dan membaca buku sejarah.

Related posts ...

    Comments ...

  1. alamendah | 7 December 2010 | 15.12

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Keknya buku ini asyik banget buat dikoleksi dan dibaca

  2. business | 2 April 2011 | 08.15

    Pendahuluan.Novel Keluwarga Pejuwang merupakan salah satu dari karya-karya sastrawan ternama Jawa Timur Suparto Brata yang baru ditulis pada tahun 2001 dan pernah dimuat dalam majalah Panjebar Semangat No. Dalam novel itu Suparto Brata menampilkan tokoh-tokoh wanita yang ulet berwawasan luas.

  3. corporation offshore | 7 April 2011 | 18.48

    ……………………….Dalam Perjanjian Lama ada tiga jabatan yang diberikan oleh Tuhan melalui pengurapan kepada orang yang dipilih-Nya di Israel untuk mengatur bangsa itu. Walaupun Alkitab tidak menulis secara eksplisit ketiga jabatan ini secara bersamaan tetapi memang dalam narasi Perjanjian Lama kita akan menemukan tiga jabatan itu saja yang representatif. Hakim-hakim berfungsi seperti seorang nabi maka tidak ada jabatan hakim karena seperti nabi…..Nabi adalah orang yang dipercayakan Tuhan untuk membawa firman-Nya.

  4. Michael Carabini | 30 April 2011 | 03.15

    Pendahuluan.Novel Keluwarga Pejuwang merupakan salah satu dari karya-karya sastrawan ternama Jawa Timur Suparto Brata yang baru ditulis pada tahun 2001 dan pernah dimuat dalam majalah Panjebar Semangat No. Dalam novel itu Suparto Brata menampilkan tokoh-tokoh wanita yang ulet berwawasan luas.

  5. offshore company | 8 May 2011 | 06.46

    ……………………….Dalam Perjanjian Lama ada tiga jabatan yang diberikan oleh Tuhan melalui pengurapan kepada orang yang dipilih-Nya di Israel untuk mengatur bangsa itu. Walaupun Alkitab tidak menulis secara eksplisit ketiga jabatan ini secara bersamaan tetapi memang dalam narasi Perjanjian Lama kita akan menemukan tiga jabatan itu saja yang representatif. Hakim-hakim berfungsi seperti seorang nabi maka tidak ada jabatan hakim karena seperti nabi…..Nabi adalah orang yang dipercayakan Tuhan untuk membawa firman-Nya.

It is your turn now!