Judul Buku : Habibie & Ainun
Pengarang : Bacharuddin Jusuf Habibie
Penerbit : PT. THC Mandiri
Terbit : November 2010
Tebal Buku : 323 halaman
Harga di Gramedia : Rp 80.000,00
Siapa yang menyangka, pertemuan kecil pada malam takbiran hari Rabu tanggal 7 Maret 1962 menyemaikan benih cinta yang tak terduga. Bacharuddin Jusuf Habibie bersitatap dengan Ainun. Di ruang makan keluarga Besari, getar-getar asmara mulai menerpa dua insan muda itu. Bagai gayung bersambut, rasa suka berkembang menjadi dasar berdirinya sebuah rumah tangga baru. Rumah tangga seorang ilmuwan muda dengan kehidupan danpenghasilan yang pas-pasan.
Hidup di Jerman sebagai asisten seorang ilmuwan dan mengajar di Institut Konstruksi Ringan di Aachen, keluarga kecil Habibie harus hidup prihatin. Keadaan menjadi makin berat ketika Ainun mengandung. Ruddy (panggilan BJ. habibie) harus mencari pekerjaan tambahan di sebuah industri kereta api guna menutupi segala pengeluaran yang kian menumpuk.
Hingga pada akhirnya lahirlah anak pertama dan diberi nama Ilham Akbar Habibie. Kelahiran putra pertama ini rupanya menjadi daya dorong tersendiri bagi Rudy dan Ainun. Pendidikan S3 diselesaikan tanpa masalah, kesejahteraan pun sedikit demi sedikit membaik. Namun harta dan jabatan tak lantas membuat keluarga kecil ini lupa daratan. Semua tetap berjalan seperti biasa dan bersahaja.
Waktu berlalu dan tibalah pada suatu saat secara resmi pemerintah Republik Indonesia memanggil pulang Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie ke Indonesia guna turut serta membangun bangsa. Habibie yang kala itu telah menjabat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi di sebuah perusahaan strategis di Jerman patuh dan menerima panggilan ibu pertiwi untuk pulang.
Di Indonesia, perjalanan Habibie dengan segala pengalaman dan kecerdasannya tak selalu mulus. Dimulai dengan jabatan sebagai penasehat Presiden, Menristek, Ketua BPPT, Wakil Presiden hingga Presiden RI. Sanjungan, dukungan hingga cacian datang silih berganti. Ibu Hasri Ainun Habibie dengan senyun dan semangatnya selalu berhasil membuat Habibie berdiri setegar karang dan mampu melewati segala persoalan tanpa mengeluh.
Cinta Abadi
Membaca Habibie & Ainun membuat saya terbawa. Pak Habibie membawa kita mengikuti sepak terjang keluarganya dalam menghadapi hidup yang pada awalnya terasa berat. Kita akan diingatkan bahwa sebesar apapun kesuksesan yang kita raih dan sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan, semua tak akan berarti tanpa hidup yang berkualitas. Kualitas hidup yang baik salah satunya didasari oleh kehadiran seorang pendamping yang hebat.
Sosok Ibu Hasri Ainun Habibie digambarkan sebagai dasar dari sebuah keluarga yang luar biasa. Kisah romansa yang menggelora dikala muda, hingga bersama-sama menghiasi hari tua dengan tetap berpegang tangan penuh cinta, mampu membuat keluarga Habibie menjadi panutan bagi kita semua.
Keterikatan dan rasa saling membutuhkan telah tampak sejak awal mula perjumpaan, seperti kutipan berikut,
“… hubungan kami makin dekat dan mesra dan merasakan waktu cepat berlalu. Tiap pertemuan dan perpisahan yang disertai pandangan mata kami, mencerminkan kerinduan untuk pertemuan yang akan datang dan perasaan yang menggetarkan hati. …” (hal. 10).
Bahasa yang digunakan mengalir dengan halus dan berurut. Nyaman sekali membacanya. Pak Habibie menerangkan sepak terjang beliau dalam dunia industri dan politik. Sehingga membaca buku ini membuat kita kembali tenggelam dalam sekelumit sejarah bangsa Indonesia. Tentang pembentukan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), pencetusan Republika, peristiwa bergulirnya reformasi 1998 dan banyak lagi. Kita akan menemukan Ibu Ainun Habibie tampil sebagai sosok wanita, istri sekaligus ibu yang luar biasa.
Hingga pada akhirnya Tuhan memberikan cobaan berupa penyakit, hubungan Pak Habibie dan Ibu Ainun menjadi semakin erat. Segala macam bentuk pengobatan dan usaha untuk membuat Ibu Ainun sehat telah dilakukan. Yang paling membuat saya terenyuh adalah pada saat akan dibawa ke Jerman untuk pengobatan, Ibu Ainun sempat berucap, “Papa, saya tidak mau meninggal di luar negeri…” (hal. 273)
Namun sebesar apapun manusia berusaha, Tuhan jua yang menentukan. Garis takdir Tuhan tak terbantahkan. Ibu Hasri Ainun Habibie meninggal dunia pada hari Sabtu tanggal 22 Mei 2010 di Jerman. Namun dengan mantapnya Pak Habibie menegaskan bahwa Ainun masih berada di hati beliau selamanya. Sebab dua insan telah lebur menjadi satu.
(Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
Saya sering mendengar kisah tentang romantisnya kedua pasangan ini. tapi Tuhan ternyata punya rencana lain.
harga bukunya lumayan yah untuk buku lokal
etapi biografi rata-rata segitu siy..
Melihat sosok ibu Ainun saya makin yakin bahwa dibalik kesuksesan pria tentu ada tangan wanita yang menyokong
Sempat terkejut seorang yang mampu membuat pesawat terbang dengan berjuta-juta kata teknis diotaknya ternyata mampu mengukir kata-kata puitis yang dipersembahkan kepada almarhum istrinya Ibu Hasri Ainun Habibie dengan penuh cinta. ..Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu bukan itu.Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya .dan kematian adalah sesuatu yang pasti .dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi aku sangat tahu itu..Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat .adalah kenyataan bahwa kematian.benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang .sekejap saja .lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati hatiku seperti tak di tempatnya .dan tubuhku serasa kosong melompong hilang isi..Kau tahu sayang rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang..Pada airmata yang jatuh kali ini aku selipkan salam perpisahan panjang .pada kesetiaan yang telah kau ukir pada kenangan pahit manis selama kau ada .aku bukan hendak mengeluh tapi rasanya terlalu sebentar kau disini..Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang .tanpa mereka sadari bahwa kau lah yang menjadikan aku kekasih yang baik .mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua .tapi kau ajarkan aku kesetiaan sehingga aku setia .kau ajarkan aku arti cinta sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini..Selamat jalan .Kau dari-NYA dan kembali pada-NYA .Kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada..Selamat jalan sayang .cahaya mataku penyejuk jiwaku .Selamat jalan calon bidadari surgaku.-BJ HABIBIE-.
Saya merinding baca ungkapan puitis pak Habibie itu ![]()
Salut banget baik dala kehidupan keluarga maupuin karirnya.
saya pingin baca ih , pinjam doongggg