Lakon dibuka dengan debu-debu gunung Bromo yang berhamburan ketika Wahyu (Yosie Kristanto) bermain bola dengan asyik bersama kawan-kawannya dari desa Langitan, lereng Bromo.
Wahyu adalah siswa SMA yang biasa-biasa saja, kecuali dalam bidang sepak bola. Bakatnya menonjol meninggalkan kawan-kawannya yang lain. Ia pun kerap disewa klub-klub bola dari desa lain untuk memenangkan pertandingan. Benar saja, nama Wahyu tersohor di lingkungannya sebagai pemain sepak bola kenamaan.
Rupanya perjalanan Wahyu menapaki karirnya sebagai pemain sepak bola tak mulus. Bapaknya, Pak Darto (Sudjiwo Tedjo) menentang keras ambisi Wahyu dalam hal sepak bola.
Seperti yang jamak terjadi, Wahyu tak lantas menyerah, dia tetap bermain bola dengan sembunyi-sembunyi hingga akhirnya bisa membelikan seekor kuda dan pakaian untuk bapaknya. Melihat kemauan Wahyu yang membatu, toh Pak Darto luluh juga. Ia restui anaknya bermain bola.
Kisah berlanjut, Wahyu dibidik oleh pelatih Persema Malang, Coach Timo (Timo Scheunemann) untuk menjadi pemain profesional. Sayang gayung tak melulu bersambut. Rupanya Wahyu memiliki kelainan di lututnya, hingga berat baginya untuk terus melanjutkan segala perjuangan.
Tapi mimpi belum saatnya diakhiri, bagaimana sepak terjang Wayu dan kawan-kawannya untuk tetap bermain di klub Irfan Bachdim ini layak untuk diikuti.
Film Olah Raga
Film Tendangan Dari Langit digarap oleh sutradara bertangan dingin Hanung Bramantyo. Salah satu sutradara terbaik Indonesia ini, seperti yang kita tau, lebih sering menukangi film-film yang bertajuk keagamaan. Pendapat saya, langkah beliau kali ini cukup berani. Mengingat untuk mengangkat nuansa olah raga, khususnya sepakbola, melibatkan lebih banyak komponen di dalamnya. Seperti apa? Mari kita bahas.
Alur cerita Tendangan Dari Langit tak jauh beda dengan film-film serupa. Sebut saja King dan Garuda di Dadaku. Berawal dari udik, berbekal tekat, semangat dan kemampuan yang mumpuni hingga akhirnya meraih sukses. Seragam.
Dimana perbedaannnya? Tampaknya sang sutradara tahu betul kapasitasnya. Beliau bermain cantik dengan permainan emosi dan ketegangan. Sesuatu yang minim sekali kita rasakan di film-film serupa.
Satu hal yang tak pernah luput dari film-film yang mengangkat tema kampung dan udik adalah setting latar. Di Film ini kemolekan alam gunung Bromo dieksplorasi habis-habisan. Puncak gunung yang sering tertutup kabut tipis, perkebunan yang diselimuti abu gunung, dataran berpasir hingga potret kehidupan warga desa yang guyub dan gegap gempita. Semua menyatu, membuat film ini memiliki nilai lebih di sisi yang lain, diluar alur cerita.
Satu hal lagi yang patut kita acungi jempol dari film ini adalah, totalitas sang sutradara untuk menghadirkan atmosfir sepak bola indonesia ke dalam layar. Bagaimana menggerakkan ribuan supporter Persema Malang untuk diarahkan demi mendapatkan gambar yang sesuai.
Mencuri gambar dari sepasang tim sepakbola yang sedang bertanding untuk film layar lebar, tentu saja tak sama dengan pengambilan gambar untuk liputan siaran langsung pertandingan. Toh Hanung Bramantyo tetap berhasil dalam melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kurang Matang ?
Masih, saya menemukan beberapa hal yang menurut saya (pribadi) sedikit mengganjal. Beberapa tokoh yang potensial justru tidak mendapatkan penokohan yang cukup kuat, alias terkesan seadanya. Misalnya sang aktor kawakan Toro Margen. Perannya sebagai pemilik klub sepakbola tingkat kecamatan terkesan terlalu lembek. Tentu kita rindu karakter Bung Toro yang kokoh dan arogan, bukan?
Yang tak kalah disayangkan adalah sosok pemain naturalisasi Indonesia, Irfan Bachdim. Tentu Anda sepakat dengan saya, bahwa kehadiran Bachdim di film ini rasanya tak lebih dari sekedar pemanis saja. Tak banyak sumbangsihnya.
Tampak sekali sang sutradara berusaha keras mempermainkan emosi penonton dengan tangisan dan potongan-potongan cerita yang menggugah dan mengharukan. Tapi karena beberapa hal mengakibatkan usaha tersebut menjadi basi. Sisi kemanusiaan yang menghentak, pertengkaran dalam keluarga, konflik batin dan air mata dipadukan. Tetap saja, di beberapa bagian justru membuat saya ingin tertawa. Terutama melihat tangisan tertahan ki dalang Sudjiwo Tedjo. Seperti apa? Silakan amati sendiri.
Terakhir, yang paling saya rasakan kurang pas adalah, kenapa film ini terkesan sangat terburu-buru? Perjalanan karir seorang anak kampung yang terbiasa bermain sepak bola antar kecamatan, walaupun dengan kehebatan yang luar biasa, dalam waktu sangat-sangat singkat tiba-tiba bermain di liga besar Indonesia, menjadi pemain bintang dan di elu-elukan. Entah, tapi secara pribadi saya merasa perjuangannya kurang menggigit.
Secara keseluruhan film ini sangat layak tonton. Terlepas dari segala kekurangan dan cacatnya, saya rasa rakyat Indonesia sudah saatnya merasakan kebangkitan karya-karya anak bangsa. Amanat dan pesan yang dibawa pun indah sekali. Bersungguh-sungguh untuk sesuatu yang diyakini, maka kesuksesanlah yang akan menyambut pada akhirnya.
*gambar : www.21cineplex.com