Beastly, Love is Never Ugly

In film, review on 8:20 am

Kyle Kingson (Alex Pettyfer) adalah seorang remaja yang tampan dan kaya raya sehingga membuat gadis-gadis di sekitarnya terpesona. Ketampanan dan kekayaan yang ia punyai menjadikannya pribadi yang narsis dan arogan.

Suatu kali dalam orasinya sebagai kandidat presiden Green Committee di sekolahnya, Kyle dengan congkaknya mengatakan, “Should you vote for me just because I am the rich, popular, good-looking guy with the famous news anchor dad, and the answer is, hell yeah!” yang disambut dengan applause membahana.

Kesombongan Kyle yang menjadi-jadi membuat Kendra (Mary-Kate Olsen) merasa terusik. Kendra merupakan teman sekolah Kyle yang memiliki gaya eksentrik sehingga teman-temannya memanggilnya penyihir. Kesabaran Kendra habis ketika dalam sebuah pesta Kyle terus mengolok-olok teman-temannya yang tidak berpenampilan menarik. Akhirnya, Kendra mengutuknya menjadi seseorang yang memiliki wajah menyeramkan seperti monster. Kutukan ini hanya dapat dipatahkan bila Kyle menemukan seseorang yang dapat mencintainya dengan kondisinya yang menyeramkan dalam waktu setahun atau ia akan terperangkap dalam fisik monsternya.

Alkisah suatu kali Lindy (Vanessa Hudgens), kandidat presiden Green Committee yang dikalahkan oleh Kyle mendapatkan ancaman pembunuhan oleh penagih hutang. Kyle yang diam-diam menaruh perasaan pada Lindy kemudian membuat perjanjian dengan ayah Lindy agar menyembunyikan Lindy untuk sementara di rumahnya. Selama Lindy berada di rumahnya, Kyle melakukan apapun untuk memikatnya. Dibantu oleh Will (Neil Patrick Harris) guru privatnya dan pembantu rumah tangganya, Kyle berusaha membuat Lindy jatuh cinta padanya sehingga ia dapat terlepas dari kutukan Kendra.

Another Fairy Tale

Film ini merupakan adaptasi dari cerita klasik Beauty and the Beast yagn dikemas dalam setting yang lebih modern. Sebagaimana film remaja pada umumnya, film ini cukup baik mengeksplorasi bagaimana seorang remaja laki-laki berusaha membuat jatuh cinta dambaan hatinya. Alur cerita film ini tidak terlalu susah untuk diikuti dan cenderung mudah ditebak.

Ada bagian yang terasa dipaksakan dalam film ini yaitu munculnya Kendra sebagai sosok penyihir yang mengubah Kyle menjadi monster. Dalam kultur masyarakat barat, tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Perubahan Kyle menjadi sosok monster yang menyeramkan terasa sebagai sesuatu yang dipaksakan. Untungnya, Mary-Kate Olsen sangat menghayati perannya sebagai penyihir modern nyentrik sehingga gayanya membuat penonton terhibur.

Meskipun film ini ber-genre drama, namun efek visual terutama tata rias wajah Kyle saat menjadi monster pantas diacungi jempol. Kyle yang berwajah tampan seketika berubah menjadi seperti pembunuh berdarah dingin dengan wajah menyeramkan penuh tato dan parut. Menurut saya, meskipun wajahnya sudah diubah, Kyle masih menyimpan aura tampan. Efek visual yang dibuat untuk wajah Kyle ini malah terkesan artistik.

Film ini cocok dilihat sebagai pengantar tidur. Manisnya kisah cinta yang disuguhkan dalam film ini dapat menginspirasi untuk merasa jatuh cinta lagi dan bermimpi indah.

Dini Latifah,
Penulis lepas di beberapa media ibu kota. Alumni Ilmu Komunikasi UGM. Aktif di media kampus Bulaksumur Pos, Yogyakarta.

Related posts ...

    It is your turn now!