Husk, the Scarecrow is Alive

In film, review on 6:06 pm

Sekelompok remaja dalam perjalanan menuju sebuah rumah danau untuk menghabiskan akhir pekan. Dalam perjalanan melewati ladang jagung, secara misterius burung gagak menabrak mobil mereka. Akibatnya, Chris (C. J Thomason) yang memegang setir saat itu kehilangan kendali. Mobil pun terperosok ke ladang jagung.

Kenehan terjadi ketika mereka tidak dapat menemukan Johnny (Ben Easter) yang duduk di samping Chris. Setelah beberapa saat mencari, mereka melihat ada rumah di tengah ladang jagung. Scott (Devon Graye) dan Brian (Wes Chatham) berinisiatif untuk memeriksa kalau-kalau Johnny berada di rumah tersebut. Chris dan Natalie (Tammin Sursok) yang merupakan kekasih Brian menunggu di pinggir jalan.

Kengerian demi kengerian terjadi. Bermula saat Scott dan Brian menemukan Johnny di dalam rumah tersebut sedang menjahit penutup kepala untuk orang-orangan sawah. Tentu saja yang mereka temukan bukanlah Johnny, namun mayatnya yang sudah dirasuki oleh arwah jahat yang menghantui ladang jagung. Chris dan Natalie yang akhirnya memutuskan untuk menyusul Scott dan Brian pun tidak luput dari teror. Mereka dijadikan target untuk dibuat orang-orangan sawah berikutnya.

Hantu atau Psychopat?

Alur film ini cukup dapat membangun ketegangan. Figur orang-orangan sawah yang ditampilkan terlihat alami dan menyeramkan. Meskipun di dalam cerita dikisahkan Scott sempat mendapatkan penglihatan tentang apa yang terjadi di tempat tersebut dahulu kala, namun potongan-potongan frame yang disuguhkan tidak cukup memuaskan.

Bila akhirnya Scott berkesimpulan bahwa orang-orangan sawah tersebut merupakan arwah yang terperangkap karena kejahatan yang dilakukan terhadapnya di masa lalu, maka seharusnya cara untuk melawan balik mereka adalah dengan melakukan ritual atau cara khusus membunuh hantu. Akan tetapi, dalam film ini arwah orang-orangan sawah tersebut lebih nampak seperti pembunuh berdarah dingin di film Halloween. Tidak ada petunjuk bagaimana mengakhiri teror tersebut sebagaimana di film-film horor bertema hantu lainnya. Bahkan ketika satu per satu korban menjadi orang-orangan sawah dan semua telah dikalahkan oleh mereka yang masih berusaha melarikan diri, tetap saja muncul orang-orangan sawah asli yang menjadi pelaku utama teror tersebut.

Disini yang membuat bingung adalah bahwa bagaimana figur hantu ditampilkan seperti psychopat yang memburu siapa saja yang memasuki teritorinya. Penonton pun dibuat bertanya-tanya sebenarnya yang dihadapi oleh Scott dan teman-temannya adalah hantu atau psychopat.

Sebuah film thriller dapat memberikan sense ketakutan yang berbeda tergantung dari tokoh sentral yang menebarkan teror di dalamnya. Tentu saja sense takut dan tegang yang dirasakan penonton akan berbeda antara objek hantu dan pembunuh berdarah dingin. Di film ini, penonton akan bingung memposisikan rasa takutnya.

Judul film ini juga cukup membingungkan. Sebab, meskipun seting-nya di ladang jagung namun yang menjadi sentral tema cerita adalah orang-orangan sawahnya bukan kulit jagungnya (husk). Bahkan sama sekali tidak ditampilkan kontribusi dari kulit jagung dalam cerita film ini. Bila diperhatikan dengan seksama, dalam seting film ini juga
sama sekali tidak dijumpai jagung di ladangnya alias belum berbuah sehingga korelasi kulit jagung dengan film ini patut dipertanyakan.

*Gambar : imdb.com

Dini Latifah,
Penulis lepas di beberapa media ibu kota. Alumni Ilmu Komunikasi UGM. Aktif di media kampus Bulaksumur Pos, Yogyakarta.

Related posts ...

    It is your turn now!