Judul Buku : Suluk Lintang Lanang
Pengarang : Setyo A. Saputro
Penerbit : Indie Book Corner
Terbit : Agustus 2011
Tebal Buku : 147 + viii Halaman
Harga : Rp 40.000,00 + ongkos kirim
“Feminisme, etnisitas, orientasi seksual, nasionalisme, semuanya diaduk-aduk jadi lodeh!!! Ha ha ha…” Daliyem Gila teriakkan mantra. Di beranda tertawa-tawa.
“Tai celeng, Yeeemmm!!! Hidupku sederhana!!! Tak butuh diperbelit!!!”
“Huusss… Lambemu itu lho…”
…
Kasar dan saru? Ah itu belum seberapa. Petikan di atas saya cuplik dari cerpen berjudul Waktu Sarapan Pagi. Salah satu cerpen yang termuat di antologi bertajuk Suluk Lintang Lanang, karya kawan saya Setyo A. Saputro.
Buku tipis ini memuat 24 cerpen dengan beragam sudut pandang, gaya penulisan dan tempramen. Diterbitkan oleh penerbit buku indie, membuat penulis merasa bebas menyalurkan ekspresi apapun kedalam buku ini. Istilah kasar (yang kebanyakan dalam dialek jawa) seperti lambemu, jancuk, lonte dan sebagainya sengaja diloloskan utuh. Justru disitulah letak titik beratnya.
Lho, bahasa kasar jadi titik berat, apa tidak salah?
Tunggu dulu, tentu saja tak hanya itu, cerpen-cerpen yang dimuat melukiskan penderitaan, rasa tertekan, terjajah dan ketimpangan sosial kaum marginal. Atau setidaknya kesan itulah yang saya tangkap.
Kafe remang-remang, kopi susu dan jazz juga memberi warna yang cukup dominan disini. Coba anda baca sampai tuntas, dan semoga semua sependapat dengan saya, bahwa semua cerita yang dihadirkan tak ada yang berakhir bahagia. Tak percaya ?
Dari sedikit ulasan yang saya celotehkan di atas, sepertinya unsur ekstrinsik penulisan seluruh cerpen di buku ini (yang ditulis dalam rentang tahun 2006 hingga 2011) menjadi terbaca dengan sendirinya.
Mengamati struktur penulisan yang “selengekan”, masa bodoh, penuh umpatan, memberi nyawa pada semua benda mati mengingatkan kita pada gaya penulisan sastrawan legendaris Indonesia, sepertiĀ Rendra atauĀ Chairil Anwar.
Rentang waktu penulisan yang relatif panjang juga dengan sendirinya menciptakan perbedaan warna tulisan. Untuk tujuan tertentu sang penulis sengaja menuliskan angka tahun di setiap akhir cerpen. Dengan begitu kita tahu pada tahun berapa cerpen tersebut ditulis. Dan jika kita amati lebih dalam, terdapat pergeseran gaya penulisan yang tak kentara tapi cukup mempengaruhi cita rasa cerpen-cerpen yang dihasilkan, dari tahun ke tahun. Seperti apa pergeseran yang saya maksud? Tentu saja saya tak akan beberkan disini. Anda bisa mencicipi sendiri legitnya buku ini.
Satu lagi. Karena buku antologi ini diterbitkan secara indie alias “swadaya”, maka Anda tak dapat menemukan buku ini di toko buku kesayangan Anda. Namun rasa penasaran tetap bisa dipuaskan dengan melakukan pemesanan secara langsung melalui pranala yang saya lampirkan di bawah artikel ini.
–
Suluk Lintang Lanang :
http://www.facebook.com/pages/Suluk-Lintang-Lanang/202119909844961