Yesus, Kisah Tentang Pencerahan

In buku, review on 12:13 pm

Judul Buku : Yesus, Kisah Tentang Pencerahan
Pengarang : Deepak Chopra
Penerjemah: Julanda Tantani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2011
Tebal Buku : 360 halaman
Harga di Gramedia : Rp 50,000.00

Tahun 1 Masehi, ketika bangsa Romawi berusaha menindas kaum yahudi. 3 orang pelarian, Yesus, Yudas dan Maria. 3 orang dengan latar belakang yang sama sekali berbeda, bersama-sama melarikan diri dari kejaran serdadu Romawi. Yudas adalah anggota kelompok pejuang kemerdekaan yahudi, yang berusaha melawan tiran Romawi dengan kekerasan. Namun di mata Yesus muda, gerakan kemerdekaan itu sama saja dengan para penjajah. Sama-sama memilih peperangan sebagai jalan keluar. Karena di balik setiap peperangan selalu tersisa penderitaan yang menyakitkan.

Kisah pelarian ketiga orang ini diwarnai berbagai kejadian yang membuat Yesus pada akhirnya mengerti bahwa dirinya adalah Sang Mesias, sang juru selamat yang sudah dinanti-nantikan. Penyiksaan, penghianatan dan percintaan yang membutakan mewarnai kisah pelarian mereka, hingga akhirnya Yesus menjadi sadar bahwa Tuhan telah menyatu dengan dirinya.

Tugas ini berat, Yesus harus menyampaikan pesan Tuhan kepada seluruh umat manusia, di tengah kebencian dan permusuhan yang sedang berkobar.

Fiktif Filsafat

Buku ini fiktif, atau setidaknya begitulah yang dikatakan oleh Deepak Chopra, sang penulis. Kisah hidup Yesus dalam rentang waktu usia 12 hingga 30 tahun memang seakan-akan menghilang. Sukar sekali dicari sumber cerita yang bisa dipertanggung jawabkan. Namun demikian, dengan indah penulis mampu merangkai detail demi detail cerita dengan runut dan penuh makna.

Bagaimana perjumapaan Yesus dengan Yudas, yang dikemudian hari diriwayatkan sebagai sang penghianat, bagaimana kisah cinta Yesus dengan Maria yang rumit, penulis sengaja membuat para pembaca terombang-ambing. Ritme yang dihadirkan turun dan naik dengan cepat, beberapa bagian menceritakan sebuah peristiwa dengan sangat detail, sedangkan beberapa lainnya melompat-lompat.

Satu lagi, bukan Deepak Chopra namanya jika tidak berfilsafat. Buku-buku terdahulu yang ditulis olehnya pun (baca review saya yang lain, Buddha) cukup membuat dahi mengernyit. Kata-kata seperti “… siapa bilang Tuhan itu serius? Ada alam semesta yang harus diawasinya. Dia harus bisa tertawa supaya mampu menangani kita. (Hal. 298)” misalnya, harus disikapi dengan lebih luas. Dari sudut pandang yang tepat tentu saja.

Terlepas nilai ideologi yang diemban, novel ini menarik sekali menurut saya. Saya jadi mengerti apa yang terjadi dengan kaum yahudi sebelum kebangkitan Kristus, dan lain-lain. Sangat layak untuk dibaca.

Andika Kurniantoro,
Blogger paruh waktu. Karyawan di sebuah perusahaan swasta Indonesia. Lajang. Gemar menonton film dan membaca buku sejarah.

Related posts ...

    It is your turn now!