<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bakul Rujak</title>
	<atom:link href="http://bakulrujak.com/category/bener-bener-blog/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bakulrujak.com</link>
	<description>Untuk hidup yang selalu menyenangkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Dec 2011 12:04:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ketika Biawak Numpang Pipis</title>
		<link>http://bakulrujak.com/528/ketika-biawak-numpang-pipis</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/528/ketika-biawak-numpang-pipis#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 05:28:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[ada ada aja]]></category>
		<category><![CDATA[biawak]]></category>
		<category><![CDATA[kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[komodo]]></category>
		<category><![CDATA[kos-kosan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Hingga siang hari saat laporan ini diturunkan, tak satupun dari kami mengerti, bagaimana bisa seekor biawak ukuran jumbo berhasil manjat ke lantai 2 kos-kosan dan tega-teganya numpang toilet tanpa ijin.
Tapi, biarlah pertanyaan itu tetap menjadi misteri besar yang hanya Tuhan dan si biawak yang tahu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dini hari ini aku terbangun seperti biasa untuk makan sahur. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya hingga tiba pada saat aku mencoba membuka pintu kamar mandi untuk cuci muka. Ada yang mengganjal dari dalam.</p>
<p>Mata pun mulai terbuka dengan sempurna, rasa penasaran mendorong kepala untuk menjulur sedikit untuk mencari tahu apa yang terjadi. dari celah pintu kamar mandi terlihat seonggok benda hidup berwarna cokelat di lantai.</p>
<p>Oke, kucing. Tapi sedikit bertotol dan bersisik.</p>
<p>Wah, ular! Eh, tapi berkaki dan badan yang besarnya tak lazim untuk seekor ular.</p>
<p>Dan sedetik kemudian ada dorongan kuat dari dalam dada untuk berterik histeris, tapi tertahan.</p>
<p>&#8220;Gusti Alloh&#8230; <a title="Biawak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biawak" target="_blank">BIAWAK</a>!!!&#8221; (dalam hati).</p>
<div id="attachment_529" class="wp-caption aligncenter" style="width: 440px"><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/08/biawak1b.jpg"><img class="size-full wp-image-529" title="biawak1b" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/08/biawak1b.jpg" alt="" width="430" height="237" /></a><p class="wp-caption-text">Apa yang kau lakukan disana ?</p></div>
<p>Dengan keras kulawan keinginan berlari pontang-panting. Balik ke kamar, merenung. Ada yang salah dengan mataku.</p>
<p>Tak lama kemudian muncul <a href="http://twitter.com/bryanzah">Bryan</a> dari kamar depan dan beranjak ke kamar mandi. Sepertinya dia harus bersyukur memiliki teman yang keren seperti aku, karena aku sempat menyelamatkan hidupnya di detik-detik terakhir saat dia berencana membuka pintu kamar mandi.</p>
<p>&#8220;JANGAAAN!!&#8221;</p>
<p>Dia melongo, aku melongo.</p>
<p>&#8220;Buka pintu kamar mandinya hati-hati, sedikit aja dulu dan liat apa yang ada di dalam. Ingat! Hati-hati!&#8221; aku menegaskan intonasi di pernyataan terakhir.</p>
<p>Dia tak mau dan memaksaku menjelaskan apa yang terjadi dan apa/siapa yang sedang menunggu kami di dalam kamar mandi. Dikejar waktu Imsak, aku turun ke lantai 1 dan menggunakan kamar mandi disana. Kutinggalkan Bryan dengan segala gundah hati dan dilemanya yang makin memuncak.</p>
<p>Sedang asik-asik menjalankan tugas suci di kamar mandi bawah, sayup-sayup aku mendengar Bryan mencak-mencak di luar kamar mandi dan berteriak dengan bersemangat,</p>
<p>&#8220;ada <a title="Komodo" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Komodo_dragon" target="_blank">KOMODO</a> di kamar mandi!!!&#8221;.</p>
<p>Baiklah, kupikir harus ada seseorang yang membelikan poster tabel nama-nama binatang untuknya.</p>
<p>Tak ada yang berani mengambil tindakan. Akhirnya kami tinggalkan saja si biawak penasaran itu memuaskan dahaga di kamar mandi. Kami (aku, Bryan dan <a title="Rifad" href="http://twitter.com/nazieb">Rifad</a>) pergi sahur.</p>
<p>Pulang dari warteg, Rifad lapor Ibu kos tentang penemuan spektakuler kami. Kami menjelaskan dengan menggebu-gebu bahwa ada biawak sebesar badan anak Ibu kos yang masih balita. Beliau kalem dan tetap bersahaja, satu hal tambahan yang membuat aku berjanji tak akan telat membayar uang kos.</p>
<p>&#8220;Baiklah, saya ke tetangga depan dulu untuk manggil bantuan ya.&#8221;</p>
<p>Oke, hatipun senang dan riang. Tak lama kemudian beberapa orang bapak-bapak datang membawa berbagai perlengkapan, diantaranya karung goni dan terakhir&#8230; tas &#8216;kresek&#8217; gede warna putih.</p>
<div id="attachment_530" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/08/tas-kresek.jpg"><img class="size-full wp-image-530" title="tas-kresek" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/08/tas-kresek.jpg" alt="ini tas kresek" width="200" height="117" /></a><p class="wp-caption-text">ini tas kresek</p></div>
<p>Ritual penangkapan biawak penasaran pun dimulai dengan berisik. Beberapa orang berkumpul di depan kamar mandi. Pintu dibuka perlahan dan terdengar teriakan dari sang pemimpin rombongan,</p>
<p>&#8220;Buseeet, ini mah bukan <a title="Musang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musang" target="_blank">MUSANG</a> tapi BIAWAK!!&#8221;</p>
<p>Baik, sepertinya harus ada yang mengikuti kelas tambahan &#8216;mendengarkan penjelasan dengan seksama&#8217;, dan anggotanya adalah Ibu kos. Beliau terbukti salah memberikan keterangan kepada bapak-bapak itu.</p>
<p>Entah berkat kepiawaian bapak-bapak bergelut dengan biawak atau memang si biawak sudah lemas kecapaian, ritual bersejarah itu tak memakan banyak waktu. Dan biawak penasaran pun berhasil dievakuasi. Semua senang, semua tenang.</p>
<div id="attachment_531" class="wp-caption aligncenter" style="width: 440px"><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/08/biawak2b.jpg"><img class="size-full wp-image-531" title="biawak2b" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/08/biawak2b.jpg" alt="" width="430" height="302" /></a><p class="wp-caption-text">Prose evakuasi</p></div>
<p>Hingga siang hari saat laporan ini diturunkan, tak satupun dari kami mengerti, bagaimana bisa seekor biawak ukuran jumbo berhasil manjat ke lantai 2 kos-kosan dan tega-teganya numpang toilet tanpa ijin.</p>
<p>Tapi, biarlah pertanyaan itu tetap menjadi misteri besar yang hanya Tuhan dan si biawak yang tahu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/528/ketika-biawak-numpang-pipis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Kos Tukang Sol</title>
		<link>http://bakulrujak.com/384/pak-kos-tukang-sol</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/384/pak-kos-tukang-sol#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 04:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[general]]></category>
		<category><![CDATA[pak kosasih]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tepi jaman]]></category>
		<category><![CDATA[tukang sol sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Langkahnya berat tapi pasti, punggungnya mulai membungkuk tapi bahunya tetap setegar dulu. Pak Kosasih (Pak Kos) berjalan dengan mantap di siang panas itu. Di pundaknya menggantung sebuah pikulan dengan dua beban di kedua ujungnya, sambil sesekali teriakannya memecah keangkuhan Jakarta siang itu, &#8220;sol sepatuu!&#8221;
Sudah sejak pagi saya menunggunya melintas di jalan depan kontrakan. Sepatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Langkahnya berat tapi pasti, punggungnya mulai membungkuk tapi bahunya tetap setegar dulu. Pak Kosasih (Pak Kos) berjalan dengan mantap di siang panas itu. Di pundaknya menggantung sebuah pikulan dengan dua beban di kedua ujungnya, sambil sesekali teriakannya memecah keangkuhan Jakarta siang itu, &#8220;sol sepatuu!&#8221;</p>
<p>Sudah sejak pagi saya menunggunya melintas di jalan depan kontrakan. Sepatu yang baru saya beli tiga bulan yang lalu mulai menyingkap perekatnya di bagian tumit dan ujungnya. Tukang sol sepatu selalu menjadi solusi alternatif jika belum ingin membeli sepatu baru.</p>
<p>Tahun 1984 Pak Kos berangkat ke Jakarta dari Garut bersama beberapa orang teman bermodal tekad, semangat, mimpi dan sedikit uang saku. Tanpa ijasah, tanpa keahlian. Sampai di Jakarta, berkenalanlah ia dengan seorang tukang sol sepatu di terminal Cililitan yang menurunkan ilmu sol sepatu kepadanya.</p>
<p>Tahun-tahun pertama ia mendapat angin segar rupanya. Pak Kos mangkal di seputaran terminal Cililitan, di trotoar dekat pos polisi tepatnya. Masyarakat Jakarta kala itu, dengan daya beli yang relatif rendah dan harga yang tinggi membuat mereka berpikir ulang untuk buru-buru membeli barang baru ketika yang lama sedikit rusak. Jika sepatu atau sendal tua sedikit terkelupas lemnya, tukang sol sepatu solusinya!</p>
<p>Namun apa mau dikata, awal tahun 1990-an, Jakarta berubah. Teman-teman senasib mulai berduyun-duyun mengikuti jejaknya ke Jakarta, sialnya sebagian besar dari mereka memilih tukang sol sepatu sebagai profesi juga. Persaingan semakin ketat, napas semakin sesak saja bagi Pak Kos kala itu. Dengan berat hati ditinggalkanlah profesi tukang sol sepatu yang telah menghidupinya selama hampir sepuluh tahun terakhir.</p>
<p>Berjualan gorengan, bubur, ayam goreng, hingga baju anak-anak pun dicoba Pak Kos. Benar-benar malang tak bisa ditolak, segala usaha Pak Kos tak jua menghasilkan keuntungan, padahal kala itu ia telah menikahi seorang wanita betawi dan memiliki 2 orang anak.</p>
<p>Tekad dibulatkan, Pak Kos kembali ke profesi awalnya, tukang sol sepatu. Namun berbeda teknik &#8220;pemasarannya&#8221; kali ini, ia berjalan kaki berkeliling kampung. Entah keahliannya di bidang itu, atau mungkin memang telah digariskan pintu rejekinya berasal dari sol sepatu, Pak Kos kembali memperoleh kehidupannya, dapur pun kembali mengepul. Dengan sabar, setiap hari dari pagi hingga petang Pak Kos berjalan menyusuri jalan-jalan kampung yang sempit hingga ke bilangan Pasar Minggu, sembari meneriakkan jasanya, hingga kini.</p>
<p>Hari ini, kala usianya telah menginjak separuh abad, Pak Kos masih bertahan. Dengan peluh yang mengalir dari sekujur tubuhnya Pak Kos masih tetap setia menyusuri jalan-jalan Jakarta yang bau dan tak selalu ramah itu. Pulang kampung? Pak Kos mengaku saat ini sangat malas untuk pulang ke Garut, sebab selain biaya yang semakin mahal, saat telah sampai kampung banyak saudara dan familinya yang kerap meminta uang padanya.</p>
<p>Dan saat ini Pak Kos harus bekerja ekstra keras untuk mengumpulkan lebih banyak uang, mengingat beberapa bulan lagi, dua dari enam orang anaknya akan menempuh ujian akhir dan harus melanjutkan ke jenjang berikutnya!</p>
<blockquote><p><strong>Catatan</strong>:</p>
<p>Pak Kos ini sangat pemalu dan anti-eksis. Sampai-sampai saya sangat kesulitan memperoleh fotonya, pandai sekali ia berkelit kesana-kemari. Tak hilang akal, saya potret pakai kamera ponsel saya yang jadul. Yak, dapat! Konsekuensinya sampai saat ini saya sudah jungkir balik berusaha mentransfer foto dari ponsel saya yang super antik itu ke komputer. Dan&#8230; belum berhasil sampai sekarang.. <img src='http://bakulrujak.com/rujak/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/384/pak-kos-tukang-sol/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar opini masyarakat</title>
		<link>http://bakulrujak.com/201/seputar-opini-masyarakat</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/201/seputar-opini-masyarakat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 09:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[pagi ini saya menonton acara editorial media indonesia di metrotv
konsep acaranya adalah ada seorang moderator dan pakar yang didatangkan. mereka akan mendengarkan sebanyak mungkin opini masyarakat berkenaan dengan topik yang sedang diangkat, lalu kemudian sang pakar akan memberikan komentar dan menarik kesimpulan.
kebetulan hari ini topik yang sedang dibicarakan adalah mengenai isu upaya pelemahan kpk sekaligus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi ini saya menonton acara editorial media indonesia di metrotv<br />
konsep acaranya adalah ada seorang moderator dan pakar yang didatangkan. mereka akan mendengarkan sebanyak mungkin opini masyarakat berkenaan dengan topik yang sedang diangkat, lalu kemudian sang pakar akan memberikan komentar dan menarik kesimpulan.</p>
<p>kebetulan hari ini topik yang sedang dibicarakan adalah mengenai isu upaya pelemahan kpk sekaligus undang-undang tipikor.<br />
saya mengikuti dari awal acara tersebut dan menurut hitungan saya 99% masyarakat yang menyumbang opini menggariskan satu hal yang sama.</p>
<p>satu penelpon kurang lebih berkata seperti ini, &#8220;kasus korupsi di indonesia sepertinya sudah kronis dan tidak mungkin bisa disembuhkan lagi, setiap kali pemerintah membentuk badan anti korupsi pasti berujung pada korupsi yang lebih besar dan pada akhirnya berlalu begitu saja&#8221;</p>
<p>penelpon berikutnya berujar &#8220;kpk selama ini hanya berkonsentrasi menangani korupsi di dpr pusat saja, coba lihat, lingkungan pemerintah daerah telah menjadi ladang korupsi yang subur.&#8221;</p>
<p>penelpon selanjutnya tak kalah sengit &#8220;undang-undang tipikor terasa mengebiri kpk dan memanjakan koruptor, bagaimana tidak? lhawong yang melahirkan undang-undangnya para koruptor juga&#8221;</p>
<p>dan penelpon-penelpon lain yang menyuarakan hal senada.<br />
benang merah yang saya (dan mungkin anda) tangkap adalah: pesimisme dan krisis kepercayaan.<br />
masyarakat mulai pesimis pada kinerja eksekutif, legislatif sekaligus yudikatif yang membuat mereka bingung harus percaya kepada siapa lagi. kasian sekali bukan ?</p>
<p>namun terlepas dari apa yang dibahas, paling tidak ada satu sinyal bagus yang bisa ditangkap, yakni masyarakat mulai berani vokal dan kritis terhadap pemerintah. apakah didengar atau tidak (atau seolah-olah tak didengar) kita hanya bisa berdoa untuk yang terbaik.</p>
<p>apakah sampeyan pesimis juga ?</p>
<p><em>gambar: waroengseni.blogspot.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/201/seputar-opini-masyarakat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar media dan segala kuasanya</title>
		<link>http://bakulrujak.com/98/seputar-media-dan-segala-kuasanya</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/98/seputar-media-dan-segala-kuasanya#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 06:41:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[pers]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan bebas]]></category>
		<category><![CDATA[undang-undang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[media berarti sarana penghubung atau penyampai informasi. jauh pada masa lalu media massa atau pers berarti sekumpulan orang yang biasa disebut jurnalis mengumpulkan informasi yang terjadi (yang kemudian disebut berita) untuk disampaikan kepada masyarakat.
rasanya bukan pada tempatnya saya menyampaikan bahan mata kuliah pengantar jurnalistik disini. sekarang bagaimana pengaruh media massa bagi masyarakat? jawabannya adalah diluar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border: 1px solid #ccc;margin: 10px" src="http://www.bakulrujak.com/wp-content/uploads/2009/09/pena-bulu.jpg" alt="" width="148" height="127" />media berarti sarana penghubung atau penyampai informasi. jauh pada masa lalu media massa atau pers berarti sekumpulan orang yang biasa disebut jurnalis mengumpulkan informasi yang terjadi (yang kemudian disebut berita) untuk disampaikan kepada masyarakat.</p>
<p>rasanya bukan pada tempatnya saya menyampaikan bahan mata kuliah pengantar jurnalistik disini. sekarang bagaimana pengaruh media massa bagi masyarakat? jawabannya adalah diluar dugaan kita. para pemimpin besar dunia pada umumnya dan indonesia pada khususnya menaruh perhatian yang sangat besar pada media massa. tak perlulah saya ingatkan kembali apa yang terjadi pada masa orde baru yang bisa dibilang merupakan era kelam bagi dunia jurnalistik indonesia. begitu orde baru tumbang dan reformasi bergaung kaum jurnalis seakan mendapat angin segar yang sudah sangat lama hanya berupa impian.</p>
<p>apa yang terjadi? istilah yang sering kita sebut sebagai kebebasan pers, apalagi setelah dipayungi UU no 40 tahun 1999 membuat pers menjadi nyaris tak terbatas ruang lingkupnya. pada masa awal dicetuskan, semua pihak (atau sebagian besar pihak) berbahagia. pers menjadi lebih bebas berekspresi dan meng-eksplorasi, sedang masyarakat mendapat informasi yang (diklaim) akurat dan transparan. transparansi menjadi doktrin mutlak segala hal yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. pemilu, apbn, rumah tangga negara, penyelenggaraan tender dan sebagainya wajib terbuka terhadap pers. dan setelah sekian lama, beberapa oknum mulai gerah dengan para pencari warta yang seakan tak pernah lelah mengikuti kemana pun mereka pergi. ruang gerak semakin sempit, negara dan para punggawanya menjadi seakan tak punya privasi lagi.</p>
<p>di sisi lain, mari kita lihat lebih dekat bagaimana masyarakat menyikapi informasi yang mereka terima dari media massa. mari bersikap jujur, penggunaan istilah dalam pemberitaan memegang peranan penting di sini. masyarakat (awam) akan menelan mentah-mentah apa saja yang mereka saksikan dan dengar dari media massa. saya jadi teringat beberapa hari yang lalu ada sebuah stasiun televisi swasta yang pada saat itu sedang mengangkat masalah klaim malaysia terhadap tari pendet dan beberapa aset budaya indonesia. stasiun tv tersebut (melalui pembawa acaranya) sering sekali menggunakan istilah klaim, mencuri, menghina. dan kemudian perang, tentara, senjata, serang, ganyang dan diulang-ulang.</p>
<p>menurut anda bagaimana masyarakat mencerna informasi semacam ini? saya saja yang kebetulan ikut menyaksikan program tersebut menangkap pesan yang tersirat bahwa perang dan pengganyangan adalah harga mati yang tak bisa dihindari (terlepas bagaimana maksud sebenarnya dari program tersebut). lalu bagaimana dengan fungsi pers yang didengungkan sebagai fungsi informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial dan ekonomi ? mari kita telaah lagi, berapa banyak porsi program televisi dan media massa pada umumnya yang membawa muatan pendidikan? lalu bagaimana pula dengan slogan pers yang dikatakan netral dan tak memihak?</p>
<p>menyambung masalah privasi negara, belakangan dpr kita sedang membicarakan tentang rancangan <a href="http://betet.blogdetik.com/index.php/2009/09/seputar-rahasia-negara/">undang-undang mengenai rahasia negara</a> (yang tentu saja ditentang habis-habisan oleh para penggiat pers). apa yang akan terjadi kemudian? mari kita saksikan bersama-sama, pemirsa. <img src='http://bakulrujak.com/rujak/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>sebentar, apa sampeyan merasa tulisan saya terlalu memprovokasi? tenang saja, ini hanya opini saja, tak lebih. ya, mumpung belum ada issu dikeluarkan undang-undang pelarangan beropini, mari kita manfaatkan hak yang satu ini dengan maksimal. setuju ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/98/seputar-media-dan-segala-kuasanya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar festival lagu daerah dadakan</title>
		<link>http://bakulrujak.com/200/seputar-festival-lagu-daerah-dadakan</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/200/seputar-festival-lagu-daerah-dadakan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 11:33:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[klaim]]></category>
		<category><![CDATA[lagu daerah]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[rasa sayange]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[siang itu selepas sholat jumat saya leyeh-leyeh di kantor sambil baca berita.
selang beberapa menit sayup-sayup terdengar suara seseorang berdendang pelan, hampir tak kedengeran namun saya tau pasti apa yang dinyanyikannya.
itu lagu Rasa Sayange, lagu daerah dari indonesia bagian tengah. saya berpikir pastilah si Firman yang menyanyikannya, orang keturunan jawa separuh cina yang duduk tak jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>siang itu selepas sholat jumat saya leyeh-leyeh di kantor sambil baca berita.<br />
selang beberapa menit sayup-sayup terdengar suara seseorang berdendang pelan, hampir tak kedengeran namun saya tau pasti apa yang dinyanyikannya.</p>
<p>itu lagu Rasa Sayange, lagu daerah dari indonesia bagian tengah. saya berpikir pastilah si Firman yang menyanyikannya, orang keturunan jawa separuh cina yang duduk tak jauh di depan saya. tak ada hal besar sejauh ini.</p>
<p>namun 2 menit kemudian firman berdiri dan berjalan keluar ruangan, ehh, lagunya masih mengalun juga. suaranya terlalu murni (baca: fales) untuk ukuran musik dari file mp3. jadi siapa?</p>
<p>usut punya usut ternyata si Jai Ho *) yang menyanyikannya, lengkap dengan kepala yang ngangguk-ngangguk tanpa dosa. apa??? ya! Jai Ho si warga negara malays*a yang baru beberapa hari terakhir ngantor dan menempati meja di sebelah saya persis. %!@^*^#&amp;(*@%&amp;@# saya bener-bener tak tau lagi mesti bicara apa.</p>
<p>akhirnya, saya putar lagu Nyidam Sari dan Ketaman Asmoro dengan volume keras dari laptop saya. huh..!</p>
<p>(* menggunakan nama samaran guna melindungi tersangka dari amuk masa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/200/seputar-festival-lagu-daerah-dadakan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kamis pahing vs jumat kliwon</title>
		<link>http://bakulrujak.com/87/kamis-pahing-vs-jumat-kliwon</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/87/kamis-pahing-vs-jumat-kliwon#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 07:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[aneh]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[mistis]]></category>
		<category><![CDATA[tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu situs purbakala candi(keraton) Ratu Boko ? Jika tak tahu silakan mencari informasinya di internet karena saya tidak akan menjelaskan candi itu di sini.
beberapa hari yang lalu ketika saya secara tak sengaja terdampar disana bersama seorang teman, tak ada angin tak ada hujan sekonyong-konyong datanglah seorang bapak tua berusia 80-an menghampiri kami. dan tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-88" style="margin: 10px" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/08/calendar-piece.jpg" alt="calendar-piece" width="240" height="173" />Anda tahu situs purbakala candi(keraton) Ratu Boko ? Jika tak tahu silakan mencari informasinya di internet karena saya tidak akan menjelaskan candi itu di sini.</p>
<p>beberapa hari yang lalu ketika saya secara tak sengaja terdampar disana bersama seorang teman, tak ada angin tak ada hujan sekonyong-konyong datanglah seorang bapak tua berusia 80-an menghampiri kami. dan tanpa tujuan yang pasti bapak ini lalu bercerita kepada kami tentang dirinya, bahwa ia telah tinggal di sekitar kompleks candi ratu boko sejak lahir, sempat ikut menjadi tentara perebutan kemerdekaan indonesia kala muda dan sebagainya. anehnya kami sama sekali tak keberatan mengikuti ceritanya dari awal sampai akhir, hingga pada akhirnya si bapak bertanya hari dan pasaran kelahiran saya. dengan santai saya jawab saja, kamis pahing pak!</p>
<p>beberapa detik lamanya si bapak komat-kamit sambil menggerakkan jemarinya macam orang yang sedang berhitung, kemudian berpetuah..</p>
<p>&#8220;hari naas kamu Jumat Kliwon, jadi jangan bepergian pada hari itu dan pukul satu siang berkatalah yang baik-baik saja.&#8221;</p>
<p>dan setelah melakukan hal yang sama terhadap teman saya, si bapak pun pergi begitu saja meninggalkan kami yang kebingungan. bahkan menanyakan nama si bapak pun kami tak sempat lagi.</p>
<p>ada masukan ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/87/kamis-pahing-vs-jumat-kliwon/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>merantau, seni pencak silat yang dibungkus dengan rapi</title>
		<link>http://bakulrujak.com/84/merantau-seni-pencak-silat-yang-dibungkus-dengan-rapi</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/84/merantau-seni-pencak-silat-yang-dibungkus-dengan-rapi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 02:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[laga]]></category>
		<category><![CDATA[merantau]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[konon terdapat tradisi di tanah minang, bahwa jika anak laki-laki telah beranjak dewasa, maka telah saatnya ia meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau, tujuannya adalah sebagai pembelajaran diri. tradisi itu pula yang membuat Yuda (Iko Uwais) beranjak meninggalkan kampung halaman dan keluarga yang amat disayanginya. jakarta tujuannya, kota yang sama sekali asing baginya. berangan-angan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-85" style="margin: 10px" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/08/merantau-dlm.jpg" alt="merantau-dlm" width="228" height="214" />konon terdapat tradisi di tanah minang, bahwa jika anak laki-laki telah beranjak dewasa, maka telah saatnya ia meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau, tujuannya adalah sebagai pembelajaran diri. tradisi itu pula yang membuat Yuda (Iko Uwais) beranjak meninggalkan kampung halaman dan keluarga yang amat disayanginya. jakarta tujuannya, kota yang sama sekali asing baginya. berangan-angan untuk menjadi guru silat, Yuda malah dihadapkan dengan dilema ketika justru ditawari untuk bekerja sebagai tukang pukul bagi sebuah organisasi prostitusi.</p>
<p>karena kejujuran dan kelurusan hatinya Yuda justru terlibat dalam misi penyelamatan seorang wanita yang akan dijadikan komoditas dan &#8220;dijual&#8221; ke luar negeri. dengan susah payah Yuda harus berjuang sendirian untuk membebaskan Astri (Sisca Jessica) dan adiknya, Adit (Yusuf Aulia) dari sekapan mafia kelas dunia penyelundup wanita. melalui berbagai macam pertempuran, dari tangan kosong, bersenjatakan tongkat besi hingga pertarungan sengit di atap gedung-gedung Jakarta Yuda berhasil menyelamatkan Astri dan Adit, namun sayang nasib malang justru menghampiri Yuda pada akhirnya. apa yang terjadi? silakan anda nikmati sendiri film ini.</p>
<p>menit-menit awal kita akan dimanjakan dengan panorama bukittinggi yang memanjakan mata, lanskap perbukitan hijau, perumahan khas minang serta kebun dan hutan yang masih alami. ditambah dengan close-up kehidupan penduduk lokal yang berprofesi sebagai petani ladang membuat kita merasa nyaman. untuk standar film laga indonesia, saya sangat salut terhadap film ini. semua scene laga dikerjakan dengan apik dan rapi, bahkan saya sempat lupa jika sedang menonton film dalam negeri. alur cerita sangat biasa, tak lebih dari anak muda yang merantau dan terlibat kisah penyelamatan wanita di kota besar. sangat umum. namun pemilihan tokoh, teknik pengambilan gambar hingga penataan laga plus special efeknya menunjukkan perkembangan yang sangat pesat untuk ukuran film indonesia. saya benar-benar salut.</p>
<p>peringatan saya, film ini kurang direkomendasikan untuk konsumsi anak-anak, sebab banyak sekali adegan pertarungan yang keras serta darah yang berceceran di sana-sini. namun jika memang anda ingin memperkenalkan pencak silat bagi putra-putri anda, jangan lupa untuk selalu mendampingi mereka selama menonton. selamat merantau!</p>
<p>&#8211;dika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/84/merantau-seni-pencak-silat-yang-dibungkus-dengan-rapi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ini jerawat saya</title>
		<link>http://bakulrujak.com/81/ini-jerawat-saya</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/81/ini-jerawat-saya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 15:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[gatal]]></category>
		<category><![CDATA[jerawat]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[muka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[babarapa waktu belakangan (saya lupa kapan tepatnya malapetaka ini dimulai) wajah saya mendapat tamu-tamu tak diundang. alih-alih membawa oleh-oleh, tamu-tamu saya ini malah membuat pusing. bukan karena bentuknya yang mengancam ketampanan yang sudah pas-pasan, tapi juga kehadirannya sangat mengganggu sebab sesekali gatal dan sangat tidak nyaman.
jadi, apakah ada yang tau solusi untuk mengatasi masalah jerawat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-82" style="border: 1px solid #ccc;margin: 10px" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/08/jerawat-1.jpg" alt="jerawat-1" width="249" height="160" />babarapa waktu belakangan (saya lupa kapan tepatnya malapetaka ini dimulai) wajah saya mendapat tamu-tamu tak diundang. alih-alih membawa oleh-oleh, tamu-tamu saya ini malah membuat pusing. bukan karena bentuknya yang mengancam ketampanan yang sudah pas-pasan, tapi juga kehadirannya sangat mengganggu sebab sesekali gatal dan sangat tidak nyaman.</p>
<p>jadi, apakah ada yang tau solusi untuk mengatasi masalah jerawat saya ini? saran-saran yang konyol seperti diamplas atau harus makan duren sekalian kulitnya juga akan saya tampung dengan <span style="text-decoration: line-through">mengelus</span> lapang dada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/81/ini-jerawat-saya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>putri, penari jaipong</title>
		<link>http://bakulrujak.com/76/putri-penari-jaipong</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/76/putri-penari-jaipong#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 03:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[general]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jaipong]]></category>
		<category><![CDATA[jawa barat]]></category>
		<category><![CDATA[tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Putri masih terengah-engah ketika menghampiri saya di pinggiran saung siang itu. dari pagi hingga siag ia memberikan pelatihan dasar tarian jaipong kepada anak-anak peserta sebuah kegiatan jambore yang diselenggarakan stasiun tv swasta. keringat membasahi keningnya namun senyumnya tetap mengembang seakan panasnya siang itu sama sekali tak berpengaruh buatnya.
sindangbarang, bogor, itulah asalnya. baru saja ia diterima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-77" style="padding: 10px" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/07/putri1.jpg" alt="putri1" width="170" height="283" />Putri masih terengah-engah ketika menghampiri saya di pinggiran saung siang itu. dari pagi hingga siag ia memberikan pelatihan dasar tarian jaipong kepada anak-anak peserta sebuah kegiatan jambore yang diselenggarakan stasiun tv swasta. keringat membasahi keningnya namun senyumnya tetap mengembang seakan panasnya siang itu sama sekali tak berpengaruh buatnya.</p>
<p>sindangbarang, bogor, itulah asalnya. baru saja ia diterima di sebuah perguruan tinggi swasta di bogor jurusan akuntansi, bidang yang sangat ia cintai.<br />
mulai belajar menari jaipong pada saat duduk di kelas 1 sma, &#8220;pada awalnya ibu yang memaksa saya, tapi setelah beberapa bulan berlatih dan mendalami jaipong justru saya semakin mencintai tarian ini,&#8221; kenangnya.</p>
<p>proses belajar jaipong yang dijalani putri termasuk cepat. baru setahun berlatih job pertama pun datang menghampirinya. ia diminta untuk membawakan tari jaipong (pada waktu itu berkelompok) dalam sebuah acara penyambutan tamu dari manca negara yang berkunjung ke bogor untuk melakukan misi pengamatan budaya.<br />
&#8220;wih, senang sekali.. apalagi pada waktu itu mendapat honor. walaupun tidak begitu besar tapi saya sangat mensyukurinya,&#8221; tuturnya sambil berbinar-binar.<br />
bisa dibilang itulah awal karir putri sebagai penari profesional. sejak saat itu tawaran pun berdatangan, baik dari perseorangan maupun dari instansi pemerintah. namun tawaran-tawaran tersebut tak lantas langsung diterima begitu saja, sang ibu kembali berperan sebagai filter. waktu pentas tak boleh lebih dari pukul 10 malam dan tak boleh mengganggu jadwal sekolahnya, berarti hanya boleh dilakukan pada hari libur saja.</p>
<p>saya pun mulai bertanya tentang image jaipong yang mulai tercemar oleh &#8216;rekan-rekan seprofesinya&#8217; yang membawakan tarian jaipong untuk hal-hal negatif. putri mengerti hal tersebut, ia pun hanya bisa prihatin dan menyayangkan.<br />
&#8220;seharusnya jaipong menjadi icon kebudayaan jawa barat yang berharga, namun harus tercemar citranya hanya karena ulah segelintir orang,&#8221; sesalnya. &#8220;beberapa penari memang mau melakukan gerakan-gerakan erotis di dalam tariannya, bahkan sebagian bersedia memberikan layanan plus plus kepada tamu dengan imbalan uang&#8221;</p>
<p>namun menurut putri semua kembali ke masing-masing orangnya. &#8220;kami (para penari) hanya sebatas menghadirkan seni tari kami. apakah akan ditanggapi dengan positif atau negatif oleh penikmatnya, yang jelas kami hanya menjalankan profesi kami dengan profesional.&#8221; tegasnya.</p>
<p>walaupun karir menari putri bisa dibilang mulai gemilang, namun ia mengaku bahwa jaipong bukan merupakan tujuan karir utamanya. ia tetap ingin menjadi ekonom, namun cintanya kepada jaipong dan kebudayaan daerah kelahirannya tetap menjadi bagian dari dirinya hingga kapanpun.</p>
<p>putri juga berangan-angan untuk membuka sebuah sanggar tari sendiri untuk anak-anak usia sekolah dasar di kampungnya.<br />
&#8220;ini kebudayaan dari tanah kita, kalau tidak diperkenalkan sedari kecil, takutnya nanti akan menghilang pelan-pelan. dan jika bukan putra daerah seperti kita-kita ini, siapa lagi yang akan merawatnya?&#8221; pungkasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/76/putri-penari-jaipong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rosadi si bocah ban</title>
		<link>http://bakulrujak.com/70/rosadi-si-bocah-ban</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/70/rosadi-si-bocah-ban#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[ban]]></category>
		<category><![CDATA[bocah]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[
celana pendek dan kemeja lusuh berwarna biru langit, rambut yang kemerahan dan kulit hitam legam terbakar terik matahari pantai. Rosadi, begitulah namanya.
bocah kelas 5 sd yang telah 2 bulan ini &#8220;berprofesi&#8221; sebagai penjaga persewaan ban renang di sebuah pantai di pinggiran indramayu yang sepi. ban-ban yang ia jaga pun bukan miliknya, barang-barang itu adalah milik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-71 alignleft" style="margin: 10px" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/07/rosadi1.jpg" alt="Rosadi di depan tumpukan ban sewaannya" width="196" height="126" /></p>
<p>celana pendek dan kemeja lusuh berwarna biru langit, rambut yang kemerahan dan kulit hitam legam terbakar terik matahari pantai. Rosadi, begitulah namanya.</p>
<p>bocah kelas 5 sd yang telah 2 bulan ini &#8220;berprofesi&#8221; sebagai penjaga persewaan ban renang di sebuah pantai di pinggiran indramayu yang sepi. ban-ban yang ia jaga pun bukan miliknya, barang-barang itu adalah milik seorang lelaki berusia 35 tahunan yang tak saya ketahui namanya. rosadi mengaku belum lama mengenalnya.</p>
<p>kebetulan hari itu hari minggu, hari libur dan saat yang sangat dinantikan oleh hampir seluruh anak sekolah untuk bermain, bersantai dan menghabiskan waktu dengan gembira bersama keluarga. begitupun dengan rosadi, hari minggu (dan hari libur pada umumnya) selalu ia sambut dengan gegap gempita. namun bukan untuk bersenang-senang menghamburkan harta orang tuanya, namun karena pada hari liburlah pantai sepi tempat ia biasa &#8220;mangkal&#8221; menjajakan ban sewaannya selalu lebih ramai dari hari-hari biasa. satu kali sewa tarifnya 3000 rupiah, sehingga jika sehari itu ban-nya disewa 10 orang, maka dia akan menyetor sebanyak 30.000 rupiah. mungkin 10.000 rupiah bisa masuk ke kantongnya begitu hari ini berakhir. ya, begitulah sistem perjanjian kerjanya. upah rosadi dibayar harian, tergantung perolehannya hari itu. &#8220;kalau hari libur bisa sampai 10 ribu, kalau hari sedang sepi bisa jadi hanya mendapat seribu, bahkan tak diupah sama sekali.&#8221; demikian yang dituturkannya kepada saya.</p>
<p>teori bahwa anak bungsu selalu identik dengan manja dan dilimpahi kasih sayang oleh orang tua tampaknya sama sekali tak berlaku bagi rosadi. ayahnya telah meninggal saat rosadi masih kecil, sedangkan ibunya&#8230; entah berada dimana sekarang. ada yang bilang telah menikah lagi, ada yang bilang menjadi tkw ke arab saudi, tak ada yang benar-benar terbukti. bagi rosadi satu hal yang ia yakini, ibunya sudah tak mengharapkannya lagi!</p>
<p>rosadi tinggal bersama kakak perempuan satu-satunya yang telah menikah dan memiliki anak. kakak iparnya sehari-hari bekerja sebagai penjaga portal akses masuk ke pantai.<br />
sangat beruntung biaya sekolah rosadi telah ada yang menanggung. &#8220;bapak ketua lapangan&#8221;, begitulah rosadi menyebut orang dermawan itu. dimana dan apa jenis</p>
<p><img class="size-full wp-image-72 alignright" style="margin: 10px" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/07/rosadi2.jpg" alt="rosadi " width="146" height="312" /></p>
<p>pekerjaanya rosadi tak tahu pasti, yang ia tahu bapak ketua lapangan sayang padanya, mungkin karena beliau juga tak memiliki anak. namun mendapat orang tua asuh yang kaya dan menyayanginya sama sekali tak lantas membuat rosadi menjadi malas. toh dia tidak diperbolehkan tinggal bersama bapak ketua lapangan oleh kakak perempuannya, entah kenapa.</p>
<p>satu hal yang membuat saya heran. rosadi sangat gemar bermain seorang diri, entah karena apa. setiap hari sepulang sekolah ia betah sekali bermain pasir dan permainan lain ala kadarnya di samping tumpukan ban di pinggiran laut yang sering sepi itu. benar-benar sendiri! coba anda bayangkan. saya berasumsi itulah sebabnya rosadi berwatak pendiam, menutup diri serta agak susah &#8220;nyambung&#8221; saat diajak berkomunikasi. beberapa kali saya harus mencerna ulang kata-kata polos yang dilontarkannya, ditambah lagi seakan-akan ia selalu menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya.</p>
<p>hari beranjak siang, matahari juga mulai terik. terlalu siang untuk saya berlama-lama di pantai yang lengang itu, namun masih begitu</p>
<p>pagi untuk rosadi. orang-orang yang entah dari mana asalnya mulai berdatangan. rosadi pun menyambutnya dengan segudang harapan. saya meninggalkannya tanpa salam perpisahan. bukan karena saya enggan, namun rosadi mendadak menjadi begitu sibuknya menjajakan ban-ban sewaannya kepada &#8220;turis-turis&#8221; lokal yang baru saja sampai.</p>
<p>rosadi hanya salah satu dari jutaan anak indonesia yang mau tak mau harus kehilangan keceriaan masa kecilnya dan bergelut dengan hidup yang begitu kerasnya, beberapa bahkan dijadikan komoditi oleh pihak-pihak yang seharusnya membela dan memperjuangkan kepentingan mereka. percayalah, dunia ini jauh lebih kejam dan keras dari apa yang kita lihat di permukaan. maka, bersyukurlah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/70/rosadi-si-bocah-ban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

