<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bakul Rujak &#187; Live &amp; Society</title>
	<atom:link href="http://bakulrujak.com/category/live-society/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bakulrujak.com</link>
	<description>Untuk hidup yang selalu menyenangkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 03:32:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Televisi Republik Indonesia</title>
		<link>http://bakulrujak.com/502/televisi-republik-indonesia</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/502/televisi-republik-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 03:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[jadul]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ria jenaka]]></category>
		<category><![CDATA[siaran]]></category>
		<category><![CDATA[tvri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan Album Minggu? Acara musik paling top 20 tahun yang lalu, selalu ditunggu tiap hari Minggu, menayangkan video klip artis-artis papan atas dengan format yang menurut saya merupakan cikal bakal dari program Dahsyat atau Inbox sekarang ini. Belum lagi acara pendidikan sekolah, Si Unyil, program Kelompencapir dan seterusnya. TVRI bisa dibilang memberi warna dalam hidup kala itu, terlepas dari independensi jurnalistik dan lainnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini sembari menikmati sarapan ala kadarnya saya menonton sebuah pertunjukan menarik. Coba tebak, saya menemukan cuplikan sebuah siaran program berjuluk <a title="Ria Jenaka TVRI 1983" href="http://www.youtube.com/watch?v=M3uzFV5waaU&amp;feature=related" target="_blank">Ria Jenaka</a>. Program lawak ini disiarkan oleh TVRI pada tahun 1983, yang diperankan antara lain oleh Ateng dan Iskak (masih ingatkah sampeyan ?)</p>
<p>Kebetulan cuplikan yang saya saksikan bercerita tentang Bagong yang dipercaya membayar pajak oleh bapaknya, Semar, namun justru menyalahgunakan uang pajak untuk makan-makan. Bagaimana menurut sampeyan ?</p>
<p>Cerdas, kesadaran membayar pajak ditanamkan pada waktu itu dengan begitu halus dan penuh sindiran melalui media lawak yang menghibur. Lalu siapa <em>biang</em> dibalik penayangan program hiburan sarat pendidikan tersebut? Tak lain dan tak bukan adalah Televisi Republik Indonesia (TVRI).</p>
<p>Masih ingat dengan Album Minggu? Acara musik paling top 20 tahun yang lalu, selalu ditunggu tiap hari Minggu, menayangkan video klip artis-artis papan atas dengan format yang menurut saya merupakan cikal bakal dari program Dahsyat atau Inbox sekarang ini. Belum lagi acara pendidikan sekolah, Si Unyil, program Kelompencapir dan seterusnya. TVRI bisa dibilang memberi warna dalam hidup kala itu, terlepas dari independensi jurnalistik dan lainnya.</p>
<p>Saya ingin memberi garis bawah pada muatan pendidikan di sini. Mari kita lihat, dari empat <a title="Media dan Segala Kuasanya" href="http://bakulrujak.com/98/seputar-media-dan-segala-kuasanya" target="_blank">fungsi media</a>, yaitu fungsi informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial dan ekonomi, mana yang tak diakomodir oleh TVRI? Pendidikan mendapat porsi yang cukup besar, beberapa program acara bahkan terang-terangan memberikan pelajaran sekolah dengan gamblang layaknya guru yang mengajar. Ada topik khusus matematika, sejarah, fisika dan seterusnya (saya lupa nama programnya). Bahkan untuk acara hiburan khusus anak-anak pun (jika tak salah judulnya Arena 1-2-3) muatan pendidikan dan budi luhur tetap ditanamkan.</p>
<p>Namun sayang. Jika kita amati, setelah belasan tahun berlalu, setelah perusahaan-perusahaan televisi swasta bermunculan bak jamur di musim hujan, TVRI kian tenggelam. Program pendidikan, hiburan, Dunia Dalam Berita, Dialog politik masih ada dan dipertahankan. Lalu apa yang salah? Mari lihat lebih dekat.</p>
<p>Jika saya tak salah menduga, metode penyiaran, jurnalistik sampai layout ruang dialog dan siaran berita nyaris tak mengalami perbaikan sejak dahulu. Serupa! Sayang sekali bukan? Anak-anak jadi tak mengenal stasiun tv nasional ini, yang notabene sarat dengan muatan pendidikan dan pelajaran budi pekerti.</p>
<p>Jika boleh bersuara, kira-kira apa harapan sampeyan pada TVRI ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/502/televisi-republik-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Kata Buat Bokap &#8230;</title>
		<link>http://bakulrujak.com/471/satu-kata-buat-bokap</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/471/satu-kata-buat-bokap#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 04:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[masa kecil]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[bokap]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[
Saya jadi ingat ketika kecil, sedang asyiknya menonton Si Unyil di TVRI, kemudian bapak datang mematikan televisi dan menyuruh saya membantunya membersihkan got depan rumah. Tak terbayang betapa kesalnya. Namun sekesa-kesalnya saya pada saat itu ekspresi terekstrim yang saya tunjukkan adalah cemberut dan bekerja dengan asal-asalan. Tapi seingat saya, tak lebih dari satu jam berselang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/06/bokap2.jpg"><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/06/bokap21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-479" title="bokap twitter 3" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/06/bokap21.jpg" alt="" width="450" height="72" /></a><br />
</a>Saya jadi ingat ketika kecil, sedang asyiknya menonton Si Unyil di TVRI, kemudian bapak datang mematikan televisi dan menyuruh saya membantunya membersihkan got depan rumah. Tak terbayang betapa kesalnya. Namun sekesa-kesalnya saya pada saat itu ekspresi terekstrim yang saya tunjukkan adalah cemberut dan bekerja dengan asal-asalan. Tapi seingat saya, tak lebih dari satu jam berselang, saya sudah benar-benar lupa semua kekesalan itu. Betapa tidak, kala itu satu tatapan tajam bapak seakan mampu membuat saya ciut!</p>
<p><em>Well</em>, mari kita tinggalkan kenangan masa kecil saya itu. Bumi berputar dan masa berganti. Arus informasi berlalu lalang tanpa batas dan hambatan. Saya heran dan tak habis pikir dengan segala regulasi yang diterapkan sang penguasa. Kuno sekali menurut saya, pembatasan akses. Konten yang masuk disaring habis-habisan, konten yang tak lulus sensor akan terkena cekal.</p>
<p>Saya kehabisan kata untuk mengatakan ini. Arus informasi itu seperti air, ditutup di satu pintu maka ia akan mencari jalan lain, tetap akan mengalir, tak terbendung. Memasang filter di satu pintu saja mungkin saja sedikit mengurangi efek negatif. Tapi ingat, konsumen juga belajar. Orang berkata makin dipersulit ia mendapatkan sesuatu, bukannya mundur, justru akan berusaha menemukan cara-cara yang lain.</p>
<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/06/Bokap1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-474" title="Bokap twitter 2" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/06/Bokap1.jpg" alt="" width="321" height="68" /></a></p>
<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/06/Bokap1.jpg"></a>Anak-anak awal masa remaja adalah masa-masa penuh perjuangan dan pilihan. Silakan cari dan baca literatur dan rujukan mengenai hal ini, berserakan dengan bebas di internet. Mari lihat sekeliling, banyak siswa berprestasi yang dengan memanfaatkan media dan segala teknologi bisa mengangkat harkat diri sendiri hingga bangsanya. Namun mari lihat sisanya.</p>
<p>Arus masuk boleh di blokade dengan ketat, namun bagaimana membendung arus keluar? Semua orang (dianggap) boleh berekspresi dengan bebas kini, tak ada batasan sama sekali di media dewa bernama internet. Akibatnya, lihat saja gambar-gambar yang saya sertakan.</p>
<p>Jika benar tak ada filter di media, maka bagaimana membendung arus kebebasan &#8216;liar&#8217; itu? Pendapat saya, tindakan preventif.</p>
<p>Tindakan preventif, sebelum anak mengenal segala bentuk penyaluran ekspresi di internet, tanamkan dulu nilai-nilai moral yang memadai. Agama dan etika sopan-santun. Tak mudah, memang.</p>
<p>Lembaga-lembaga pendidikan atau organisasi yang merasa bertanggung jawab memperkenalkan teknologi kepada siswa juga harus berimbang. Mengajarkan menggunakan internet, memperkenalkan dan menunjukkan segala manfaat twitter, facebook, milis tanpa diimbangi pendidikan moral dan tata krama yang memadai adalah omong kosong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/471/satu-kata-buat-bokap/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wibisana, Kebenaran dan Pengkhianatan Sejati</title>
		<link>http://bakulrujak.com/457/wibisana-kebenaran-dan-pengkhianatan-sejati</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/457/wibisana-kebenaran-dan-pengkhianatan-sejati#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 04:19:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[general]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[wibisana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Ah, hari ini sedang ingin mendongeng.
Syahdan di negara Alengka, tanah para rakshasa, Rahwana yang agung berkuasa sebagai raja. Sifat serakah dan lalim membuatnya tergoda untuk menculik Sita, istri seorang ksatria sakti bernama Rama.
Keinginan hampir terwujud, Sita telah berada di Alengka. Rahwana sendiri yang menculiknya dari sisi Rama, suaminya. Terlindung diantara megahnya istana Alengka, Sita menderita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-458" title="wibisana" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/04/wibisana.jpg" alt="wibisana" width="150" height="214" />Ah, hari ini sedang ingin mendongeng.</p>
<p>Syahdan di negara Alengka, tanah para <em>rakshasa</em>, Rahwana yang agung berkuasa sebagai raja. Sifat serakah dan lalim membuatnya tergoda untuk menculik Sita, istri seorang ksatria sakti bernama Rama.</p>
<p>Keinginan hampir terwujud, Sita telah berada di Alengka. Rahwana sendiri yang menculiknya dari sisi Rama, suaminya. Terlindung diantara megahnya istana Alengka, Sita menderita siang dan malam, tubuh menjadi semakin kurus, kemawahan dan kejayaan yang dijanjikan Rahwana tak membuat luruh cintanya kepada Sri Rama.</p>
<p>Sementara di seberang samudera, Rama dan Laksmana, adiknya, telah mendapat bala bantuan dari kaum <em>wanara</em> yang dipimpin oleh Sugriwa. Mereka menyusun strategi guna menggempur Alengka dan menjemput kembali Sita.</p>
<p>Di sisi kaum <em>rakshasa</em>, Rahwana memiliki dua saudara lelaki bernama Wibisana dan Kumbakarna. Konon mereka bertiga (Rahwana, Wibisana dan Kumbakarna) sangat taat menmuja dewa <em>Brahma</em>. Hingga pada suatu saat <em>Brahma</em> turun ke bumi menemui ketiga bersaudara wangsa <em>rakshasa</em> tersebut. Rahwana dan Kumbakarna meminta kesaktian dan kemampuan untuk menandingin para dewata. Namun Wibisana justru memohon diberikan kebijaksanaan.</p>
<p>Dalam menyikapi pertentangan antara Rahwana dan Rama, baik Wibisana maupun Kumbakarna sadar betul bahwa saudara mereka berada di pihak yang salah. Wibisana berusaha sekuat tenaga membujuk Rahwana untuk mengembalikan Sita dan berdamai dengan Rama. Tak terima ditentang oleh adiknya sendiri, Rahwana mengusir Wibisana.</p>
<p>Berbeda dengan Wibisana, Kumbakarna lebih mencintai tanah airnya. Dia tahu pasti Rahwana salah dan jahat, namun rupanya rasa cinta dan pengabdian terhadap bangsa dan negara mengalahkan bisikan hati nuraninya.</p>
<p>Demikian, pada akhirnya Wibisana menyeberang ke pihak Rama, yang walaupun dengan bergitu berarti ia harus berkhianat pada bangsa dan rajanya, namun Wibisana merasa tenang batinnya sebab telah berada di pihak yang benar.</p>
<p>Sesaat sebelum pertempuran meletus, Wibisana meminta ijin kepada Rama untuk menemui Kumbakarna, kakak yang sangat dicintainya. Wibisana memohon ampun dan maklum kepada kakaknya bahwa ia dengan berat hati harus berkhianat kepada bangsanya dan menyeberang ke pihak musuh.</p>
<p>Kumbakarna sangat maklum dengan keadaan adiknya dan mengatakan bahwa dengan berat hati juga ia harus membela tanah air dan bangsanya hingga titik darah penghabisan, meskipun tahu bahwa rajanya berada di pihak yang salah.</p>
<p>Akhirnya perang besar meletus antara kubu Rama dan tentara Alengka. Rahwana dan Kumabakarna pada akhirnya bisa ditumbangkan oleh panah-panah Rama dan Laksmana.</p>
<p>Sepeninggal kedua kakaknya, Wibisana dinobatkan menjadi raja Alengka. Ia memimpin dengan bijaksana dan menjadikan Alengka negara yang selalu mengamalkan <em>dharma</em>. Wibisana juga merawat dan menghormati janda Rahwana yang bernama Mandodari, dan hidup tentram bersama permaisurinya, Sarma.</p>
<p>Setelah memerintah cukup lama, Wibisana menyerahkan kepemimpinan Alengka kepada putranya Bisawarna dan ia sendiri memutuskan untuk menjadi pertapa (<em>resi</em>) di gunung Cindramanik.</p>
<blockquote><p><strong>Moral cerita</strong>, Wibisana bijaksana dan selalu mengikuti hati nuraninya menuju kebenaran. Kumbakarna adalah patriot sejati, rasa cinta tanah air dan pengabdian pada negara membuatnya rela mengabaikan hati nurani dan memilih menerima panggilan negara, meskipun ia tahu pasti tak ada peluang mengalahkan ksatria sakti bernama Rama itu. Ingin menjadi seperti Wibisana atau Kumbakarna, silakan Anda putuskan sendiri.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/457/wibisana-kebenaran-dan-pengkhianatan-sejati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku yang Dibredel, Intelektualitas yang Dicekal</title>
		<link>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 04:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan panjang]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualitas]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kejagung]]></category>
		<category><![CDATA[pencekalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Berapa buku yang sempat anda baca? Entah sejak kapan, buku telah menjadi instrumen pembentuk intelektualitas rakyat. Ia juga merupakan salah satu perangkat yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan opini, penentu sikap dan pendewasaan berpikir. Buku juga merupakan karya intelektual para pengarangnya, yang telah melewati masa riset dan uji kelayakan yang tak main-main. Apapun yang terkandung di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-410" title="Buku" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/02/bukuu.jpg" alt="Buku" width="200" height="149" />Berapa buku yang sempat anda baca? Entah sejak kapan, buku telah menjadi instrumen pembentuk intelektualitas rakyat. Ia juga merupakan salah satu perangkat yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan opini, penentu sikap dan pendewasaan berpikir. Buku juga merupakan karya intelektual para pengarangnya, yang telah melewati masa riset dan uji kelayakan yang tak main-main. Apapun yang terkandung di dalamnya juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi bahan pengaya berpikir kita.</p>
<p><strong>Kejaksaan membredel buku<br />
</strong> Tertanggal 3 Desember 2009, Kejagung secara resmi menyatakan pencekalan terhadap 5 judul buku yang beredar. Kelima buku tersebut adalah Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa, Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri, karya Cocratez Sofyan Yoman, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan, karya Darmawan MM, dan Mengungkap Misteri Keberagaman Agama, karangan Drs H Syahrudin Ahmad.</p>
<p>Pola yang masih sama seperti yang terjadi pada era-era sebelumnya. Buku-buku yang dibredel sebagian besar masih berkutat pada tema nasionalisme dan ideologi.</p>
<p><strong>Mengapa dibredel ?</strong><br />
Mari kita ulas, apa saja kira-kira yang melatar belakangi pembredelan buku-buku ini. Buku karya Cocratez Sofyan Yoman, Darmawan MM dan Drs H Syahrudin Ahmad berbicara seputar keagamaan. Kontroversi dan konspirasi keyakinan nampak dengan jelas pada judulnya. Sementara sisanya, John Rossa, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan menulis tentang kontroversi seputar gerakan 30 September dan yang terjadi setelahnya.</p>
<p>Kejagung hanya menyebutkan buku-buku tersebut dicekal karena dapat mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UUD 1945, dan Pancasila. Titik. Tak ada penjabaran lebih lanjut apa dan bagaimana bisa menyebabkan ketertiban menjadi terganggu oleh karena orang membaca buku. Sehingga (mohon maaf) untuk kasus ini saya lebih menghargai MUI yang melakukan himbauan untuk tidak melakukan ini dan itu ataupun menonton film ini dan itu. Setidaknya masih ada penjelasan di belakangnya.</p>
<p><strong>Kebenaran versi siapa ?</strong><br />
Lain lagi dengan kisah kelima buku yang dicekal secara resmi oleh Kejagung, adalah Boni Hargens seorang dosen Politik UI sekaligus praktisi politik yang menulis buku berjudul 10 Dosa Politik SBY-JK. Buku Boni memang tak secara formal dicekal oleh siapapun, namun secara &#8216;ajaib&#8217; menghilang dari toko-toko buku. Ada apa?</p>
<p>Kembali, topik seputar kontroversi komunisme di Indonesia dan keberagaman agama adalah topik yang paling sensitif dan rawan, saya mengakuinya. Saya sendiri juga selalu antusias terhadap buku yang mengulas hal-hal tersebut di atas. Terutama mengenai seputar gerakan 30 September 1965, apa dan bagaimananya. Mengapa? Tak perlu disangsikan bahwa sejak masih duduk di sekolah dasar hingga entah kapan, buku-buku pelajaran sejarah menuliskan suatu fakta tentang peristiwa penghianatan partai komunis Indonesia dari satu sudut pandang saja. Ya, hanya dari versi pemerintah (pada masa itu).</p>
<p>Kemudian pada masa peralihan ke era reformasi, kaum intelektual semakin berani bersuara, makin banyak versi yang beredar. Multi-versi seperti itu menurut saya sangat sehat sebab orang semakin bebas memutuskan mana yang menurut mereka paling layak dibenarkan.</p>
<p>Jadi jika dimasa kini masih terjadi pencekalan terhadap karya-karya intelektual yang didasari penelitian dan fakta yang teruji, dan seakan masih tetap saja menjejalkan kebenaran yang dipaksakan, layaklah kiranya kita bertanya. Kebenaran versi siapa ?</p>
<p><strong>Mari berpikir</strong><br />
Tak ada orang yang bertindak anarkis dan membunuh setelah membaca sebuah buku. Semua buku yang dikonsumsi adalah sumber informasi yang memperkaya. Memperkaya persepsi, sudut pandang, sekaligus menjadi bahan pembelajaran untuk menerima berbagai versi dari sebuah fakta, sebab memang itulah esensi dari sistem demokrasi. Banyak pendapat dan sudut pandang adalah pupuk dari demokrasi yang sehat.</p>
<p><em>Gambar: www.wartakota.co.id</em></p>
<blockquote><p><em><strong>Pranala:</strong></em><strong><br />
</strong><a href="http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06/pembredelan-akun-cermin-admin-yang-tidak-demokratiskah/ " target="_blank"> http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06/pembredelan-akun-cermin-admin-yang-tidak-demokratiskah/<br />
</a><a href="http://kickandy.com/theshow/2010/01/29/1780/1/1/1/MENGAPA-MEREKA-DIBUNGKAM- " target="_blank"> http://kickandy.com/theshow/2010/01/29/1780/1/1/1/MENGAPA-MEREKA-DIBUNGKAM-<br />
</a><a href="http://indonesiabuku.com/?p=3210 " target="_blank"> http://indonesiabuku.com/?p=3210<br />
</a><a href="http://oase.kompas.com/read/2009/12/24/2158302/Tentang.Pembredelan.Lima.Buku.oleh.Kejagung" target="_blank"> http://oase.kompas.com/read/2009/12/24/2158302/Tentang.Pembredelan</a>&#8230;</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Kos Tukang Sol</title>
		<link>http://bakulrujak.com/384/pak-kos-tukang-sol</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/384/pak-kos-tukang-sol#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 04:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bener-bener Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[general]]></category>
		<category><![CDATA[pak kosasih]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tepi jaman]]></category>
		<category><![CDATA[tukang sol sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Langkahnya berat tapi pasti, punggungnya mulai membungkuk tapi bahunya tetap setegar dulu. Pak Kosasih (Pak Kos) berjalan dengan mantap di siang panas itu. Di pundaknya menggantung sebuah pikulan dengan dua beban di kedua ujungnya, sambil sesekali teriakannya memecah keangkuhan Jakarta siang itu, &#8220;sol sepatuu!&#8221;
Sudah sejak pagi saya menunggunya melintas di jalan depan kontrakan. Sepatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Langkahnya berat tapi pasti, punggungnya mulai membungkuk tapi bahunya tetap setegar dulu. Pak Kosasih (Pak Kos) berjalan dengan mantap di siang panas itu. Di pundaknya menggantung sebuah pikulan dengan dua beban di kedua ujungnya, sambil sesekali teriakannya memecah keangkuhan Jakarta siang itu, &#8220;sol sepatuu!&#8221;</p>
<p>Sudah sejak pagi saya menunggunya melintas di jalan depan kontrakan. Sepatu yang baru saya beli tiga bulan yang lalu mulai menyingkap perekatnya di bagian tumit dan ujungnya. Tukang sol sepatu selalu menjadi solusi alternatif jika belum ingin membeli sepatu baru.</p>
<p>Tahun 1984 Pak Kos berangkat ke Jakarta dari Garut bersama beberapa orang teman bermodal tekad, semangat, mimpi dan sedikit uang saku. Tanpa ijasah, tanpa keahlian. Sampai di Jakarta, berkenalanlah ia dengan seorang tukang sol sepatu di terminal Cililitan yang menurunkan ilmu sol sepatu kepadanya.</p>
<p>Tahun-tahun pertama ia mendapat angin segar rupanya. Pak Kos mangkal di seputaran terminal Cililitan, di trotoar dekat pos polisi tepatnya. Masyarakat Jakarta kala itu, dengan daya beli yang relatif rendah dan harga yang tinggi membuat mereka berpikir ulang untuk buru-buru membeli barang baru ketika yang lama sedikit rusak. Jika sepatu atau sendal tua sedikit terkelupas lemnya, tukang sol sepatu solusinya!</p>
<p>Namun apa mau dikata, awal tahun 1990-an, Jakarta berubah. Teman-teman senasib mulai berduyun-duyun mengikuti jejaknya ke Jakarta, sialnya sebagian besar dari mereka memilih tukang sol sepatu sebagai profesi juga. Persaingan semakin ketat, napas semakin sesak saja bagi Pak Kos kala itu. Dengan berat hati ditinggalkanlah profesi tukang sol sepatu yang telah menghidupinya selama hampir sepuluh tahun terakhir.</p>
<p>Berjualan gorengan, bubur, ayam goreng, hingga baju anak-anak pun dicoba Pak Kos. Benar-benar malang tak bisa ditolak, segala usaha Pak Kos tak jua menghasilkan keuntungan, padahal kala itu ia telah menikahi seorang wanita betawi dan memiliki 2 orang anak.</p>
<p>Tekad dibulatkan, Pak Kos kembali ke profesi awalnya, tukang sol sepatu. Namun berbeda teknik &#8220;pemasarannya&#8221; kali ini, ia berjalan kaki berkeliling kampung. Entah keahliannya di bidang itu, atau mungkin memang telah digariskan pintu rejekinya berasal dari sol sepatu, Pak Kos kembali memperoleh kehidupannya, dapur pun kembali mengepul. Dengan sabar, setiap hari dari pagi hingga petang Pak Kos berjalan menyusuri jalan-jalan kampung yang sempit hingga ke bilangan Pasar Minggu, sembari meneriakkan jasanya, hingga kini.</p>
<p>Hari ini, kala usianya telah menginjak separuh abad, Pak Kos masih bertahan. Dengan peluh yang mengalir dari sekujur tubuhnya Pak Kos masih tetap setia menyusuri jalan-jalan Jakarta yang bau dan tak selalu ramah itu. Pulang kampung? Pak Kos mengaku saat ini sangat malas untuk pulang ke Garut, sebab selain biaya yang semakin mahal, saat telah sampai kampung banyak saudara dan familinya yang kerap meminta uang padanya.</p>
<p>Dan saat ini Pak Kos harus bekerja ekstra keras untuk mengumpulkan lebih banyak uang, mengingat beberapa bulan lagi, dua dari enam orang anaknya akan menempuh ujian akhir dan harus melanjutkan ke jenjang berikutnya!</p>
<blockquote><p><strong>Catatan</strong>:</p>
<p>Pak Kos ini sangat pemalu dan anti-eksis. Sampai-sampai saya sangat kesulitan memperoleh fotonya, pandai sekali ia berkelit kesana-kemari. Tak hilang akal, saya potret pakai kamera ponsel saya yang jadul. Yak, dapat! Konsekuensinya sampai saat ini saya sudah jungkir balik berusaha mentransfer foto dari ponsel saya yang super antik itu ke komputer. Dan&#8230; belum berhasil sampai sekarang.. <img src='http://bakulrujak.com/rujak/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/384/pak-kos-tukang-sol/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menjilat</title>
		<link>http://bakulrujak.com/58/mari-menjilat</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/58/mari-menjilat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 06:16:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[general]]></category>
		<category><![CDATA[birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[menjilat]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://betet.blogdetik.com/2008/03/14/mari-menjilat/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana agar saya bisa cepat naik jabatan dan memperoleh gaji bagus di kantor ?
Saya telah menemukan caranya, menjadi penjilat. Ya, bekerja sekenanya bahkan cenderung hanya bermain-main saja, mendengarkan musik dan ngobrol dengan teman-teman di internet di saat bos tidak ada, tapi ketika si bos datang, segera saya akan mengganti wajah. Serius bekerja dengan membuka aplikasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana agar saya bisa cepat naik jabatan dan memperoleh gaji bagus di kantor ?<br />
Saya telah menemukan caranya, menjadi penjilat. Ya, bekerja sekenanya bahkan cenderung hanya bermain-main saja, mendengarkan musik dan ngobrol dengan teman-teman di internet di saat bos tidak ada, tapi ketika si bos datang, segera saya akan mengganti wajah. Serius bekerja dengan membuka aplikasi yang &#8216;keren&#8217; dan akan membuat bos terkesan, memegang kepala dengan sebelah tangan agar terkesan berpikir keras memecahkan persoalan perusahaan, wah, pasti bos segera akan melihat bahwa saya adalah seorang karyawan teladan yang akan segera membuat profit perusahaan meningkat puluhan kali lipat.</p>
<p>Saya juga tidak perlu bergaul dengan karyawan-karyawan lain yang tidak terlalu saya butuhkan, cukup dekati dan ciptakan kesan akrab dan kekeluargaan dengan para dedengkot perusahaan saja. Mulai supervisor ke atas lah. Saya akan usahakan untuk berkomunikasi dengan mereka setiap harinya, entah itu membicarakan issue yang sedang hangat yang bermunculan di berita, ataupun sekedar bertanya kabar dia atau keluarganya.</p>
<p>Tak lupa untuk melihat keadaan sekitar, lihat saja, siapa yang sekiranya akan menghalangi langkah saya. Orang yang bekerja dengan serius dan mulai menarik hati pimpinan tidak bisa dibiarkan, tentu saja akan &#8216;membahayakan&#8217; jalan saya. Jatuhkan dia! Bagaimanapun caranya, kalau perlu yakinkan atasan bahwa saya lah yang paling baik, tak lupa dengan sedikit bumbu keburukan-keburukan si rival kerja. Pasti bos tak akan meliriknya lagi.</p>
<p>Ok, lengkaplah rencana saya. Bisa saya pastikan si bos akan sangat dekat dengan saya, yakin denga kinerja saya dan yang paling pokok adalah jabatan bagus dan gaji saya yang akan terpompa dengan lancar. Huuh..</p>
<p>Hey, apa Anda orang seperti saya ??</p>
<blockquote><p><strong><em>Notes</em></strong></p>
<p>Artikel ini saya tulis dan publikasikan pada Maret 2008. Tapi entah mengapa hari ini saya tertarik sekali untuk menampilkannya kembali.. Semoga berkenan <img src='http://bakulrujak.com/rujak/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Bakulrujak</strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/58/mari-menjilat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar kesepian</title>
		<link>http://bakulrujak.com/311/seputar-kesepian</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/311/seputar-kesepian#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 01:20:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[berteman]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[modern]]></category>
		<category><![CDATA[sepi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[
Sampeyan merasa mulai kecanduan facebook, twitter, plurk, formspring atau semacamnya?
Belakangan saya mulai berpikir bahwa manusia era kini semakin menggeser makna pergaulan dari jaman konvensional ke arah digital. Sampai-sampai dalam berteman pun seakan tak perlu bertemu muka. Cukup dengan meninggalkan komentar di wall facebook atau menanyakan aktifitas teman melalui twitter, kita sudah merasa punya banyak teman. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-312 aligncenter" title="loneliness" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2009/12/loneliness.jpg" alt="loneliness" width="348" height="231" /></p>
<p>Sampeyan merasa mulai kecanduan facebook, twitter, plurk, formspring atau semacamnya?</p>
<p>Belakangan saya mulai berpikir bahwa manusia era kini semakin menggeser makna pergaulan dari jaman konvensional ke arah digital. Sampai-sampai dalam berteman pun seakan tak perlu bertemu muka. Cukup dengan meninggalkan komentar di wall facebook atau menanyakan aktifitas teman melalui twitter, kita sudah merasa punya banyak teman. Pernahkah sampeyan mikir kalau sebenarnya sampeyan mulai merasa sangat kesepian ?</p>
<p>Dan di saat semakin banyaknya list teman di facebook atau jumlah follower di twitter jauh melebihi jumlah following, saat kita merasa semakin beken di dunia maya dan semakin banyak yang mengenal, apakah kita benar-benar yakin kebutuhan untuk bersosialisasi telah terpenuhi sepenuhnya? Atau jangan-jangan sebenarnya kita sedang merasa sangat kesepian&#8230;</p>
<p>&#8211;</p>
<p><font style="font-size: small; color: #AAA"><em><strong>update</strong>: seiring makin banyaknya spam yang nyasar ke blog bakulrujak, maka kebijakan pertama adalah menggunakan plugin Spam Karma. Eh, malah sering-seringnya komentar dari orang-orang baik hati malah ikutan kena filter juga. Mohon maaf buat bapak/ibu yang komentarnya tiba-tiba ilang ditelan form.  Tapi tenang saja, akan segera dikembalikan di tempat yang benar begitu saya temukan di folder spam. hehehe</em></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/311/seputar-kesepian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Menangisi Akhir Pekan</title>
		<link>http://bakulrujak.com/306/seputar-menangisi-akhir-pekan</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/306/seputar-menangisi-akhir-pekan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 02:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[jenny]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[lirik]]></category>
		<category><![CDATA[manifesto]]></category>
		<category><![CDATA[menangisi akhir pekan]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini saya menemukan lagu yang keren, tentu saja dari sudut dengar telinga saya sendiri   .
Group band indie dari Jogja bernama Jenny. Konon mereka telah 6 tahun membentuk group band tapi baru-baru ini saja mengeluarkan album pertama, berjuluk Manifesto.
Lagu yang paling nyaman di telinga dan di suasana saya adalah berjudul Menangisi Akhir Pekan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-307" title="jenny - manifesto" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2009/12/jenny-1.jpg" alt="jenny - manifesto" width="286" height="269" />Belakangan ini saya menemukan lagu yang keren, tentu saja dari sudut dengar telinga saya sendiri <img src='http://bakulrujak.com/rujak/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .<br />
Group band indie dari Jogja bernama Jenny. Konon mereka telah 6 tahun membentuk group band tapi baru-baru ini saja mengeluarkan album pertama, berjuluk Manifesto.<br />
Lagu yang paling nyaman di telinga dan di suasana saya adalah berjudul Menangisi Akhir Pekan. Yap, sesuai judulnya lagu ini mengisahkan bagaimana anak-anak muda (ehm, seperti saya) menghabiskan akhir pekan mereka. Liriknya sangat sederhana, jujur, apa adanya dan dinamis. Saya menyukainya.<br />
Ini dia lirik lagu Jenny &#8211; Menangisi Akhir Pekan.</p>
<p>&#8211;<br />
<strong> MENANGISI AKHIR PEKAN</strong></p>
<p>hingar bingar hampa<br />
dalam tempo yang semakin melambat<br />
sepekan tertukar dengan lari paksa rutinitas</p>
<p>satu terakhir dari tujuh<br />
saatnya tanggalkan baju perangku<br />
sandarkan tubuh lelah lemah lelah sandarkan dulu</p>
<p>permintaan dan pemenuhan<br />
terangkai dalam sebuah rantai makanan<br />
sepekan termakan dalam rantai makanan itu</p>
<p>satu paling ujung dari tujuh<br />
saatnya tumpahkan keluh kesahku<br />
bingarkan panggung rendah luas terang tanpa barikade</p>
<p>teman dan pencerita<br />
panggung dan pertunjukan<br />
cairan dan pendosa<br />
rayakan dengan<br />
asap di hela napas<br />
jalan dan pencarian jawaban<br />
ingatan dan penyesalan<br />
tangisi akhir pekanmu</p>
<p>satu yang terakhir dari tujuh<br />
saatnya tanggalkan baju perangku<br />
saatnya sandarkan tubuh lelahku<br />
saatnya tumpahkan keluh kesahku<br />
saatnya bingarkan panggungku</p>
<p>tangisilah<br />
rayakanlah<br />
&#8211;</p>
<p>Lagunya bisa didownload <a href="http://www.4shared.com/get/149524049/6a93d75e/Jenny_-_Menangisi_Akhir_Pekan.html" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/306/seputar-menangisi-akhir-pekan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar konsumtif dan indonesia</title>
		<link>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 05:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan panjang]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[seorang teman pernah bercerita kepada saya, suatu hari ia pergi ke sebuah acara pameran peralatan elektronik di jakarta dan pulang dengan tas-tas yang berisi barang perkakas komputer yang baru dibelinya. kemudian dia mengaku hampir 2 bulan peralatan barunya hanya menumpuk saja di rak dan tak digunakannya karena bingung untuk apa. mudah sekali ya masyarakat indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="antrian panjang di mall" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/12/crocsale.jpg" alt="" width="300" height="225" />seorang teman pernah bercerita kepada saya, suatu hari ia pergi ke sebuah acara pameran peralatan elektronik di jakarta dan pulang dengan tas-tas yang berisi barang perkakas komputer yang baru dibelinya. kemudian dia mengaku hampir 2 bulan peralatan barunya hanya menumpuk saja di rak dan tak digunakannya karena bingung untuk apa. mudah sekali ya masyarakat indonesia mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebetulnya kurang diperlukan.. apakah teman saya itu telah menjadi konsumtif ?</p>
<p><strong>mengapa konsumtif?</strong></p>
<p>mengapa masyarakat indonesia menjadi konsumtif ? saya sengaja hanya fokus terhadap masyarakat indonesia sebab konon di negara lain sifat konsumtif tak terlalu menonjol seperti di indonesia. tak percaya? kapan-kapan mari kita pergi ke sana dan membuktikannya.</p>
<p><em><strong>1. gengsi</strong></em></p>
<p>membeli telepon genggam model terbaru yang berukuran besar yang bisa digunakan untuk mengambil gambar, mendengarkan musik dengan kualitas super, menulis dan meng<em>edit</em> dokumen, mengolah <em>images</em>, <em>bluetooth</em>, <em>wi-fi</em>, modem, <em>push email</em>, gps, bla, bla, bla. pertanyaannya, berapa banyak dari segudang fitur tersebut yang anda pergunakan dengan maksimal? geli sekali saya ketika suatu hari saya bertanya pada seorang ABG (anak baru gede) yang dengan percaya dirinya menenteng sebuah telepon genggam merek terkenal, tentang apa yang biasa ia lakukan dengan perangkat mahalnya itu. ia jawab, untuk telepon, sms dan&#8230;. <em>facebookan</em> (mengupdate facebook &#8212; situs jejaring sosial paling mentereng saat ini). itulah yang saya sebut gengsi.</p>
<p>mereka merasa percaya diri, hebat dan bahagia luar biasa bila memegang barang-barang bermerek internasional, berkilau dan <em>up-to-date</em>, plus menjadi pusat perhatian. sebaliknya, resah, gelisah dan merasa sangat hina jika harus berjalan di tengah keramaian tanpa dilengkapi barang-barang tersebut. itu gaya hidup.</p>
<p>celakanya, tingkat sosial masyarakat sering kali (seakan) ditentukan oleh perangkat yang dikenakan. jas dan kemeja berkelas, sepatu mengkilap, telepon genggam sebesar batu bata yang tak lepas dari tangan, seolah dengan lantang berteriak &#8220;hai semua, saya orang terhormat!&#8221;</p>
<p>anda pernah pergi ke mall kelas elite dengan mengenakan pakaian sopan dan rapi (namun kurang bermerek) dan di pandang dengan sinis oleh hampir semua orang? saya pernah.</p>
<p><strong><em>2. banyak menonton dan kurang membaca.</em></strong></p>
<p>dimana konsumen mendapat informasi barang-barang keluaran terbaru? jawabannya adalah sebagian besar dari mereka menemukannya di iklan televisi. spesifikasi, peringatan dan himbauan (yang pada umumnya tertulis) tak terlalu dihiraukan. yang penting miliki dulu, daripada keduluan tetangga.</p>
<p>mengapa harga beriklan di televisi menjadi berkali-kali lipat lebih mahal daripada beriklan di koran? ya karena iklan di televisi jauh lebih efektif menjaring pembeli daripada iklan yang terpampang di surat kabar.</p>
<p>padahal di media cetak kita punya lebih banyak waktu dan ruang untuk mempelajari baik dan buruknya sebuah produk, spesifikasi teknis, mempertimbangkan, dan seterusnya sehingga pengeluaran yang seharusnya tak perlu bisa ditekan.</p>
<p><strong><em>3. negeri sejuta komunitas</em></strong></p>
<p>anda sadari atau tidak, kegiatan kopdar (kopi darat) komunitas hanya (atau setidaknya paling banyak dilakukan) di indonesia! saya juga baru menemukan fakta ini ketika mengikuti pesta blogger beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>lalu hubungannya dengan sifat konsumtif? hmmm&#8230; jadi misalnya di sebuah komunitas hampir semua anggotanya menggunakan nokia komunikator, kemudian anda satu-satunya anggota yang tak menggunakan gadget jenis tersebut. apa yang anda pikirkan? terkadang ketakutan untuk <em>ditolak</em> oleh komunitas karena &#8216;perbedaan&#8217; ini menjadi begitu dominan dan membuat seseorang menjadi konsumtif juga.</p>
<p><strong>kebablasan</strong></p>
<p>mungkin kita bisa saja mengatakan, &#8220;ah biarkan saja, toh mereka punya uang&#8221;</p>
<p>tapi tunggu dulu, pernahkah anda mendengar berita tentang pelajar yang melakukan &#8220;korupsi&#8221; uang sekolah untuk membeli sepatu <em>sport</em> agar bisa &#8216;diterima&#8217; oleh teman-temannya dan dikatakan <em>gaul</em> ?</p>
<p>atau saudara-saudara kita yang sebetulnya hidup berkecukupan namun nekat mencopet atau menjual narkoba hanya untuk membeli mobil baru agar tak kalah dengan tetangga sebelahnya?</p>
<p>sifat konsumtif (dan segala sesuatu) akan berakibat kurang baik tatkala mulai melampaui batasnya. apakah pantas hanya untuk hal-hal yang belum tentu besar manfaat dan kegunaannya, kita harus merugikan orang lain ?</p>
<p><strong>sementara itu &#8230;</strong></p>
<p>ah, sedih saya menuliskannya. di beberapa daerah terpencil di sudut-sudut indonesia, saudara-saudara kita harus berjalan 10 kilometer hanya untuk mengambil 2 jerigen air bersih untuk masak. harus berjalan kaki melewati sungai, tebing dan hutan-hutan untuk bersekolah. dan seterusnya.</p>
<p>lalu masih pantaskah kita disebut warga negara beradab, jika di satu tempat saudara kita mengantri di tengah terik matahari dan debu, untuk mendapatkan sedekah senilai 20ribu rupiah, sementara kita mengantri di ruangan luas ber-AC untuk membeli kemeja <em><span style="font-size: x-small;">Calvin Klein </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-size: x-small;">seharga jutaan rupiah?</span></span></em></p>
<p><strong>syukuri saja</strong></p>
<p>bukan orang indonesia rasanya jika tak pandai bersyukur dan selalu mengambil nilai positif dari segala hal. sifat konsumtif masyarakat ini sedikitnya memiliki 3 sisi positif, seperti yang ditulis Ir Handito Joewono di Agrimedia tahun 2003, yaitu:</p>
<p>1. sifat konsumtif masyarakat menunjukkan bahwa indonesia memiliki banyak marketer yang handal. terbukti mereka bisa dengan sukses merayu para konsumen untuk berbelanja dan terus menghabiskan uang mereka untuk produk yang dipasarkan. tentu saja para marketer ini aset yang berharga untuk menghadapi pasar bebas kelak.</p>
<p>2. semaki deras uang yang berputar, maka pajak dan pemasukan negara akan mengalir pula. selain itu iklim investasi positif juga akan terdorong.</p>
<p>3. tingkat konsumtif bisa menjadi hal positif bila merata hingga masyarakat lapisan bawah, apalagi disalurkan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga.</p>
<p>jadi, apakah anda tipe masyarakat yang konsumtif ?</p>
<p><em>Gambar: http://ekonomi.kompasiana.com/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar sakit</title>
		<link>http://bakulrujak.com/286/seputar-sakit</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/286/seputar-sakit#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 04:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[bed rest]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[wejangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[sejak hari kamis yang lalu saya tergolek tak berdaya di kasur karena kuman-kuman salmonella thypi yang dengan seenaknya berenang-renang di darah dan menyebabkan usus saya terkena infeksi. ya, saya kena typus.
tak boleh melakukan apapun, hanya boleh makan bubur dan ini dan itu.. ah, dokter ini lebai sekali.
tapi beberapa hari yang lalu tes lab lagi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sejak hari kamis yang lalu saya tergolek tak berdaya di kasur karena kuman-kuman salmonella thypi yang dengan seenaknya berenang-renang di darah dan menyebabkan usus saya terkena infeksi. ya, saya kena typus.</p>
<p>tak boleh melakukan apapun, hanya boleh makan bubur dan ini dan itu.. ah, dokter ini lebai sekali.</p>
<p>tapi beberapa hari yang lalu tes lab lagi dan hasilnya sudah negatif, artinya aturan sedikit dilonggarkan. tapi tetap, tak boleh makan yang pedas dan terlalu asam.</p>
<p>beberapa hal saya pelajari ketika sakit, pertama adalah bahwa maut itu ternyata benar-benar dekat. coba bayangkan jika dokter salah mendiagnosa dan salah memberikan obat, yang malah membuat saya kejang-kejang dan berbusa? yang kedua (dan membuat saya malu), selama sakit saya semakin banyak ingat kepada Tuhan. duh, masa mau ingat sama Tuhan saja harus diberi sakit dulu. kemudian saya baru sadar kalau pola makan saya sangat amburadul. istilahnya, apa saja dimakan. jadwalnya? ah tak terlalu penting, yang jelas tak sampai pingsan karena kelaparan, cukup. lalu, kurang beramal.</p>
<p>jadi, segera perbaiki pola makan, pola hidup, pikiran dan keuangan anda sebelum sakit itu datang. karena, kalau boleh saya simpulkan, sakit itu teramat sangat tak menyenangkan.</p>
<p>update: sakit juga menguras uang anda dengan super sadis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/286/seputar-sakit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
