<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bakul Rujak</title>
	<atom:link href="http://bakulrujak.com/tag/buku/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bakulrujak.com</link>
	<description>Untuk hidup yang selalu menyenangkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Dec 2011 12:04:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Yesus, Kisah Tentang Pencerahan</title>
		<link>http://bakulrujak.com/625/yesus-kisah-tentang-pencerahan</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/625/yesus-kisah-tentang-pencerahan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 12:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[deepak chopra]]></category>
		<category><![CDATA[fiktif]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Buku ini fiktif, atau setidaknya begitulah yang dikatakan oleh Deepak Chopra, sang penulis. Kisah hidup Yesus dalam rentang waktu usia 12 hingga 30 tahun memang seakan-akan menghilang. Sukar sekali dicari sumber cerita yang bisa dipertanggung jawabkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/12/yesus170.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-626" title="yesus, kisah tentang pencerahan" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/12/yesus170.jpg" alt="" width="170" height="249" /></a>Judul Buku : <strong>Yesus, Kisah Tentang Pencerahan</strong><br />
Pengarang : <strong>Deepak Chopra</strong><br />
Penerjemah: <strong>Julanda Tantani</strong><br />
Penerbit : <strong>Gramedia Pustaka Utama</strong><br />
Tahun Terbit : <strong>2011</strong><br />
Tebal Buku : <strong>360 halaman</strong><br />
Harga di Gramedia : <strong>Rp 50,000.00</strong></p>
<p>Tahun 1 Masehi, ketika bangsa Romawi berusaha menindas kaum yahudi. 3 orang pelarian, Yesus, Yudas dan Maria. 3 orang dengan latar belakang yang sama sekali berbeda, bersama-sama melarikan diri dari kejaran serdadu Romawi. Yudas adalah anggota kelompok pejuang kemerdekaan yahudi, yang berusaha melawan tiran Romawi dengan kekerasan. Namun di mata Yesus muda, gerakan kemerdekaan itu sama saja dengan para penjajah. Sama-sama memilih peperangan sebagai jalan keluar. Karena di balik setiap peperangan selalu tersisa penderitaan yang menyakitkan.</p>
<p>Kisah pelarian ketiga orang ini diwarnai berbagai kejadian yang membuat Yesus pada akhirnya mengerti bahwa dirinya adalah Sang Mesias, sang juru selamat yang sudah dinanti-nantikan. Penyiksaan, penghianatan dan percintaan yang membutakan mewarnai kisah pelarian mereka, hingga akhirnya Yesus menjadi sadar bahwa Tuhan telah menyatu dengan dirinya.</p>
<p>Tugas ini berat, Yesus harus menyampaikan pesan Tuhan kepada seluruh umat manusia, di tengah kebencian dan permusuhan yang sedang berkobar.</p>
<p><strong>Fiktif Filsafat</strong></p>
<p>Buku ini fiktif, atau setidaknya begitulah yang dikatakan oleh <em>Deepak Chopra</em>, sang penulis. Kisah hidup Yesus dalam rentang waktu usia 12 hingga 30 tahun memang seakan-akan menghilang. Sukar sekali dicari sumber cerita yang bisa dipertanggung jawabkan. Namun demikian, dengan indah penulis mampu merangkai detail demi detail cerita dengan runut dan penuh makna.</p>
<p>Bagaimana perjumapaan Yesus dengan Yudas, yang dikemudian hari diriwayatkan sebagai sang penghianat, bagaimana kisah cinta Yesus dengan Maria yang rumit, penulis sengaja membuat para pembaca terombang-ambing. Ritme yang dihadirkan turun dan naik dengan cepat, beberapa bagian menceritakan sebuah peristiwa dengan sangat detail, sedangkan beberapa lainnya melompat-lompat.</p>
<p>Satu lagi, bukan Deepak Chopra namanya jika tidak berfilsafat. Buku-buku terdahulu yang ditulis olehnya pun (baca review saya yang lain, <a title="Buddha, sebuah novel" href="http://bakulrujak.com/497/buddha-sebuah-novel" target="_blank">Buddha</a>) cukup membuat dahi mengernyit. Kata-kata seperti &#8220;&#8230; siapa bilang Tuhan itu serius? Ada alam semesta yang harus diawasinya. Dia harus bisa tertawa supaya mampu menangani kita. (Hal. 298)&#8221; misalnya, harus disikapi dengan lebih luas. Dari sudut pandang yang tepat tentu saja.</p>
<p>Terlepas nilai ideologi yang diemban, novel ini menarik sekali menurut saya. Saya jadi mengerti apa yang terjadi dengan kaum yahudi sebelum kebangkitan Kristus, dan lain-lain. Sangat layak untuk dibaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/625/yesus-kisah-tentang-pencerahan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Thief, Sang Pencuri dari Eddis</title>
		<link>http://bakulrujak.com/618/the-thief-sang-pencuri-dari-eddis</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/618/the-thief-sang-pencuri-dari-eddis#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[Megan Whalen Turner]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[the thief]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[Gen adalah seorang pencuri yang ulung. Tapi sebagian besar kesialan yang terjadi selama perjalanan disebabkan olehnya. Namun siapa sangka, ternyata Gen yang konyol, manja dan selalu membuat ulah justru menyimpan kemampuan yang tak dimiliki banyak orang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/11/TheThief-170.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-619" title="The Thief" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/11/TheThief-170.jpg" alt="" width="170" height="254" /></a>Judul Buku : <strong>The Thief, Sang Pencuri dari Eddis</strong><br />
Pengarang :<strong> Megan Whalen Turner</strong><br />
Penerjemah: <strong>Zaky Yamani</strong><br />
Penerbit : <strong>Gramedia Pustaka Utama</strong><br />
Tahun Terbit : <strong>2011</strong><br />
Tebal Buku : <strong>360 halaman</strong><br />
Harga di Gramedia :<strong> Rp 48,000.00</strong></p>
<p>Di sebuah kerajaan bernama Eddis, terdapat aturan baku dalam hal penentuan siapa yang harus menjadi raja. Yaitu, Raja/Ratu sebelumnya harus memberikan sebuah batu bernama <em>Hadiah Hamiathes</em> kepada seseorang, dan dia pun berhak menjadi raja.</p>
<p>Atas alasan itu pula, berangkatlah sebuah rombongan kecil ekspedisi dari kerajaan tetangga, Sounis, untuk memburu Hadiah Hamiathes yang legendaris. Alasannya, agar raja Sounis bisa membuat sang Ratu Eddis menikah dengannya, dengan motif politik tentu saja.</p>
<p>Adalah Gen sang pencuri, Magus dengan kedua muridnya, ditambah satu orang kepala pengawal raja. Lima orang anggota ekspedisi ini menempuh perjalanan yang melelahkan menuju Eddis untuk mendapatkan Hadiah Hamiathes, yang dipercaya tersembunyi di sebuah kuil bawah tanah yang sangat sulit dijangkau.</p>
<p>Gen adalah seorang pencuri yang ulung namun penuh dengan kekonyolan. Sebagian besar kesialan yang terjadi selama perjalanan disebabkan olehnya. Namun siapa sangka, ternyata Gen yang konyol, manja dan selalu membuat ulah justru menyimpan kemampuan yang tak dimiliki banyak orang.</p>
<p>Di akhir perjalanan panjang ini, ketika Hadiah Hamiathes nyaris dibawa pulang ke Sounis, Sang Magus dan rombongannya harus menerima kenyataan pahit yang membuat mereka harus memutar haluan dan menyelamatkan yang masih tersisa.</p>
<p><strong>Kisah Fantasi</strong></p>
<p>Nyaris segala hal dalam buku ini adalah hasil imajinasi <em>Megan Whalen Turner</em>, sang penulis. Sebagian besar terinspirasi dari budaya Yunani. Mulai dari penamaan tempat, seperti <em>Eddis, Sounis</em>, <em>Attolia</em> dan lainnya, semua diadaptasi dari sejarah Yunani. Tak hanya itu, cerita tentang para dewa yang disajikan juga sangat fantastis, membuat kita betul-betul percaya bahwa kisah itu benar-benar hidup di sebuah peradaban di belahan dunia yang lain.</p>
<p>Membaca buku setebal 360 halaman ini memang menuntut kesabaran ekstra. Cerita di awal hingga pertengahan buku memang agak membosankan. Kebanyakan hanya kisah perjalanan yang monoton dan sesekali diselingi dengan dongeng-dongeng tentang kisah sejarah kerajaan setempat dan para dewa yang mereka yakini.</p>
<p>Namun segala kebosanan itu akan terbayar lunas ketika mendekati akhir buku. Banyak kejutan yang disuguhkan. Sehingga kita akan membuka lagi halaman-halaman awal, untuk mencari kembali kisah-kisah di depan yang rupanya menjadi latar belakang dari kejadian-kejadian seru yang baru disajikan di akhir cerita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/618/the-thief-sang-pencuri-dari-eddis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suluk Lintang Lanang</title>
		<link>http://bakulrujak.com/612/suluk-lintang-lanang</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/612/suluk-lintang-lanang#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 19:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[antologi]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[indi]]></category>
		<category><![CDATA[setyo]]></category>
		<category><![CDATA[suluk lintang lanang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Diterbitkan secara swadaya, membuat penulis merasa bebas menyalurkan ekspresi apapun kedalam buku ini. Istilah kasar (yang kebanyakan dalam dialek jawa) seperti lambemu, jancuk, lonte dan sebagainya sengaja diloloskan utuh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/11/suluk-LL.png"><img class="alignleft size-full wp-image-613" title="suluk lintang lanang" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/11/suluk-LL.png" alt="" width="170" height="247" /></a>Judul Buku : <strong>Suluk Lintang Lanang</strong><br />
Pengarang : <strong>Setyo A. Saputro</strong><br />
Penerbit : <strong>Indie Book Corner</strong><br />
Terbit : <strong>Agustus 2011</strong><br />
Tebal Buku : <strong>147 + viii Halaman</strong><br />
Harga : <strong>Rp 40.000,00</strong> + ongkos kirim</p>
<p>&#8220;Feminisme, etnisitas, orientasi seksual, nasionalisme, semuanya diaduk-aduk jadi lodeh!!! Ha ha ha&#8230;&#8221; Daliyem Gila teriakkan mantra. Di beranda tertawa-tawa.<br />
&#8220;<em>Tai celeng</em>, Yeeemmm!!! Hidupku sederhana!!! Tak butuh diperbelit!!!&#8221;<br />
&#8220;Huusss&#8230; <em>Lambemu</em> itu lho&#8230;&#8221;<br />
&#8230;</p>
<p>Kasar dan saru? Ah itu belum seberapa. Petikan di atas saya cuplik dari cerpen berjudul <em>Waktu Sarapan Pagi</em>. Salah satu cerpen yang termuat di antologi bertajuk <em>Suluk Lintang Lanang</em>, karya kawan saya <a title="Setyo A. Saputro" href="http://lintanglanang.blogspot.com/" target="_blank">Setyo A. Saputro</a>.</p>
<p>Buku tipis ini memuat 24 cerpen dengan beragam sudut pandang, gaya penulisan dan tempramen. Diterbitkan oleh penerbit buku indie, membuat penulis merasa bebas menyalurkan ekspresi apapun kedalam buku ini. Istilah kasar (yang kebanyakan dalam dialek jawa) seperti <em>lambemu, jancuk, lonte</em> dan sebagainya sengaja diloloskan utuh. Justru disitulah letak titik beratnya.</p>
<p>Lho, bahasa kasar jadi titik berat, apa tidak salah?</p>
<p>Tunggu dulu, tentu saja tak hanya itu, cerpen-cerpen yang dimuat melukiskan penderitaan, rasa tertekan, terjajah dan ketimpangan sosial kaum marginal. Atau setidaknya kesan itulah yang saya tangkap.</p>
<p>Kafe remang-remang, kopi susu dan jazz juga memberi warna yang cukup dominan disini. Coba anda baca sampai tuntas, dan semoga semua sependapat dengan saya, bahwa semua cerita yang dihadirkan tak ada yang berakhir bahagia. Tak percaya ?</p>
<p>Dari sedikit ulasan yang saya celotehkan di atas, sepertinya unsur ekstrinsik penulisan seluruh cerpen di buku ini (yang ditulis dalam rentang tahun 2006 hingga 2011) menjadi terbaca dengan sendirinya.</p>
<p>Mengamati struktur penulisan yang &#8220;selengekan&#8221;, masa bodoh, penuh umpatan, memberi nyawa pada semua benda mati mengingatkan kita pada gaya penulisan sastrawan legendaris Indonesia, seperti <em>Rendra</em> atau <em>Chairil Anwar</em>.</p>
<p>Rentang waktu penulisan yang relatif panjang juga dengan sendirinya menciptakan perbedaan warna tulisan. Untuk tujuan tertentu sang penulis sengaja menuliskan angka tahun di setiap akhir cerpen. Dengan begitu kita tahu pada tahun berapa cerpen tersebut ditulis. Dan jika kita amati lebih dalam, terdapat pergeseran gaya penulisan yang tak kentara tapi cukup mempengaruhi cita rasa cerpen-cerpen yang dihasilkan, dari tahun ke tahun. Seperti apa pergeseran yang saya maksud? Tentu saja saya tak akan beberkan disini. Anda bisa mencicipi sendiri legitnya buku ini.</p>
<p>Satu lagi. Karena buku antologi ini diterbitkan secara indie alias &#8220;swadaya&#8221;, maka Anda tak dapat menemukan buku ini di toko buku kesayangan Anda. Namun rasa penasaran tetap bisa dipuaskan dengan melakukan pemesanan secara langsung melalui pranala yang saya lampirkan di bawah artikel ini.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Suluk Lintang Lanang :</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/pages/Suluk-Lintang-Lanang/202119909844961">http://www.facebook.com/pages/Suluk-Lintang-Lanang/202119909844961</a></p>
<p><a href="http://www.wix.com/lintanglanang/suluk#!">http://www.wix.com/lintanglanang/suluk#!</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/612/suluk-lintang-lanang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jihad Terlarang, Kisah Pertobatan Mantan Aktivis NII</title>
		<link>http://bakulrujak.com/601/jihad-terlarang-kisah-pertobatan-mantan-aktivis-nii</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/601/jihad-terlarang-kisah-pertobatan-mantan-aktivis-nii#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 04:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[jihad terlarang]]></category>
		<category><![CDATA[mataharitimoer]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[otobiografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Royan direkrut untuk mengikuti sebuah ajaran Islam yang baru. Sebuah paham yang membuat Royan membalik sudut pandangnya terhadap agama yang telah ia peluk sejak lahir. Paham yang menganggap segala bentuk pemerintahan yang ada di Indonesia ini sesat dan sangat berbahaya. Oleh sebab itu rezim ini harus dihancurkan dan digantikan dengan sistem pemerintahan yang bersih dan sesuai syariat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/10/jihad-terlarang170.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-602" title="jihad terlarang" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2011/10/jihad-terlarang170.jpg" alt="" width="170" height="252" /></a>Judul Buku : <strong>Jihad Terlarang, Kisah Pertobatan Mantan Aktivis NII</strong><br />
Pengarang : <strong>Mataharitimoer</strong><br />
Penerbit : <strong>Literati</strong><br />
Terbit : <strong>Juli 2011 (Edisi Revisi)</strong><br />
Tebal Buku : <strong>368 + vi Halaman</strong><br />
Harga di Gramedia : <strong>Rp 46.000,00</strong></p>
<p>Hari Rabu tanggal 12 September 1984. Hari yang sangat bersejarah bagi Royan, bapaknya mati dihabisi tentara ketika menghadiri sebuah pengajian akbar di daerah Priok. Entah apa alasannya, desas-desus yang beredar hal itu hanyalah konspirasi rezim yang berkuasa kala itu untuk menyempitkan pergerakan Islam, terutama yang berpotensi melakukan tindakan yang membahayakan pemerintahan.</p>
<p>Ibu Royan meninggal beberapa hari kemudian. Berakhirlah sudah masa kecil yang penuh canda tawa. Royan harus bekerja membanting tulang guna menyambung hidupnya. Hasil dari berjualan koran hanya cukup untuk makan. Bangku sekolah sudah ia tinggalkan.</p>
<p>Fase kehidupan di jalanan yang kejam berakhir seiring perkenalannya dengan Supar, seorang <em>kenek</em> metromini sekaligus aktivis ramaja masjid. Supar memperkenalkan Royan kepada kawan-kawannya di lingkungan remaja masjid, termasuk Malik dan 4 orang <em>ustadz</em> muda yang rupanya memiliki sebuah misi tersembunyi.</p>
<p>Singkat kata, Royan direkrut untuk mengikuti sebuah ajaran Islam yang baru. Sebuah paham yang membuat Royan membalik sudut pandangnya terhadap lingkungan, kawan-kawan dan agama yang telah ia peluk sejak lahir. Paham yang menganggap segala bentuk pemerintahan yang ada di Indonesia ini sesat dan sangat berbahaya. Oleh sebab itu rezim ini harus dihancurkan dan digantikan dengan sistem pemerintahan yang bersih dan sesuai <em>syariat.</em></p>
<p>Gerakan yang diikuti Royan berakar hingga ke seluruh pelosok negeri. Regenerasi dan perekrutan anggota baru terus menerus dilakukan. Berkat hasil kerja yang bagus dan kecerdasannya, Royan dengan cepat menduduki posisi strategis di pergerakan tersebut. Bahkan ia sempat dipercaya untuk memimpin pergerakan di sebuah regional di pulau jawa.</p>
<p>Bertahun-tahun lamanya ia hidup di balik bayang-bayang. Selalu bersembunyi. Konon pemerintah sudah sejak lama mengincar pergerakan yang sedang dibela Royan dan rekan-rekannya. Waktu yang begitu panjang pada akhirnya membuatnya berpikir. Apakah jalan yang ia tempuh selama ini benar?</p>
<p>Beberapa kejadian membuatnya yakin dan percaya bahwa ada yang tidak beres dengan gerakan yang telah ia bela mati-matian selama ini. Sistem doktrinasi yang diterapkan juga terasa semakin tak masuk akal. Hingga akhirnya Royan dan beberapa kawan yang sependapat mendirikan sebuah yayasan yang rupanya malah menyulut amarah para tetua pergerakan.</p>
<p>Ancaman demi ancaman diterima Royan, beberapa kali percobaan pembunuhan bahkan dihadapinya dengan berani. Hal tersebut semakin menebalkan keyakinannya bahwa ia harus kaluar dari dunia yang kelam itu.</p>
<p><strong>Otobiografi yang ambisius</strong></p>
<p>Royan ini sosok nyata. Kisah perjalanan hidupnya yang penuh intrik dan tipu daya benar-benar ada. Novel ini meceritakan seluk-beluk pergerakan radikal Islam (yang sekarang kita kenal sebagai NII, <em>Negara Islam Indonesia</em>). Bagaimana metode perekrutan anggota baru, struktur organisasi hingga pengelolaan keuangannya dibahas dengan jelas. Nyaris detail.</p>
<p>Emosi yang meletup-letup sengaja dimunculkan di sepanjang tulisan. Kejadian demi kejadian dituturkan dengan runut dan teliti, nyaris tanpa ada yang terlewat. Kisah pelarian sang pelaku utama dalam menghindari kejaran aparat hingga intrik di dalam organisasi sendiri membuat novel ini begitu berwarna. Disitulah nilai lebihnya.</p>
<p>Pada umumnya tak mudah untuk menulis kisah nyata seseorang dan membuatnya menegangkan. Tapi membaca novel ini membuat saya seakan sedang menyimak sebuah karya fiksi yang dibuat-buat. Sulit menerka bahwa kisah ini benar-benar nyata dan terjadi.</p>
<p>Beruntunglah <em>Mataharitimoer</em>, sang penulis, memiliki kisah hidup yang sangat inspiratif dan kemampuan menulis yang sangat baik. Sebab tak banyak orang yang memiliki keduanya sekaligus.</p>
<p>Menurut saya, novel Jihad Terlarang ini cukup untuk membuat kita sadar, bahwa di negara yang kita tinggali selama ini terdapat banyak hal-hal yang terletak di bawah tanah dan nyaris tak tersentuh. Mari kita mengambil inti pelajaran yang berharga, lebih bijaksana dalam berpikir dan bertindak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/601/jihad-terlarang-kisah-pertobatan-mantan-aktivis-nii/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Habibie &amp; Ainun</title>
		<link>http://bakulrujak.com/572/habibie-ainun</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/572/habibie-ainun#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 22:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ainun]]></category>
		<category><![CDATA[habibie]]></category>
		<category><![CDATA[habibie dan ainun]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di Jerman sebagai asisten seorang ilmuwan dan mengajar di Institut Konstruksi Ringan di Aachen, keluarga kecil Habibie harus hidup prihatin. Keadaan menjadi makin berat ketika Ainun mengandung. Ruddy (panggilan BJ. habibie) harus mencari pekerjaan tambahan di sebuah industri kereta api guna menutupi segala pengeluaran yang kian menumpuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/12/habibieainun.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-573" title="habibie &amp; ainun" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/12/habibieainun.jpg" alt="" width="170" height="256" /></a>Judul Buku : <strong>Habibie &amp; Ainun</strong><br />
Pengarang : <strong>Bacharuddin Jusuf Habibie</strong><br />
Penerbit : <strong>PT. THC Mandiri</strong><br />
Terbit : <strong>November 2010</strong><br />
Tebal Buku :<strong> 323 halaman</strong><br />
Harga di Gramedia :<strong> Rp 80.000,00</strong></p>
<p>Siapa yang menyangka, pertemuan kecil pada malam takbiran hari Rabu tanggal 7 Maret 1962 menyemaikan benih cinta yang tak terduga. Bacharuddin Jusuf Habibie bersitatap dengan Ainun. Di ruang makan keluarga Besari, getar-getar asmara mulai menerpa dua insan muda itu. Bagai gayung bersambut, rasa suka berkembang menjadi dasar berdirinya sebuah rumah tangga baru. Rumah tangga seorang ilmuwan muda dengan kehidupan danpenghasilan yang pas-pasan.</p>
<p>Hidup di Jerman sebagai asisten seorang ilmuwan dan mengajar di Institut Konstruksi Ringan di Aachen, keluarga kecil Habibie harus hidup prihatin. Keadaan menjadi makin berat ketika Ainun mengandung. Ruddy (panggilan BJ. habibie) harus mencari pekerjaan tambahan di sebuah industri kereta api guna menutupi segala pengeluaran yang kian menumpuk.</p>
<p>Hingga pada akhirnya lahirlah anak pertama dan diberi nama Ilham Akbar Habibie. Kelahiran putra pertama ini rupanya menjadi daya dorong tersendiri bagi Rudy dan Ainun. Pendidikan S3 diselesaikan tanpa masalah, kesejahteraan pun sedikit demi sedikit membaik. Namun harta dan jabatan tak lantas membuat keluarga kecil ini lupa daratan. Semua tetap berjalan seperti biasa dan bersahaja.</p>
<p>Waktu berlalu dan tibalah pada suatu saat secara resmi pemerintah Republik Indonesia memanggil pulang Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie ke Indonesia guna turut serta membangun bangsa. Habibie yang kala itu telah menjabat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi di sebuah perusahaan strategis di Jerman patuh dan menerima panggilan ibu pertiwi untuk pulang.</p>
<p>Di Indonesia, perjalanan Habibie dengan segala pengalaman dan kecerdasannya tak selalu mulus. Dimulai dengan jabatan sebagai penasehat Presiden, Menristek, Ketua BPPT, Wakil Presiden hingga Presiden RI. Sanjungan, dukungan hingga cacian datang silih berganti. Ibu Hasri Ainun Habibie dengan senyun dan semangatnya selalu berhasil membuat Habibie berdiri setegar karang dan mampu melewati segala persoalan tanpa mengeluh.</p>
<p><strong>Cinta Abadi</strong></p>
<p>Membaca Habibie &amp; Ainun membuat saya terbawa. Pak Habibie membawa kita mengikuti sepak terjang keluarganya dalam menghadapi hidup yang pada awalnya terasa berat. Kita akan diingatkan bahwa sebesar apapun kesuksesan yang kita raih dan sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan, semua tak akan berarti tanpa hidup yang berkualitas. Kualitas hidup yang baik salah satunya didasari oleh kehadiran seorang pendamping yang hebat.</p>
<p>Sosok Ibu Hasri Ainun Habibie digambarkan sebagai dasar dari sebuah keluarga yang luar biasa. Kisah romansa yang menggelora dikala muda, hingga bersama-sama menghiasi hari tua dengan tetap berpegang tangan penuh cinta, mampu membuat keluarga Habibie menjadi panutan bagi kita semua.<br />
Keterikatan dan rasa saling membutuhkan telah tampak sejak awal mula perjumpaan, seperti kutipan berikut,</p>
<p><em>&#8220;&#8230; hubungan kami makin dekat dan mesra dan merasakan waktu cepat berlalu. Tiap pertemuan dan perpisahan yang disertai pandangan mata kami, mencerminkan kerinduan untuk pertemuan yang akan datang dan perasaan yang menggetarkan hati. &#8230;&#8221; (hal. 10).<br />
</em></p>
<p>Bahasa yang digunakan mengalir dengan halus dan berurut. Nyaman sekali membacanya. Pak Habibie menerangkan sepak terjang beliau dalam dunia industri dan politik. Sehingga membaca buku ini membuat kita kembali tenggelam dalam sekelumit sejarah bangsa Indonesia. Tentang pembentukan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), pencetusan Republika, peristiwa bergulirnya reformasi 1998 dan banyak lagi. Kita akan menemukan Ibu Ainun Habibie tampil sebagai sosok wanita, istri sekaligus ibu yang luar biasa.</p>
<p>Hingga pada akhirnya Tuhan memberikan cobaan berupa penyakit, hubungan Pak Habibie dan Ibu Ainun menjadi semakin erat. Segala macam bentuk pengobatan dan usaha untuk membuat Ibu Ainun sehat telah dilakukan. Yang paling membuat saya terenyuh adalah pada saat akan dibawa ke Jerman untuk pengobatan, Ibu Ainun sempat berucap, <em>&#8220;Papa, saya tidak mau meninggal di luar negeri&#8230;&#8221; </em>(hal. 273)</p>
<p>Namun sebesar apapun manusia berusaha, Tuhan jua yang menentukan. Garis takdir Tuhan tak terbantahkan. Ibu Hasri Ainun Habibie meninggal dunia pada hari Sabtu tanggal 22 Mei 2010 di Jerman. Namun dengan mantapnya Pak Habibie menegaskan bahwa Ainun masih berada di hati beliau selamanya. Sebab dua insan telah lebur menjadi satu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/572/habibie-ainun/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati, Bertahun yang Lalu</title>
		<link>http://bakulrujak.com/567/mati-bertahun-yang-lalu</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/567/mati-bertahun-yang-lalu#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2010 09:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[soe tjen marching]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Tak mudah baginya untuk bergaul dengan manusia-manusia "hidup" sedangkan dia sendiri sudah menjadi mayat. Mayat yang bisa bergerak, berjalan, makan dan minum seperti manusia hidup]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/12/matibertahun.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-569" title="mati bertahun yang lalu" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/12/matibertahun.jpg" alt="" width="170" height="252" /></a>Judul Buku : <strong>Mati, Bertahun yang Lalu</strong><br />
Pengarang : <strong>Soe Tjen Marching</strong><br />
Penerbit : <strong>Gramedia Pustaka Utama</strong><br />
Terbit : <strong>Oktober 2010</strong><br />
Tebal Buku : <strong>153</strong><strong> halaman</strong><br />
Harga di Gramedia : <strong>Rp 40.000,00</strong></p>
<p><em>Di tengah tumpukan pekerjaan yang sedang kugeluti, aku mati. Rohku terangkat dari setiap lubang poriku. Tapi anehnya tubuhku tak lantas membusuk. Energi hidupku masih begitu besar sehingga memungkinkanku untuk beraktifitas kembali seperti biasa. Ya, tapi aku sudah mati.<br />
</em></p>
<p>Tak mudah baginya untuk bergaul dengan manusia-manusia &#8220;hidup&#8221; sedangkan dia sendiri sudah menjadi mayat. Mayat yang bisa bergerak, berjalan, makan dan minum seperti manusia hidup. Dengan kondisi tak bernyawa, ia harus menghadapi ibu, kakak dan keponakannya. Tak lupa ia harus sering-sering berkedip, menggerakkan kaki dan mengembang-kempiskan dada agar semua orang menyangka bahwa ia masih hidup. Bukankah itu yang biasa dilakukan orang hidup?</p>
<p>Unik, rupanya permasalahan dalam hidup yang lazim terjadi dan menimpa manusia hidup yang &#8220;normal&#8221; akan memunculkan persepsi yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang orang mati. Mengapa manusia harus mati-matian mempertahankan hidup? Lalu ia teringat proses kematian ayahnya yang terlihat berat dan menyakitkan. Ia melihat betapa manusia rela menukar nyaris segalanya agar tetap hidup dan menunda kematian. Tentu saja tak semua pertanyaan terjawab, ada hal-hal yang tetap mengambang. Belum ketemu jawabannya, ataukah memang sengaja dibuat tanpa penjelasan?</p>
<p>Novel pendek ini tak sama dengan novel fiksi yang lain. Jika dengan membaca novel Anda memperoleh jawaban dan kepuasan, maka setelah membaca halaman terakhir novel setebal 153 halaman ini Anda justru akan mendapati pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin belum pernah terpikirkan. Mengapa begini, mengapa harus begitu dan seterusnya. Penulis jelas sekali mengajak pembaca untuk berpikir. Alur bahasa dan ceritanya menuntun, menuntun dari satu permasalahan ke pertanyaan berikutnya. Dan tak selalu ada jawaban. Pembaca boleh merenungkan sendiri.</p>
<p>Sindiran-sindiran terhadap hidup dan manusia terasa begitu satir dan dalam. Kita akan dibuat tertawa sambil berpikir dan merasa malu. Novel yang layak dibaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/567/mati-bertahun-yang-lalu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buddha, Sebuah Novel</title>
		<link>http://bakulrujak.com/497/buddha-sebuah-novel</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/497/buddha-sebuah-novel#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 07:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[deepak chopra]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Deepak Chopra adalah seorang novelis. Itulah sebabnya ia mengatakan pada awal buku ini, bahwa kisah perjalanan Buddha yang ia tuliskan mengandung muatan fiksi. Namun tetap, kisah hidup Siddharta hingga mencapai Buddha adalah kisah penuh inspirasi dan layak dibaca.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/07/novelbuddha.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-500" title="novel buddha, deepak chopra" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/07/novelbuddha.jpg" alt="" width="160" height="239" /></a>Judul Buku</strong> : Buddha, Sebuah Novel<br />
<strong>Pengarang </strong>: Deepak Chopra<br />
<strong>Penerjemah:</strong> Rosemary Kesauly<br />
<strong>Penerbit</strong> : Gramedia Pustaka Utama<br />
<strong>Terbit</strong> : April 2008<br />
<strong>Tebal Buku </strong>: 400 halaman<br />
<strong>Harga di Gramedia</strong> : Rp 58.000.00</p>
<p>Perjalanan besar itu dimulai dari kerajaan Sakya, 563 SM. Ratu Maya, sang permasyuri melahirkan seorang bayi laki-laki setelah bermimpi bertemu dengan 3 deva (malaikat) dan seekor gajah putih. Namun sang raja, Suddhodana, menjadi murka setelah para petapa dan brahmana meramalkan masa depan putranya. Siddharta, demikian sang pangeran diberi nama, diramalkan akan menjadi penguasa keempat penjuru mata angin, selamat dari segala mara bahaya, namun harus menjalani hidup sebagai brahmana dan mencapai kesadaran tertinggi.</p>
<p>Sebagai wujud dari ketakutan sang raja, Siddharta tak diijinkan pergi keluar lingkungan istana. Tak boleh melihat segala bentuk penderitaan dan kesakitan sekecil apapun. Namun tak ada yang bisa menolak takdir dewata, pada usia 29 Siddharta memilih untuk menempuh jalannya sendiri menjadi petapa dan meninggalkan segala keindahan duniawi. Itu berarti ia akan pergi meninggalkan kerajaan, ayahnya, istri dan anaknya serta Devadatta, sepupunya.</p>
<p>Rupanya perjalanan spiritual Siddharta tak berjalan mulus pada awalnya. Namanya berganti menjadi Gautama dan megembara mencari kebenaran sejati. Banyak petapa dan brahmana yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Gautama yang haus akan ajaran kebenaran dan pembebasan diri dari derita duniawi, merasa tak ada satupun petapa dan brahmana sanggup mengajarkan apa yang ia dambakan.</p>
<p>Gautama memiliki 5 orang murid yang kemudian meninggalkannya satu-persatu sebab khawatir melihat guru mereka yang menjalani meiditasi selama berbulan-bulan dan seakan meninggalkan segala materi duniawi.</p>
<p>Dari serangkaian pertapaan yang dijalani serta perjalanan hidup yang penuh penderitaan, pada usia 35 tahun Gautama mencapai pencerahan tertinggi di bawah pohon Bodhi. Ia juga bertemu Mara, iblis yang menguasai dunia kegelapan. Mara mengutus ketiga putrinya untuk menggoda Gautama dengan memancing berahi. Namun Gautama sanggup mengendalikan diri dengan baik dan melenyapkan segala usaha Mara untuk menggagalkan semedinya.</p>
<p>Gautama mencapai pencerahan tertinggi dan menjadi Buddha. Penuh belas kasih, memiliki cahaya yang senantiasa memancar dari tubuhnya. Yang pada akhirnya menyebarkan kedamaian pada seluruh penjuru bumi dan mengajarkan tentang kebaikan. Hidup adalah penderitaan selama masih menuruti tuntutan nafsu badani, lepaskan segala kungkungan nafsu duniawi dan kau akan mencapai pencerahan. &#8220;Tentu saja, setiap orang bisa mencapai Buddha,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Novel fiksi</strong></p>
<p>Deepak Chopra adalah seorang novelis. Itulah sebabnya ia mengatakan pada awal buku ini, bahwa kisah perjalanan Buddha yang ia tuliskan mengandung muatan fiksi. Namun tetap, kisah hidup Siddharta hingga mencapai Buddha adalah kisah penuh inspirasi dan layak dibaca.</p>
<p>Novel ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah Siddharta Sang Pangeran, bagian kedua Gautama Sang Petapa, dan terakhir adalah Buddha, (yang Penuh Belas Kasih).</p>
<p>Banyak penambahan dalam penggambaran perjalanan spiritual maupun kehidupan duniawi sang pangeran. Beberapa tokoh sengaja ditambahkan untuk menggugah sisi kemanusiaan sang Buddha. Sehingga kita akan bisa melihat jalan hidup sang belas kasih dalam perspektif yang lebih mudah dimengerti.</p>
<p>Kita akan dibawa menjelajahi hutan-hutan di India hingga pegunungan Himalaya. Ya, walaupun di beberapa bagian terasa menjemukan, tapi buku setebal 400 halaman ini memuat begitu banyak ajaran hidup yang sederhana dan mudah diserap. Tentang ajaran Buddha yang penuh belas kasih dan jauh dari perbudakan hawa nafsu.</p>
<p>Chopra bahkan sadar betul bahwa Gautama sang pertapa adalah tetap manusia. Ia digambarkan dengan baik memiliki banyak sekali pertanyaan tentang hidup dan pencerahan, tentang mengapa hidup manusia harus penuh penderitaan dan peperangan yang tak juga kunjung berhenti. Dari sisi ini aspek kemanusiaan sang Buddha membuat seolah-olah ia tak berjarak dengan kita semua. Selamat membaca.</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">Judul Buku : Buddha, Sebuah Novel<br />
Pengarang : Deepak Chopra<br />
Penerjemah: Rosemary Kesauly<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama<br />
Terbit : April 2008<br />
Tebal Buku : 400 halaman<br />
Harga di Gramedia : Rp 58.000.00</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/497/buddha-sebuah-novel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Young Samurai: The Way of The Sword</title>
		<link>http://bakulrujak.com/462/young-samurai-the-way-of-the-sword</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/462/young-samurai-the-way-of-the-sword#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 05:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[bela diri]]></category>
		<category><![CDATA[chris bradford]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[young samurai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Young Samurai: The Way of The Sword
Pengarang : Chris Bradford
Penerjemah: Sujatrini
Penerbit : Hikmah (PT. Mizan Publika)
Tahun Terbit : 2010
 Tebal Buku : 502 halaman
Harga di Gramedia : Rp 69,500.00
Dalam buku sebelumnya diceritakan Jack Fletcher si samurai pirang dari Inggris berhasil memenangkan kompetisi antar sekolah samurai taryu-jiai, yang membuat dirinya berdamai dengan saudara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/05/thewayofthesword-small.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-463" title="The Way of the sword" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/05/thewayofthesword-small.jpg" alt="" width="150" height="231" /></a>Judul Buku : <strong>Young Samurai: The Way of The Sword</strong><br />
Pengarang : <strong>Chris Bradford</strong><br />
Penerjemah: <strong>Sujatrini</strong><br />
Penerbit : <strong>Hikmah (PT. Mizan Publika)</strong><br />
Tahun Terbit : <strong>2010<br />
</strong> Tebal Buku : <strong>502 halaman</strong><br />
Harga di Gramedia : <strong>Rp 69,500.00</strong></p>
<p>Dalam <a title="the way of the warrior" href="http://bakulrujak.com/366/buku-young-samurai-the-way-of-the-warrior" target="_self">buku sebelumnya</a> diceritakan Jack Fletcher si samurai pirang dari Inggris berhasil memenangkan kompetisi antar sekolah samurai <em>taryu-jiai</em>, yang membuat dirinya berdamai dengan saudara angkatnya, Yamato.</p>
<p>Saat ini Jack kembali mendapat tantangan baru, yakni ujian lingkaran tiga. Dimana telah banyak calon samurai dari sekolah <em>Niten Ichi Ryu</em> yang tewas saat menjalani ujian tersebut. Tapi setiap siswa yang berhasil lolos dari ujian berat tersebut akan mendapat anugerah besar, yaitu kesempatan untuk belajar ilmu dua surga dari Masamoto, sang samurai besar sekaligus ayah angkat Jack.</p>
<p>Langkah menuju ujian Lingkaran Tiga tak mudah. Semua <em>sensei Niten Ichi Ryu</em> akan memberikan ujian sesuai dengan bidang mereka. Beruntung Jack bisa lolos ujian para <em>sensei</em> dan berhak mengikuti ujian lingkaran tiga.</p>
<p>Lagi-lagi jalan Jack terganjal. Musuh bebuyutannya, Kazuki dan geng kalajengking bentukannya selalu mencari celah untuk menecelakai Jack yang seorang <em>gaijin</em> (orang asing di tanah Jepang).</p>
<p>Seolah belum cukup, ninja mata naga Dokugan Ryu masih juga mengincar <em>rutter</em> berharga warisan ayah Jack, yang konon dengan <em>rutter</em> itu seseorang akan dapat menguasai rute samudera dan menguasainya.</p>
<p>Cobaan terasa menjadi berkali-kali lipat lebih berat tatkala secara bersamaan Dokugan Ryu berhasil mencuri <em>rutter</em> yang telah disembunyikan Jack, juga Masamoto yang semula melindungi dan membimbing Jack berbalik membenci dan menuduhnya berkhianat.</p>
<p>Perjuangan Jack menjalani <em>bushido</em> dan keteguhan jiwa samurainya benar-benar diuji kali ini.</p>
<p><strong>Lebih rapat dan memikat<br />
</strong> Buku kedua ini menyimpan kekuatan kata-kata dan penataan alur yang lebih hebat dari buku sebelumnya. Alur penceritaannya sangat unik, sudut pandang berubah secara dinamis dan menarik, membuat pembaca selalu bertanya-tanya, apa yang terjadi selanjutnya ?</p>
<p>Selain konflik yang lebih kompleks dan cerita yang bertempo cepat dan rapat, seperti biasa, Chris Bradford kembali membuktikan dalamnya pengetahuan di ranah ilmu bela diri Jepang yang eksotis itu. Lebih banyak pertarungan yang terjadi, makin lekat pula kita terikat dengan jalannya olah pedang, pukulan dan tendangan yang seakan terjadi secara nyata akibat detailnya penggambaran.</p>
<p>Terakhir, pesan yang dibawa tetap tersampaikan dengan baik. Ajaran spiritual Buddha dan jalan <em>bushido</em> yang welas asih namun berbahaya bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/462/young-samurai-the-way-of-the-sword/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oeroeg</title>
		<link>http://bakulrujak.com/450/oeroeg</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/450/oeroeg#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 08:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[oeroeg]]></category>
		<category><![CDATA[terjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Oeroeg
Pengarang : Hella S. Haasse
Penerjemah: Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2009 (cetakan pertama dalam bhs. Indonesia)
Tebal Buku : 144 halaman
Harga di Gramedia : Rp 33,000.00
&#8220;Macan kumbang berbeda dari monyet,&#8221; kata Gerard setelah beberapa saat, &#8220;tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-451" title="Oeroeg" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/04/Oeroeg.jpg" alt="Oeroeg" width="150" height="249" />Judul Buku : <strong>Oeroeg</strong><br />
Pengarang : <strong>Hella S. Haasse</strong><br />
Penerjemah: <strong>Indira Ismail</strong><br />
Penerbit : <strong>Gramedia Pustaka Utama</strong><br />
Tahun Terbit :<strong> 2009 (cetakan pertama dalam bhs. Indonesia)</strong><br />
Tebal Buku :<strong> 144 halaman</strong><br />
Harga di Gramedia : <strong>Rp 33,000.00</strong></p>
<p>&#8220;Macan kumbang berbeda dari monyet,&#8221; kata Gerard setelah beberapa saat, &#8220;tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau benar.&#8221; (hal. 64)</p>
<p>Tokoh &#8220;aku&#8221; adalah anak seorang <em>Administrateur</em> sebuah perkebunan, seorang berdarah Eropa. Sedangkan Oeroeg seorang bocah pribumi anak mandor perkebunan milik ayah si &#8220;aku&#8221;. Mereka berdua menjadi akrab dan tak bisa terpisah secara strukstural. Lahir hampir bersamaan dengan lingkungan yang berdekatan, ayah dan ibu si aku yang orang Eropa menjadi sangat sibuk sehingga hanya Oeroeg dan keluarganya lah tempat si aku berkeluh kesah. Rumah yang sederhana, perabotan yang didominasi kayu dan lantai tanah membuat si aku tumbuh menjadi seorang Belanda berjiwa pribumi. Oroeg pun mahir berbahasa Belanda karena setiap saat dilewatkan bersama si aku. Semua nyaris berjalan dengan indah dan sempurna.</p>
<p>Hingga pada suatu malam ayah Oeroeg harus tewas demi menyelam menyelamatkan si aku yang nyaris tenggelam. Rasa bersalah dan hutang moral membuat ayah si aku menampung dan menyekolahkan Oeroeg hingga tingkat MULO.</p>
<p>Begitulah, seakan tak mungkin memisahkan si aku dengan Oeroeg. Bahkan terhadap apapun yang direncakan ayah si aku terhadap anaknya, si aku selalu saja membawa-bawa Oeroeg ikut serta. Hingga membuat ayah si aku jengkel. Jelas menurut norma yang berlaku pada saat itu, strata antara bangsa Eropa dan penduduk pribumi jelas berbeda. Tak lazim rasanya jika seorang pribumi berkawan terlalu dekat dan intim dengan bangsa Belanda.</p>
<p>Keputusan telah dibuat, si aku akan dikirim bersekolah ke negara asalnya, Belanda. Sedangkan Oeroeg harus menjalani hari-harinya di Indonesia. Waktu berlalu dan pada suatu hari dengan kondisi yang sangat berbeda mereka bertemu kembali. Namun ada yang berubah. apa ?</p>
<p><strong>Setengah kisah nyata<br />
</strong></p>
<p>Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1948 di Belanda, dan pertama kali diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia justru baru pada tahun 2009. Hella S. Haase sang penulis berusia 30 tahun kala menulis buku ini, dan <em>Oeroeg</em> adalah karya pertamanya. Menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh &#8216;aku&#8217; terkesan begitu nyata dan menyatu dengan suasana pribumi. Hal tersebut rupanya disebabkan oleh Hella telah tinggal di Batavia (Jakarta) dari lahir hingga remaja. Cerita ini pun konon adalah olahan dari peengalaman pribadinya sendiri dengan banyak penambahan.</p>
<p>Menyoroti pola pergaulan antara para anak pribumi dengan bangsa Belanda yang sangat timpang. <em>Oeroeg</em> berusaha menunjukkan bahwa apapun yang terjadi di dunia luar, anak-anak tetaplah anak-anak. Tak ada batasan pergaulan bagi mereka. Jahat sekali orang-orang yang menjejalkan pemahaman bahwa satu kaum tak pantas bergaul dengan kaum yang lain dan seterusnya.</p>
<p>Kisah perjalanan tokoh &#8216;aku&#8217; dapat dijadikan bahan permenungan bagi kita semua, bahwa tak benar karena perbedaan strata sosial membuat lingkungan pergaulan umat manusia menjadi terbatas. Sangat inspiratif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/450/oeroeg/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku yang Dibredel, Intelektualitas yang Dicekal</title>
		<link>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 04:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan panjang]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualitas]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kejagung]]></category>
		<category><![CDATA[pencekalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Berapa buku yang sempat anda baca? Entah sejak kapan, buku telah menjadi instrumen pembentuk intelektualitas rakyat. Ia juga merupakan salah satu perangkat yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan opini, penentu sikap dan pendewasaan berpikir. Buku juga merupakan karya intelektual para pengarangnya, yang telah melewati masa riset dan uji kelayakan yang tak main-main. Apapun yang terkandung di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-410" title="Buku" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/02/bukuu.jpg" alt="Buku" width="200" height="149" />Berapa buku yang sempat anda baca? Entah sejak kapan, buku telah menjadi instrumen pembentuk intelektualitas rakyat. Ia juga merupakan salah satu perangkat yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan opini, penentu sikap dan pendewasaan berpikir. Buku juga merupakan karya intelektual para pengarangnya, yang telah melewati masa riset dan uji kelayakan yang tak main-main. Apapun yang terkandung di dalamnya juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi bahan pengaya berpikir kita.</p>
<p><strong>Kejaksaan membredel buku<br />
</strong> Tertanggal 3 Desember 2009, Kejagung secara resmi menyatakan pencekalan terhadap 5 judul buku yang beredar. Kelima buku tersebut adalah Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa, Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri, karya Cocratez Sofyan Yoman, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan, karya Darmawan MM, dan Mengungkap Misteri Keberagaman Agama, karangan Drs H Syahrudin Ahmad.</p>
<p>Pola yang masih sama seperti yang terjadi pada era-era sebelumnya. Buku-buku yang dibredel sebagian besar masih berkutat pada tema nasionalisme dan ideologi.</p>
<p><strong>Mengapa dibredel ?</strong><br />
Mari kita ulas, apa saja kira-kira yang melatar belakangi pembredelan buku-buku ini. Buku karya Cocratez Sofyan Yoman, Darmawan MM dan Drs H Syahrudin Ahmad berbicara seputar keagamaan. Kontroversi dan konspirasi keyakinan nampak dengan jelas pada judulnya. Sementara sisanya, John Rossa, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan menulis tentang kontroversi seputar gerakan 30 September dan yang terjadi setelahnya.</p>
<p>Kejagung hanya menyebutkan buku-buku tersebut dicekal karena dapat mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UUD 1945, dan Pancasila. Titik. Tak ada penjabaran lebih lanjut apa dan bagaimana bisa menyebabkan ketertiban menjadi terganggu oleh karena orang membaca buku. Sehingga (mohon maaf) untuk kasus ini saya lebih menghargai MUI yang melakukan himbauan untuk tidak melakukan ini dan itu ataupun menonton film ini dan itu. Setidaknya masih ada penjelasan di belakangnya.</p>
<p><strong>Kebenaran versi siapa ?</strong><br />
Lain lagi dengan kisah kelima buku yang dicekal secara resmi oleh Kejagung, adalah Boni Hargens seorang dosen Politik UI sekaligus praktisi politik yang menulis buku berjudul 10 Dosa Politik SBY-JK. Buku Boni memang tak secara formal dicekal oleh siapapun, namun secara &#8216;ajaib&#8217; menghilang dari toko-toko buku. Ada apa?</p>
<p>Kembali, topik seputar kontroversi komunisme di Indonesia dan keberagaman agama adalah topik yang paling sensitif dan rawan, saya mengakuinya. Saya sendiri juga selalu antusias terhadap buku yang mengulas hal-hal tersebut di atas. Terutama mengenai seputar gerakan 30 September 1965, apa dan bagaimananya. Mengapa? Tak perlu disangsikan bahwa sejak masih duduk di sekolah dasar hingga entah kapan, buku-buku pelajaran sejarah menuliskan suatu fakta tentang peristiwa penghianatan partai komunis Indonesia dari satu sudut pandang saja. Ya, hanya dari versi pemerintah (pada masa itu).</p>
<p>Kemudian pada masa peralihan ke era reformasi, kaum intelektual semakin berani bersuara, makin banyak versi yang beredar. Multi-versi seperti itu menurut saya sangat sehat sebab orang semakin bebas memutuskan mana yang menurut mereka paling layak dibenarkan.</p>
<p>Jadi jika dimasa kini masih terjadi pencekalan terhadap karya-karya intelektual yang didasari penelitian dan fakta yang teruji, dan seakan masih tetap saja menjejalkan kebenaran yang dipaksakan, layaklah kiranya kita bertanya. Kebenaran versi siapa ?</p>
<p><strong>Mari berpikir</strong><br />
Tak ada orang yang bertindak anarkis dan membunuh setelah membaca sebuah buku. Semua buku yang dikonsumsi adalah sumber informasi yang memperkaya. Memperkaya persepsi, sudut pandang, sekaligus menjadi bahan pembelajaran untuk menerima berbagai versi dari sebuah fakta, sebab memang itulah esensi dari sistem demokrasi. Banyak pendapat dan sudut pandang adalah pupuk dari demokrasi yang sehat.</p>
<p><em>Gambar: www.wartakota.co.id</em></p>
<blockquote><p><em><strong>Pranala:</strong></em><strong><br />
</strong><a href="http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06/pembredelan-akun-cermin-admin-yang-tidak-demokratiskah/ " target="_blank"> http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06/pembredelan-akun-cermin-admin-yang-tidak-demokratiskah/<br />
</a><a href="http://kickandy.com/theshow/2010/01/29/1780/1/1/1/MENGAPA-MEREKA-DIBUNGKAM- " target="_blank"> http://kickandy.com/theshow/2010/01/29/1780/1/1/1/MENGAPA-MEREKA-DIBUNGKAM-<br />
</a><a href="http://indonesiabuku.com/?p=3210 " target="_blank"> http://indonesiabuku.com/?p=3210<br />
</a><a href="http://oase.kompas.com/read/2009/12/24/2158302/Tentang.Pembredelan.Lima.Buku.oleh.Kejagung" target="_blank"> http://oase.kompas.com/read/2009/12/24/2158302/Tentang.Pembredelan</a>&#8230;</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

