<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bakul Rujak</title>
	<atom:link href="http://bakulrujak.com/tag/indonesia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bakulrujak.com</link>
	<description>Untuk hidup yang selalu menyenangkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Dec 2011 12:04:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Habibie &amp; Ainun</title>
		<link>http://bakulrujak.com/572/habibie-ainun</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/572/habibie-ainun#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 22:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ainun]]></category>
		<category><![CDATA[habibie]]></category>
		<category><![CDATA[habibie dan ainun]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di Jerman sebagai asisten seorang ilmuwan dan mengajar di Institut Konstruksi Ringan di Aachen, keluarga kecil Habibie harus hidup prihatin. Keadaan menjadi makin berat ketika Ainun mengandung. Ruddy (panggilan BJ. habibie) harus mencari pekerjaan tambahan di sebuah industri kereta api guna menutupi segala pengeluaran yang kian menumpuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/12/habibieainun.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-573" title="habibie &amp; ainun" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/12/habibieainun.jpg" alt="" width="170" height="256" /></a>Judul Buku : <strong>Habibie &amp; Ainun</strong><br />
Pengarang : <strong>Bacharuddin Jusuf Habibie</strong><br />
Penerbit : <strong>PT. THC Mandiri</strong><br />
Terbit : <strong>November 2010</strong><br />
Tebal Buku :<strong> 323 halaman</strong><br />
Harga di Gramedia :<strong> Rp 80.000,00</strong></p>
<p>Siapa yang menyangka, pertemuan kecil pada malam takbiran hari Rabu tanggal 7 Maret 1962 menyemaikan benih cinta yang tak terduga. Bacharuddin Jusuf Habibie bersitatap dengan Ainun. Di ruang makan keluarga Besari, getar-getar asmara mulai menerpa dua insan muda itu. Bagai gayung bersambut, rasa suka berkembang menjadi dasar berdirinya sebuah rumah tangga baru. Rumah tangga seorang ilmuwan muda dengan kehidupan danpenghasilan yang pas-pasan.</p>
<p>Hidup di Jerman sebagai asisten seorang ilmuwan dan mengajar di Institut Konstruksi Ringan di Aachen, keluarga kecil Habibie harus hidup prihatin. Keadaan menjadi makin berat ketika Ainun mengandung. Ruddy (panggilan BJ. habibie) harus mencari pekerjaan tambahan di sebuah industri kereta api guna menutupi segala pengeluaran yang kian menumpuk.</p>
<p>Hingga pada akhirnya lahirlah anak pertama dan diberi nama Ilham Akbar Habibie. Kelahiran putra pertama ini rupanya menjadi daya dorong tersendiri bagi Rudy dan Ainun. Pendidikan S3 diselesaikan tanpa masalah, kesejahteraan pun sedikit demi sedikit membaik. Namun harta dan jabatan tak lantas membuat keluarga kecil ini lupa daratan. Semua tetap berjalan seperti biasa dan bersahaja.</p>
<p>Waktu berlalu dan tibalah pada suatu saat secara resmi pemerintah Republik Indonesia memanggil pulang Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie ke Indonesia guna turut serta membangun bangsa. Habibie yang kala itu telah menjabat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi di sebuah perusahaan strategis di Jerman patuh dan menerima panggilan ibu pertiwi untuk pulang.</p>
<p>Di Indonesia, perjalanan Habibie dengan segala pengalaman dan kecerdasannya tak selalu mulus. Dimulai dengan jabatan sebagai penasehat Presiden, Menristek, Ketua BPPT, Wakil Presiden hingga Presiden RI. Sanjungan, dukungan hingga cacian datang silih berganti. Ibu Hasri Ainun Habibie dengan senyun dan semangatnya selalu berhasil membuat Habibie berdiri setegar karang dan mampu melewati segala persoalan tanpa mengeluh.</p>
<p><strong>Cinta Abadi</strong></p>
<p>Membaca Habibie &amp; Ainun membuat saya terbawa. Pak Habibie membawa kita mengikuti sepak terjang keluarganya dalam menghadapi hidup yang pada awalnya terasa berat. Kita akan diingatkan bahwa sebesar apapun kesuksesan yang kita raih dan sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan, semua tak akan berarti tanpa hidup yang berkualitas. Kualitas hidup yang baik salah satunya didasari oleh kehadiran seorang pendamping yang hebat.</p>
<p>Sosok Ibu Hasri Ainun Habibie digambarkan sebagai dasar dari sebuah keluarga yang luar biasa. Kisah romansa yang menggelora dikala muda, hingga bersama-sama menghiasi hari tua dengan tetap berpegang tangan penuh cinta, mampu membuat keluarga Habibie menjadi panutan bagi kita semua.<br />
Keterikatan dan rasa saling membutuhkan telah tampak sejak awal mula perjumpaan, seperti kutipan berikut,</p>
<p><em>&#8220;&#8230; hubungan kami makin dekat dan mesra dan merasakan waktu cepat berlalu. Tiap pertemuan dan perpisahan yang disertai pandangan mata kami, mencerminkan kerinduan untuk pertemuan yang akan datang dan perasaan yang menggetarkan hati. &#8230;&#8221; (hal. 10).<br />
</em></p>
<p>Bahasa yang digunakan mengalir dengan halus dan berurut. Nyaman sekali membacanya. Pak Habibie menerangkan sepak terjang beliau dalam dunia industri dan politik. Sehingga membaca buku ini membuat kita kembali tenggelam dalam sekelumit sejarah bangsa Indonesia. Tentang pembentukan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), pencetusan Republika, peristiwa bergulirnya reformasi 1998 dan banyak lagi. Kita akan menemukan Ibu Ainun Habibie tampil sebagai sosok wanita, istri sekaligus ibu yang luar biasa.</p>
<p>Hingga pada akhirnya Tuhan memberikan cobaan berupa penyakit, hubungan Pak Habibie dan Ibu Ainun menjadi semakin erat. Segala macam bentuk pengobatan dan usaha untuk membuat Ibu Ainun sehat telah dilakukan. Yang paling membuat saya terenyuh adalah pada saat akan dibawa ke Jerman untuk pengobatan, Ibu Ainun sempat berucap, <em>&#8220;Papa, saya tidak mau meninggal di luar negeri&#8230;&#8221; </em>(hal. 273)</p>
<p>Namun sebesar apapun manusia berusaha, Tuhan jua yang menentukan. Garis takdir Tuhan tak terbantahkan. Ibu Hasri Ainun Habibie meninggal dunia pada hari Sabtu tanggal 22 Mei 2010 di Jerman. Namun dengan mantapnya Pak Habibie menegaskan bahwa Ainun masih berada di hati beliau selamanya. Sebab dua insan telah lebur menjadi satu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/572/habibie-ainun/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[film] Sang Pemimpi (Mengapa Saya Bosan ?)</title>
		<link>http://bakulrujak.com/332/film-sang-pemimpi</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/332/film-sang-pemimpi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 08:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mira lesmana]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[riri riza]]></category>
		<category><![CDATA[sang pemimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak motivasi bagi seseorang untuk memutuskan menonton sebuah film.
Semua pasti mendengar kehebohan film dalam negeri terbaru dan fenomenal, Sang Pemimpi. Dibalik meriahnya sambutan masyarakat akan sekuel Laskar Pelangi ini, beberapa hari terakhir saya secara tak sengaja menemui beberapa review yang justru mengungkap ketidak puasan para reviewer terhadap Sang Pemimpi. Berdasar itu pulalah saya putuskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-333" title="sang pemimpi" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/01/sangpemimpi-208x300.jpg" alt="sang pemimpi" width="208" height="300" />Ada banyak motivasi bagi seseorang untuk memutuskan menonton sebuah film.</p>
<p>Semua pasti mendengar kehebohan film dalam negeri terbaru dan fenomenal, Sang Pemimpi. Dibalik meriahnya sambutan masyarakat akan sekuel Laskar Pelangi ini, beberapa hari terakhir saya secara tak sengaja menemui beberapa review yang justru mengungkap ketidak puasan para reviewer terhadap Sang Pemimpi. Berdasar itu pulalah saya putuskan untuk pergi menontonnya hari kamis kemarin, ya walaupun sudah hampir 2 minggu sejak film ini dirilis.</p>
<p>Cerita diawali dengan kemunculan Ikal dewasa (Lukman Sardi) yang sedang menjalani kehidupannya yang membosankan dan penuh kebencian terhadap sepupunya Arai (Nazril Irham), yang meninggalkannya sendirian di pinggiran Bogor sebagai pegawai kantor pos. Kemudian kisah berputar ke sekitar tahun 1980an, yang dikala itu Arai dijemput oleh Ikal dan ayahnya (Mathias Muchus). Ayah Arai baru saja meninggal, dan hanya keluarga Ikal lah yang masih dimilikinya.</p>
<p>Jadilah sejak saat itu Arai tinggal bersama Ikal dan orang tuanya, Setelah lulus SMP mereka berdua melanjutkan sekolah ke sebuah SMA Negeri di Manggar, sebab di Belitong tak ada SMA. Arai digambarkan memiliki watak dan kemauan yang keras. Ia memiliki banyak mimpi dan cita-cita, dan berkomitmen tinggi untuk mencapai semua mimpi dan cita-citanya. Sementara Ikal kebanyakan hanya mengikuti Arai saja.</p>
<p>Satu mimpi terbesar Arai pada saat itu adalah pergi bersekolah ke Paris. Tentu saja mimpi Arai adalah mimpi mereka bersama. Dan selama bersekolah di Manggar, Arai, Ikal dan Jimbron (Azwir Fitrianto) berusaha keras mengumpulkan uang untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Harapan hampir saja kandas ketika perusahaan PN Timah, tempat orang tua Ikal menggantungkan hidup semakin terpuruk dikarenakan harga timah di pasaran dunia semakin jatuh. Ikal dan Arai pun harus memberikan semua tabungan mereka kepada orang tua Ikal untuk menyambung hidup.</p>
<p>Arai dan Ikal tak patah semangat, mereka bekerja lebih giat dan mulai mengumpulkan uang lagi. Hingga akhirnya berhasil menyelesaikan SMA dan pergi ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Indonesia.</p>
<p>Perjuangan belum berakhir, jalan menembus ujian masuk UI tak mudah, belum lagi mereka harus menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya setelah lulus menjadi sarjana. Belum juga mewujudkan mimpi untuk pergi ke Paris, Arai pergi meninggalkan Ikal seorang diri di Bogor.</p>
<p>Demikian, saya nyaris merasa bosan dengan cerita Sang Pemimpi di film ini. Saya menduga kerena tak membaca buku novelnya terlebih dulu. Saya jadi harus meraba dan mengira-ngira beberapa bagian yang entah bagaimana terasa menghilang dari frame cerita.</p>
<p>Ide cerita Sang Pemimpi ini bagus sekali, memotivasi setiap orang bahwa mengejar mimpi dan harapan adalah wajib untuk dilakukan. Sekaligus meyakinkan kita semua untuk tak ragu-ragu memiliki mimpi setinggi mungkin. Namun lagi-lagi entah mengapa saya merasa film ini kurang bisa menerjemahkannya dalam sebuah karya sinematografi. Alur cerita berjalan terlampau cepat, sehingga belum juga habis rasa penasaran dari suatu hal, permasalahan lain sudah keburu muncul.</p>
<p>Ditambah lagi dengan penyajian ending yang kurang <em>menggigit</em>. Dengan kompleksnya konflik yang dihadirkan di sepanjang film ini, <em>scene</em> dua orang remaja yang berjingkrak di tengah hujan salju di Brussel saya kira belum cukup membawa antiklimaks.<br />
Namun harus saya akui, seorang Riri Riza benar-benar menunjukkan kalibernya di film ini. Setiap detail gambar yang disajikan begitu mempesona. Teknik permainan fokus lensa, <em>angle</em> dan pengolahan visual juga sukar sekali ditemukan tandingannya di Indonesia. Film Sang Pemimpi memang tak terlalu banyak mengekspos keelokan alam seperti halnya Laskar Pelangi, tapi tetap saja membuat mata kita terasa dimanjakan.</p>
<p>Akhirnya, saya yakin banyak dari Anda yang tetap menempatkan Sang Pemimpi sebagai Film terhebat dan dengan segala kesempurnaannya telah berhasil menginspirasi Anda untuk menjadi lebih baik, percayalah, saya pun demikian. Namun apa yang saya tulis adalah murni adalah opini pribadi dari kacamata saya. Saya sangat senang jika Anda berkenan menyampaikan pendapat Anda juga di sini. <img src='http://bakulrujak.com/rujak/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/332/film-sang-pemimpi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[buku] Mereka yang Mati Muda</title>
		<link>http://bakulrujak.com/303/buku-mereka-yang-mati-muda</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/303/buku-mereka-yang-mati-muda#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 10:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mereka yang mati muda]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Mereka yang Mati Muda
Pengarang :  Arifin Surya Nugraha dkk
Penerbit : BIO Pustaka
Tahun Terbit : 2008
Tebal buku : 199 halaman
Sampeyan pernah baca buku-buku biografi tokoh besar di Indonesia? Ada Catatan Seorang Demonstran (1983) yang memuat catatan buku harian Soe Hok Gie, atau Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib (1981) dan seterusnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-304" title="mereka yang mati muda" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2009/12/merekayang.jpg" alt="mereka yang mati muda" width="105" height="150" />Judul Buku : <strong>Mereka yang Mati Muda</strong><br />
Pengarang :  <strong>Arifin Surya Nugraha dkk</strong><br />
Penerbit : <strong>BIO Pustaka</strong><br />
Tahun Terbit : <strong>2008</strong><br />
Tebal buku : <strong>199 halaman</strong></p>
<p>Sampeyan pernah baca buku-buku biografi tokoh besar di Indonesia? Ada Catatan Seorang Demonstran (1983) yang memuat catatan buku harian Soe Hok Gie, atau Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib (1981) dan seterusnya. Jika sampeyan tak sempat membaca seluruhnya, ada baiknya melirik buku bagus ini, Mereka yang Mati Muda.</p>
<p>Ada 8 tokoh nasional yang diangkat penulis dalam buku ini. Mereka adalah Ahmad Wahib, Chairil Anwar, Munir Said, RA. Kartini, Robert Wolter Monginsidi, Soedirman, Supriyadi dan Soe Hok Gie. Sesuai dengan judulnya, tokoh yang ditulis di sini adalah mereka yang menutup usia pada usia yang relatif muda. Chairil Anwar misalnya, meninggal pada usia 27 tahun, setelah menghasilkan 70 buah sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan (hal. 36).</p>
<p>Membaca buku ini saya benar-benar merasa sedang membaca rangkuman dari buku-buku yang mengisahkan kisah hidup tokoh-tokoh yang walaupun harus tutup usia di usia muda, namun telah memberika sumbangsih yang begitu besar di bidangnya masing-masing.</p>
<p>Para penulis yang menyusun buku ini rata-rata adalah aktifis di berbagai perguruan tinggi dan masing-masing telah menghasilkan buku-buku lain yang tak kalah hebatnya. Ada Arifin Surya Nugraha yang juga menulis buku Detik-Detik Kematian Soeharto (2008) dan 10 Orang Terkaya Indonesia (2007). Ada juga nama Feby Nurhayati, Reni Nurhayati dan Ruslan. Bersama, mereka menggali sisi-sisi kehidupan para tokoh Indonesia yang fenomenal dan berdedikasi tinggi bagi Indonesia dan dirangkum secara cantik di buku tak terlalu tebal ini.</p>
<p>Sampeyan tak akan merasa bosan membaca buku ini, sebab penulis menggunakan pilihan bahasa yang mengalir dengan rapi dan santai. Sehingga kita akan merasa seperti membaca novel atau dongeng saja.</p>
<p>Diharapkan, dengan membaca buku biografi para tokoh nasional membuat kita semakin mengerti bahwa Indonesia memiliki putra-putri yang hebat dan memiliki pengaruh besar. Sehingga tak ada alasan bagi kita untuk pesimis dan mudah menyerah. <img src='http://bakulrujak.com/rujak/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/303/buku-mereka-yang-mati-muda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar konsumtif dan indonesia</title>
		<link>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 05:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan panjang]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[seorang teman pernah bercerita kepada saya, suatu hari ia pergi ke sebuah acara pameran peralatan elektronik di jakarta dan pulang dengan tas-tas yang berisi barang perkakas komputer yang baru dibelinya. kemudian dia mengaku hampir 2 bulan peralatan barunya hanya menumpuk saja di rak dan tak digunakannya karena bingung untuk apa. mudah sekali ya masyarakat indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="antrian panjang di mall" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/12/crocsale.jpg" alt="" width="300" height="225" />seorang teman pernah bercerita kepada saya, suatu hari ia pergi ke sebuah acara pameran peralatan elektronik di jakarta dan pulang dengan tas-tas yang berisi barang perkakas komputer yang baru dibelinya. kemudian dia mengaku hampir 2 bulan peralatan barunya hanya menumpuk saja di rak dan tak digunakannya karena bingung untuk apa. mudah sekali ya masyarakat indonesia mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebetulnya kurang diperlukan.. apakah teman saya itu telah menjadi konsumtif ?</p>
<p><strong>mengapa konsumtif?</strong></p>
<p>mengapa masyarakat indonesia menjadi konsumtif ? saya sengaja hanya fokus terhadap masyarakat indonesia sebab konon di negara lain sifat konsumtif tak terlalu menonjol seperti di indonesia. tak percaya? kapan-kapan mari kita pergi ke sana dan membuktikannya.</p>
<p><em><strong>1. gengsi</strong></em></p>
<p>membeli telepon genggam model terbaru yang berukuran besar yang bisa digunakan untuk mengambil gambar, mendengarkan musik dengan kualitas super, menulis dan meng<em>edit</em> dokumen, mengolah <em>images</em>, <em>bluetooth</em>, <em>wi-fi</em>, modem, <em>push email</em>, gps, bla, bla, bla. pertanyaannya, berapa banyak dari segudang fitur tersebut yang anda pergunakan dengan maksimal? geli sekali saya ketika suatu hari saya bertanya pada seorang ABG (anak baru gede) yang dengan percaya dirinya menenteng sebuah telepon genggam merek terkenal, tentang apa yang biasa ia lakukan dengan perangkat mahalnya itu. ia jawab, untuk telepon, sms dan&#8230;. <em>facebookan</em> (mengupdate facebook &#8212; situs jejaring sosial paling mentereng saat ini). itulah yang saya sebut gengsi.</p>
<p>mereka merasa percaya diri, hebat dan bahagia luar biasa bila memegang barang-barang bermerek internasional, berkilau dan <em>up-to-date</em>, plus menjadi pusat perhatian. sebaliknya, resah, gelisah dan merasa sangat hina jika harus berjalan di tengah keramaian tanpa dilengkapi barang-barang tersebut. itu gaya hidup.</p>
<p>celakanya, tingkat sosial masyarakat sering kali (seakan) ditentukan oleh perangkat yang dikenakan. jas dan kemeja berkelas, sepatu mengkilap, telepon genggam sebesar batu bata yang tak lepas dari tangan, seolah dengan lantang berteriak &#8220;hai semua, saya orang terhormat!&#8221;</p>
<p>anda pernah pergi ke mall kelas elite dengan mengenakan pakaian sopan dan rapi (namun kurang bermerek) dan di pandang dengan sinis oleh hampir semua orang? saya pernah.</p>
<p><strong><em>2. banyak menonton dan kurang membaca.</em></strong></p>
<p>dimana konsumen mendapat informasi barang-barang keluaran terbaru? jawabannya adalah sebagian besar dari mereka menemukannya di iklan televisi. spesifikasi, peringatan dan himbauan (yang pada umumnya tertulis) tak terlalu dihiraukan. yang penting miliki dulu, daripada keduluan tetangga.</p>
<p>mengapa harga beriklan di televisi menjadi berkali-kali lipat lebih mahal daripada beriklan di koran? ya karena iklan di televisi jauh lebih efektif menjaring pembeli daripada iklan yang terpampang di surat kabar.</p>
<p>padahal di media cetak kita punya lebih banyak waktu dan ruang untuk mempelajari baik dan buruknya sebuah produk, spesifikasi teknis, mempertimbangkan, dan seterusnya sehingga pengeluaran yang seharusnya tak perlu bisa ditekan.</p>
<p><strong><em>3. negeri sejuta komunitas</em></strong></p>
<p>anda sadari atau tidak, kegiatan kopdar (kopi darat) komunitas hanya (atau setidaknya paling banyak dilakukan) di indonesia! saya juga baru menemukan fakta ini ketika mengikuti pesta blogger beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>lalu hubungannya dengan sifat konsumtif? hmmm&#8230; jadi misalnya di sebuah komunitas hampir semua anggotanya menggunakan nokia komunikator, kemudian anda satu-satunya anggota yang tak menggunakan gadget jenis tersebut. apa yang anda pikirkan? terkadang ketakutan untuk <em>ditolak</em> oleh komunitas karena &#8216;perbedaan&#8217; ini menjadi begitu dominan dan membuat seseorang menjadi konsumtif juga.</p>
<p><strong>kebablasan</strong></p>
<p>mungkin kita bisa saja mengatakan, &#8220;ah biarkan saja, toh mereka punya uang&#8221;</p>
<p>tapi tunggu dulu, pernahkah anda mendengar berita tentang pelajar yang melakukan &#8220;korupsi&#8221; uang sekolah untuk membeli sepatu <em>sport</em> agar bisa &#8216;diterima&#8217; oleh teman-temannya dan dikatakan <em>gaul</em> ?</p>
<p>atau saudara-saudara kita yang sebetulnya hidup berkecukupan namun nekat mencopet atau menjual narkoba hanya untuk membeli mobil baru agar tak kalah dengan tetangga sebelahnya?</p>
<p>sifat konsumtif (dan segala sesuatu) akan berakibat kurang baik tatkala mulai melampaui batasnya. apakah pantas hanya untuk hal-hal yang belum tentu besar manfaat dan kegunaannya, kita harus merugikan orang lain ?</p>
<p><strong>sementara itu &#8230;</strong></p>
<p>ah, sedih saya menuliskannya. di beberapa daerah terpencil di sudut-sudut indonesia, saudara-saudara kita harus berjalan 10 kilometer hanya untuk mengambil 2 jerigen air bersih untuk masak. harus berjalan kaki melewati sungai, tebing dan hutan-hutan untuk bersekolah. dan seterusnya.</p>
<p>lalu masih pantaskah kita disebut warga negara beradab, jika di satu tempat saudara kita mengantri di tengah terik matahari dan debu, untuk mendapatkan sedekah senilai 20ribu rupiah, sementara kita mengantri di ruangan luas ber-AC untuk membeli kemeja <em><span style="font-size: x-small;">Calvin Klein </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-size: x-small;">seharga jutaan rupiah?</span></span></em></p>
<p><strong>syukuri saja</strong></p>
<p>bukan orang indonesia rasanya jika tak pandai bersyukur dan selalu mengambil nilai positif dari segala hal. sifat konsumtif masyarakat ini sedikitnya memiliki 3 sisi positif, seperti yang ditulis Ir Handito Joewono di Agrimedia tahun 2003, yaitu:</p>
<p>1. sifat konsumtif masyarakat menunjukkan bahwa indonesia memiliki banyak marketer yang handal. terbukti mereka bisa dengan sukses merayu para konsumen untuk berbelanja dan terus menghabiskan uang mereka untuk produk yang dipasarkan. tentu saja para marketer ini aset yang berharga untuk menghadapi pasar bebas kelak.</p>
<p>2. semaki deras uang yang berputar, maka pajak dan pemasukan negara akan mengalir pula. selain itu iklim investasi positif juga akan terdorong.</p>
<p>3. tingkat konsumtif bisa menjadi hal positif bila merata hingga masyarakat lapisan bawah, apalagi disalurkan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga.</p>
<p>jadi, apakah anda tipe masyarakat yang konsumtif ?</p>
<p><em>Gambar: http://ekonomi.kompasiana.com/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar negeri jutaan sumpah</title>
		<link>http://bakulrujak.com/266/seputar-negeri-jutaan-sumpah</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/266/seputar-negeri-jutaan-sumpah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 03:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[negeri sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[sidang]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[sampeyan pernah bersumpah? sumpah apa?
mari kita lihat dulu ke balakang, mengapa seseorang itu mengucap sumpah. pada masa nabi dan khalifah, seseorang akan bersumpah (dengan menyebut nama Tuhan) adalah jika dia yakin (sekali lagi, yakin dan tahu pasti) berada di pihak yang benar, baik didahului dengan kesaksian maupun tidak. karena konsekuensinya (tentu saja secara keyakinan) sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="sumpah" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/11/sumpah.jpg" alt="" width="300" height="240" />sampeyan pernah bersumpah? sumpah apa?<br />
mari kita lihat dulu ke balakang, mengapa seseorang itu mengucap sumpah. pada masa nabi dan khalifah, seseorang akan bersumpah (dengan menyebut nama Tuhan) adalah jika dia yakin (sekali lagi, yakin dan tahu pasti) berada di pihak yang benar, baik didahului dengan kesaksian maupun tidak. karena konsekuensinya (tentu saja secara keyakinan) sangat besar dan berat, maka sumpah ini jarang sekali diucapkan dan sangat sakral karena mengikut sertakan nama Tuhan. bahkan nabi Muhammad bersabda bahwa bersumpah dalam perdagangan akan melariskan barang dagangan namun menghapus barokah berdagangnya. jelas kan?</p>
<p>nah, sekarang mari kita nyalakan televisi atau baca koran. belakangan saya agak risih juga mendengar dan menyaksikan betapa mudahnya orang-orang (di ruang sidang) mengucap sumpah dengan mantap dan menyebut-nyebut nama Tuhan. seharusnya sumpah menjadi hal yang sakral dan eksklusif, namun jika terlalu sering dan ringan untuk diucapkan, kesan sakral dan eksklusif tentu saja memudar bukan?. ditambah lagi konsekuensi sumpah itu sendiri (bagi umat beriman) baru akan diterima dikemudian hari, artinya tak akan terjadi apa-apa seketika setelah seseorang mengucap sumpah.</p>
<p>dan sekarang jika ada dua pihak yang berseteru dan dua-duanya berani mengucap sumpah yang sama, ya jangan salahkan siapa-siapa jika hanya akan menjadi bahan tertawaan saja.</p>
<p><em>*gambar: http://jeffreyhill.typepad.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/266/seputar-negeri-jutaan-sumpah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

