<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bakul Rujak</title>
	<atom:link href="http://bakulrujak.com/tag/perang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bakulrujak.com</link>
	<description>Untuk hidup yang selalu menyenangkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 May 2012 16:41:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Green Zone</title>
		<link>http://bakulrujak.com/428/green-zone</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/428/green-zone#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 03:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[baghdad]]></category>
		<category><![CDATA[green zone]]></category>
		<category><![CDATA[matt damon]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[prajurit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[Berlatar tahun 2003 di Baghdad yang mencekam, Roy Miller (Matt Damon) seorang perwira angkatan darat Amerika ditugaskan untuk mencari lokasi penyimpanan senjata pemusnah masal, yang menurut sumber intelijen tersembunyi di sejumlah tempat di penjuru Irak. Kecurigaan Miller mulai muncul manakala dari beberapa kali pencarian senjata pemusnah masal yang dimaksud tak juga ditemukan. Akurasi informasi dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-429" title="Green Zone matt damon" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/03/greenzone.jpg" alt="Green Zone matt damon" width="170" height="252" />Berlatar tahun 2003 di Baghdad yang mencekam, Roy Miller (Matt Damon) seorang perwira angkatan darat Amerika ditugaskan untuk mencari lokasi penyimpanan senjata pemusnah masal, yang menurut sumber intelijen tersembunyi di sejumlah tempat di penjuru Irak. Kecurigaan Miller mulai muncul manakala dari beberapa kali pencarian senjata pemusnah masal yang dimaksud tak juga ditemukan. Akurasi informasi dari pihak intel pun mulai dipertanyakan.</p>
<p>Namun rupanya bukan pada intelijen sumber masalahnya, Miller dan seorang agen CIA bernama Martin Brown (Brendan Gleeson) mengendus adanya konspirasi yang melibatkan para pejabat tinggi. Rupanya Miller dan timnya tak punya banyak waktu ketika di saat-saat terakhir kedutaan besar Amerika mencabut semua status militer prajurit angkatan darat Amerika di Irak. Perkara senjata pemusnah masal harus segera diselesaikan, sekaligus seorang jenderal kepercayaan Saddam Husein yang sekaligus target prioritas para prajurit Amerika siap melakukan penyerangan kapan saja.</p>
<p><strong>Kembalinya Jason Bourne<br />
</strong> Ada dua faktor internal yang membuat film ini layak mendapat apresiasi yang bagus. Pertama aktor utamanya dan yang kedua adalah sutradaranya. Perpaduan Matt Damon dan Paul Greengrass berhasil membuat saya menonton Bourne Supremacy dan Bourne Ultimatum berkali-kali tanpa merasa bosan. Keduanya bisa menjadi tandem yang memukau jika dipertemukan.</p>
<p>Di sisi lain konsep pertempuran Baghdad yang terkenal itu berhasil disajikan dengan nyaris sempurna ke layar lebar oleh sang sutradara. Setiap detail pertempuran yang menegangkan, persenjataan, taktik dan strategi serta Irak yang berdebu bisa membuat penonton terbawa ke tengah suasana pertempuran yang bertempo rapat dan menegangkan.</p>
<p>Satu hal yang mambuat saya tersentuh. Di akhir bagian film ini seorang tokoh (memerankan Freddy,  seorang penduduk lokal) berkata pada Miller, &#8220;kau orang asing dan tak berhak menentukan apa yang terjadi di sini&#8221;.</p>
<p>Saya menangkap maksud Freddy dari kata-kata tersebut adalah, walaupun penuh dengan intrik dan konspirasi, memang beginilah sebuah negara terbentuk dan dijalankan. Tak perlu risau dengan itu. Toh masyarakat disini bisa berkompromi dengan hal itu dan menjalani hidup mereka dengan apapun yang ada. Ya, lalu saya ingat negara saya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/428/green-zone/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[buku] momoye, mereka memanggilku</title>
		<link>http://bakulrujak.com/168/buku-momoye-mereka-memanggilku</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/168/buku-momoye-mereka-memanggilku#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 19:19:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[jugun ianfu]]></category>
		<category><![CDATA[mardiyem]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bakulrujak.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[
Judul Buku : momoye, mereka memanggilku
Pengarang : ekahindra &#8211; koichi kimura
Penerbit : esensi (erlangga group)
Tahun Terbit : 2007
Tebal buku : x + 314 halaman
mardiyem, terlahir pada tahun 1929 di tengah-tengah keluarga berkecukupan. ayahnya, irodjojo, bekerja sebagai abdi dalem keraton jogjakarta dan pada siang hari berprofesi sebagai tukang jagal sapi. mardiyem adalah anak terakhir dari 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-169 alignleft" title="momoye" src="http://www.bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2009/09/momoye.jpg" alt="momoye, mereka memanggilku" width="185" height="300" /></p>
<p><strong>Judul Buku</strong> : momoye, mereka memanggilku<strong><br />
Pengarang</strong> : ekahindra &#8211; koichi kimura<br />
<strong>Penerbit </strong>: esensi (erlangga group)<br />
<strong>Tahun Terbit</strong> : 2007<br />
<strong>Tebal buku </strong>: x + 314 halaman</p>
<p>mardiyem, terlahir pada tahun 1929 di tengah-tengah keluarga berkecukupan. ayahnya, irodjojo, bekerja sebagai abdi dalem keraton jogjakarta dan pada siang hari berprofesi sebagai tukang jagal sapi. mardiyem adalah anak terakhir dari 4 bersaudara, semuanya perempuan.</p>
<p>setelah ayahnya meninggal dunia, pada usia kurang dari 10 tahun mardiyem harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kediaman keluarga ndoro mangun, mantan bupati gunung kidul dengan penghasilan 15 sen setiap bulannya. 3 tahun bekerja di kediaman ndoro mangun mardiyem merasakan ketertarikannya pada bidang seni, khususnya seni tarik suara dan seni peran. ia gemar menonton pertunjukan sandiwara yang sesekali pentas di kotanya.</p>
<p>pada usia 13 tahun seorang bernama zus lentji menawarinya untuk menjadi pemain sandiwara di borneo (kalimantan). tentu saja mardiyem menyetujuinya dengan suka cita. mardiyem dan puluhan teman yang lain berangkat dengan segudang harapan ke tanah borneo, setelah sebelumnya menjalani pemeriksaan kesehatan oleh pihak jepang (pada saat itu indonesia dalam masa penjajahan jepang).<br />
tanpa kecurigaan sedikitpun mardiyem digiring menuju sebuah kawasan bernama telawang dan dipaksa menjalani profesi yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya. menjadi jugun ianfu, ia diwajibkan melayani kebutuhan seks serdadu dan sipil jepang yang sedang berada di indonesia, khususnya borneo. nama mardiyem pun tak digunakan lagi, mardiyem diberi nama jepang baru, momoye. dengan paksaan, pukulan, serta siksaan yang lain mardiyem menjalani hari-harinya di telawang yang kelam. menjadi pemuas nafsu belasan lelaki dalam sehari seakan hanya menjadi bagian dari sederetan penderitaan lahir dan batin yang dialami mardiyem.</p>
<p>penderitaan fisik yang dialami mardiyem berakhir pada tahun 1945 ketika jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. namun bukan berarti dengan demikian mardiyem mendapatkan penghidupan yang normal, justru ia dan rekan-rekan bekas jugun ianfu lainnya harus menerima kenyataan dikucilkan dari komunitas dan mendapat cibiran serta tatapan sinis dari masyarakat. tentu saja dengan kondisi demikian sulit bagi mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan memadai, hingga pada akhirnya banyak yang hidup menderita, terkatung-katung dengan cacat fisik yang diperoleh selama menjadi jugun ianfu hingga menemui ajal dengan mengenaskan.</p>
<p>namun tak demikian halnya dengan mardiyem. saat jepang menarik pasukannya dari indonesia, mardiyem menikah dengan amat mingun, bekas serdadu knil. mardiyem dan amat mingun menjalani hidup dengan pekerjaan yang berganti-ganti. dari penjual kue hingga dukun pernah mereka jalani. pengalaman pahit sebagai jugun ianfu dan masa lalu yang kelam telah dikubur dalam-dalam oleh mardiyem dan rekan-rekan seperjuangannya. tak ada yang berusaha mengungkitnya kembali, apalagi untuk mengadu kepada pemerintah.</p>
<p>baru setelah amat mingun meninggal pada tahun 1991, mardiyem mulai bangkit untuk menuntut keadilan dari pemerintah indonesia dan jepang atas nasib para mantan jugun ianfu. banyak dukungan ia peroleh, baik dari aktifis kemanusiaan hingga kementerian dijepang dan indonesia.</p>
<p>namun demikian apa yang diperoleh mardiyem dan para mantan jugun ianfu yang lain sungguh masih jauh dari yang dituntutkan. selain menuntut ganti rugi materi, mardiyem dan rekan-rekannya juga menuntut rehabilitasi nama baik serta untuk memasukkan masalah jugun ianfu ke dalam kurikulum sekolah di jepang.</p>
<p>buku momoye, mereka memanggilku benar-benar menjadi penggugah hati nurani para pembacanya. bahasa yang digunakan lugas dan spontan, sangat objektif sebab langsung diambil berdasarkan penuturan mardiyem, sang saksi sejarah. dari sisi penulis, ekahindra dan koichi kimura adalah dua orang aktifis kemanusiaan yang telah lebih dari sepuluh tahun mendalami kasus jugun ianfu di seluruh dunia. sehingga tulisan keduanya sangat tepat sasaran dan dalam.</p>
<p>membaca buku ini kita seakan dibawa kembali ke masa penjajahan jepang yang bengis. seluk beluk sisi kehidupan mardiyem, suasana asrama telawang, serta suka-duka mardiyem bersama suaminya diceritakan dengan pendekatan yang tepat dan bahasa yang sederhana. benar-benar buku yang menginspirasi para pembacanya untuk selalu berjuang menuju bangsa yang lebih baik, seakan selalu diingatkan oleh sosok mardiyem yang seolah-olah telah berjuang pada masanya dengan caranya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/168/buku-momoye-mereka-memanggilku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

