<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bakul Rujak</title>
	<atom:link href="http://bakulrujak.com/tag/rohani/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bakulrujak.com</link>
	<description>Untuk hidup yang selalu menyenangkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 May 2012 16:41:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Satu Cinta Sebait Syair Kebenaran</title>
		<link>http://bakulrujak.com/554/satu-cinta-sebait-syair-kebenaran</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/554/satu-cinta-sebait-syair-kebenaran#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 03:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andika Kurniantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[connie constantina]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[rohani]]></category>
		<category><![CDATA[satu cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Penuturan Connie Constantina ini bukan fiksi, demikian yang dituturkannya. Pertemuan dengan Isa Al-Masih, ajaran yang diterimanya langsung dari Sang Juru Selamat, hingga dogma-dogma ke-Kristenan yang harus didobraknya. Semua dilaluinya bukan tanpa penghalang. Sempat pula kawan-kawan dekat dan keluarganya menganggapnya gila.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/10/CoverSatuCinta-connie.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-555" title="Cover Satu Cinta connie constantina" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/10/CoverSatuCinta-connie.jpg" alt="" width="170" height="229" /></a>Judul Buku : <strong>Satu Cinta Sebait Syair Kebenaran</strong><br />
Pengarang : <strong>Connie Constantina</strong><br />
Penerbit : <strong>Diksi</strong><br />
Terbit : <strong>Juli 2010</strong><br />
Tebal Buku : <strong>128 halaman</strong><br />
Harga di Gramedia : <strong>Rp 25.000.00</strong></p>
<p>Pada bab awal buku ini, Connie Constantina menceritakan mengenai masa kanak-kanaknya di Manado. Tentang bagaimana figur ayah yang hebat dan teguh harus direnggut oleh tangan-tangan kapitalis dan mendekam di penjara atas perbuatan yang tak pernah dilakukan.</p>
<p>Dilanjutkan dengan fase kedua dimana Connie harus berjuang mati-matian untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Mulai dari berjualan sayuran, mengangkat batu di kali hingga menyanyi di pub. Semua dilakukan semata karena di dalam keluarga hanya dia yang memiliki keteguhan hati paling kuat. Semua dilalui Connie dengan sabar hingga pada akhirnya nasib mempertemukan dia dengan gemerlap Jakarta dan perlahan menjadi penyanyi profesional dan meraup banyak uang.</p>
<p>Sampai pada fase ini semua berjalan seperti halnya yang lazim terjadi. Perjuangan keras dan panjang hingga berbuah kesuksesan. Tapi justru disinilah kisah baru dimulai. Tercatat pada tahun 1994 untuk pertama kalinya Connie mengalami sebuah perjumpaan dengan pribadi yang selama ini hanya dilihatnya di patung dan lukisan-lukisan di gereja. Ya, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih datang kepadanya. Satu hal yang ditekankan pada perjumpaan tersebut adalah tuntutan Sang Juru Selamat untuk tidak menyekutukan Tuhan. Bahwa Tuhan itu hanya satu.</p>
<p>Selebihnya, Connie diminta untuk mengabarkan perjumpaan dan ajaran yang diterimanya kepadanya semua orang. Peristiwa sakral dan mistis tersebut tak hanya terjadi sekali dua kali saja. Hingga tahun 2008, terhitung telah 4 kali Yesus mendatanginya untuk menyampaikan perihal yang serupa.</p>
<p><strong>Kontroversi ?</strong></p>
<p>Penuturan Connie Constantina ini bukan fiksi, demikian yang dituturkannya. Pertemuan dengan Isa Al-Masih, ajaran yang diterimanya langsung dari Sang Juru Selamat, hingga dogma-dogma ke-Kristenan yang harus didobraknya. Semua dilaluinya bukan tanpa penghalang. Sempat pula kawan-kawan dekat dan keluarganya menganggapnya gila.</p>
<p>Buku ini berhiaskan ayat-ayat suci Al-Kitab dan Al-Qur&#8217;an. Semua bermuara pada satu hal, tentang ke-Maha Esaan Tuhan. Ini bukan novel, melainkan sebuah ajaran. Bukan hal yang baru tapi penyegar, seakan ingin mencoba meluruskan sesuatu yang telah lama bengkok dan menyimpang. Namun tetap, Connie masih menjadi seorang kristiani yang taat (setidaknya pada batas-batas tertentu, menurut penuturannya pada buku setebal 128 ini).</p>
<p>Menurut saya tak ada muatan kontroversi di sini. Semua murni penturan seorang sumber berdasar pada pengalam pribadi. Para pembaca tentu saja bisa memilah dan memilih sendiri, kesimpulan apa yang bisa ditarik dari serangkaian peristiwa gaib yang dialami penulis.</p>
<p>Dan tentu saja tak ada ending di sini, seperti yang saya sampaikan di awal bahwa buku ini bukan novel yang harus memiliki klimaks dan antiklimaks. Buku ini memiliki awalan dan penutup yang diserahkan kembali kepada para pembaca. Akhirnya, mari kita sepakat bahwa kebenaran hanya Tuhan yang mengetahui. Kita manusia hanya berusaha mendekat hingga sedekat mungkin kepada-Nya.</p>
<p><em>Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/554/satu-cinta-sebait-syair-kebenaran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hafalan Shalat Delisa</title>
		<link>http://bakulrujak.com/398/hafalan-shalat-delisa</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/398/hafalan-shalat-delisa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 08:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amalia Anggraeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>
		<category><![CDATA[delisa]]></category>
		<category><![CDATA[hafalan shalat delisa]]></category>
		<category><![CDATA[rohani]]></category>
		<category><![CDATA[tsunami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Hafalan Shalat Delisa
 Pengarang : tere-liye
 Penerbit : Republika
 Tahun Terbit : 2008 (cetakan ke-7)
 Tebal Buku : 270 halaman
 Harga di Gramedia : Rp 46,000.00
Namanya Delisa, umurnya baru 6 tahun. Duduk di kelas 1 Ibtidaiyah Negeri I Lhok Nga. Seorang gadis kecil yang manis, polos, dan menggemaskan. Delisa gemar bermain bola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-407" title="delisa1" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/02/delisa1.jpg" alt="delisa1" width="197" height="297" />Judul Buku</strong> : Hafalan Shalat Delisa<br />
<strong> Pengarang</strong> : tere-liye<br />
<strong> Penerbit :</strong> Republika<br />
<strong> Tahun Terbit</strong> : 2008 (cetakan ke-7)<br />
<strong> Tebal Buku</strong> : 270 halaman<br />
<strong> Harga di Gramedia </strong>: Rp 46,000.00</p>
<p>Namanya Delisa, umurnya baru 6 tahun. Duduk di kelas 1 <em>Ibtidaiyah</em> Negeri I Lhok Nga. Seorang gadis kecil yang manis, polos, dan menggemaskan. Delisa gemar bermain bola bersama teman laki-lakinya setiap sore di dekat pantai Lok Nga, sekitar 400 meter dari rumahnya. Delisa anak yang kritis. Ia sering kali bertanya tentang apapun yang tidak ia mengerti. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia bersama Ummi Salamah, Abi Usman, kak Fatimah, serta kedua kakak kembarnya, Aisyah dan Zahra. Abi Delisa bekerja di kapal tanker yang membawa minyak mentah untuk diangkut dari satu negara ke negara lainnya, akan pulang setiap 3 bulan sekali. Jadilah Ummi yang setiap hari menjaga keempat anaknya yang manis itu.</p>
<p>Ada satu tradisi dalam keluarga Usman, yakni anak yang telah hafal bacaan shalat akan diberikan hadiah kalung. Begitupun dengan Delisa yang berusaha keras belajar menghafal bacaan shalat. Delisa ingin memakai kalung seperti kakak-kakaknya. Delisa telah memilih sendiri kalung hadiahnya yang ia beli bersama Ummi di toko Koh Acan. Sebuah kalung yang indah dengan liontin berbentuk &#8220;D&#8221;. &#8220;D&#8221; untuk Delisa. Sayangnya kalung itu belum boleh dipakai oleh Delisa sampai Delisa hafal seluruh bacaan shalatnya. Sepanjang hari dia terus berusaha menghafalkan bacaan shalat, meski kadang bacaannya terbalik seperti bacaan ruku&#8217; yang terbalik dengan sujud ataupun dia lupa sama sekali dengan kelanjutan bacaan iftitahnya serta sering mendapat ejekan dari kak Aisyah namun itu semua tidak membuatnya gentar untuk menjadikan shalatnya sempurna dengan bacaan shalat. Apalagi Abi berjanji akan membelikannya sepeda.</p>
<p>Hingga tiba saatnya Delisa harus mengikuti ujian hafalan bacaan shalat di sekolahnya. Delisa harus menghafal di depan ibu guru Nur. Delisa lancar benar menghafal bacaan shalatnya. Sampai saat Delisa akan melanjutkan ke bacaan sujud tiba-tiba tubuhnya terseret air besar sekali. Ya, hari itu tsunami terjadi. Memporakporandakan Lok Nga hingga tak tersisa. Menelan banyak korban yang sampai kini tidak dapat diketahui jumlah pastinya.</p>
<p>Aceh bersedih, Indonesia bersedih. Berita bencana tsunami di Aceh itu pun mendunia. Lalu kemanakah Delisa? Akankah Delisa dinyatakan lulus oleh bu guru Nur kemudian mendapatkan hadiah kalung dan sepeda seperti yang dijanjikan? Bagaimana usaha Abi untuk menemukan kembali keluarganya yang amat dicintainya itu? Dan bagaimana gadis cilik itu menghadapi kenyataan bahwa kaki kanannya harus diamputasi, kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai dan semangatnya untuk terus menyempurnakan shalatnya?</p>
<p><strong>Menyentuh hati<br />
</strong> Kisah yang sangat menyentuh dan membuka hati. Membuat siapa saja yang membacanya terharu kemudian tanpa sadar meneteskan air mata. Tak terkecuali bagi saya. Seolah hanyut dalam ceritanya.  Meski buku ini ternyata fiksi akan tetapi inspirasinya nyata berlatar belakang bencana tsunami yang menimpa Aceh tahun 2004 lalu. Ditulis dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Ada beberapa bagian dimana penulis memberi <em>footnote</em> tentang doanya untuk Delisa, mengungkapkan kecemburuannya tentang gadis cilik itu.</p>
<p>Delisa yang amat tegar, yang tetap semangat apapun kondisinya, yang bisa menerima kehilangan akan orang-orang yang dicintainya dengan sederhana. Saya ikut cemburu. Sungguh, dari Delisa kita bisa belajar banyak hal tentang makna hidup. Bahwa hidup memang sungguh sederhana, belajar tentang rasa ikhlas dan tulus hati, senantiasa bersyukur dan terus memperbaiki diri. Terima kasih Delisa.</p>
<blockquote><p><strong>NB</strong> : saya baru pertama kali menulis resensi tentang buku. jadi mohon maaf atas kekurangan yang ada dan mohon kritik serta saran yang membangun untuk tulisan saya ke depan. terima kasih.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/398/hafalan-shalat-delisa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

