<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bakul Rujak &#187; tulisan panjang</title>
	<atom:link href="http://bakulrujak.com/tag/tulisan-panjang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bakulrujak.com</link>
	<description>Untuk hidup yang selalu menyenangkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 03:32:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Buku yang Dibredel, Intelektualitas yang Dicekal</title>
		<link>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 04:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan panjang]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[intelektualitas]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kejagung]]></category>
		<category><![CDATA[pencekalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Berapa buku yang sempat anda baca? Entah sejak kapan, buku telah menjadi instrumen pembentuk intelektualitas rakyat. Ia juga merupakan salah satu perangkat yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan opini, penentu sikap dan pendewasaan berpikir. Buku juga merupakan karya intelektual para pengarangnya, yang telah melewati masa riset dan uji kelayakan yang tak main-main. Apapun yang terkandung di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-410" title="Buku" src="http://bakulrujak.com/rujak/wp-content/uploads/2010/02/bukuu.jpg" alt="Buku" width="200" height="149" />Berapa buku yang sempat anda baca? Entah sejak kapan, buku telah menjadi instrumen pembentuk intelektualitas rakyat. Ia juga merupakan salah satu perangkat yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan opini, penentu sikap dan pendewasaan berpikir. Buku juga merupakan karya intelektual para pengarangnya, yang telah melewati masa riset dan uji kelayakan yang tak main-main. Apapun yang terkandung di dalamnya juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi bahan pengaya berpikir kita.</p>
<p><strong>Kejaksaan membredel buku<br />
</strong> Tertanggal 3 Desember 2009, Kejagung secara resmi menyatakan pencekalan terhadap 5 judul buku yang beredar. Kelima buku tersebut adalah Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa, Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri, karya Cocratez Sofyan Yoman, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan, karya Darmawan MM, dan Mengungkap Misteri Keberagaman Agama, karangan Drs H Syahrudin Ahmad.</p>
<p>Pola yang masih sama seperti yang terjadi pada era-era sebelumnya. Buku-buku yang dibredel sebagian besar masih berkutat pada tema nasionalisme dan ideologi.</p>
<p><strong>Mengapa dibredel ?</strong><br />
Mari kita ulas, apa saja kira-kira yang melatar belakangi pembredelan buku-buku ini. Buku karya Cocratez Sofyan Yoman, Darmawan MM dan Drs H Syahrudin Ahmad berbicara seputar keagamaan. Kontroversi dan konspirasi keyakinan nampak dengan jelas pada judulnya. Sementara sisanya, John Rossa, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan menulis tentang kontroversi seputar gerakan 30 September dan yang terjadi setelahnya.</p>
<p>Kejagung hanya menyebutkan buku-buku tersebut dicekal karena dapat mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UUD 1945, dan Pancasila. Titik. Tak ada penjabaran lebih lanjut apa dan bagaimana bisa menyebabkan ketertiban menjadi terganggu oleh karena orang membaca buku. Sehingga (mohon maaf) untuk kasus ini saya lebih menghargai MUI yang melakukan himbauan untuk tidak melakukan ini dan itu ataupun menonton film ini dan itu. Setidaknya masih ada penjelasan di belakangnya.</p>
<p><strong>Kebenaran versi siapa ?</strong><br />
Lain lagi dengan kisah kelima buku yang dicekal secara resmi oleh Kejagung, adalah Boni Hargens seorang dosen Politik UI sekaligus praktisi politik yang menulis buku berjudul 10 Dosa Politik SBY-JK. Buku Boni memang tak secara formal dicekal oleh siapapun, namun secara &#8216;ajaib&#8217; menghilang dari toko-toko buku. Ada apa?</p>
<p>Kembali, topik seputar kontroversi komunisme di Indonesia dan keberagaman agama adalah topik yang paling sensitif dan rawan, saya mengakuinya. Saya sendiri juga selalu antusias terhadap buku yang mengulas hal-hal tersebut di atas. Terutama mengenai seputar gerakan 30 September 1965, apa dan bagaimananya. Mengapa? Tak perlu disangsikan bahwa sejak masih duduk di sekolah dasar hingga entah kapan, buku-buku pelajaran sejarah menuliskan suatu fakta tentang peristiwa penghianatan partai komunis Indonesia dari satu sudut pandang saja. Ya, hanya dari versi pemerintah (pada masa itu).</p>
<p>Kemudian pada masa peralihan ke era reformasi, kaum intelektual semakin berani bersuara, makin banyak versi yang beredar. Multi-versi seperti itu menurut saya sangat sehat sebab orang semakin bebas memutuskan mana yang menurut mereka paling layak dibenarkan.</p>
<p>Jadi jika dimasa kini masih terjadi pencekalan terhadap karya-karya intelektual yang didasari penelitian dan fakta yang teruji, dan seakan masih tetap saja menjejalkan kebenaran yang dipaksakan, layaklah kiranya kita bertanya. Kebenaran versi siapa ?</p>
<p><strong>Mari berpikir</strong><br />
Tak ada orang yang bertindak anarkis dan membunuh setelah membaca sebuah buku. Semua buku yang dikonsumsi adalah sumber informasi yang memperkaya. Memperkaya persepsi, sudut pandang, sekaligus menjadi bahan pembelajaran untuk menerima berbagai versi dari sebuah fakta, sebab memang itulah esensi dari sistem demokrasi. Banyak pendapat dan sudut pandang adalah pupuk dari demokrasi yang sehat.</p>
<p><em>Gambar: www.wartakota.co.id</em></p>
<blockquote><p><em><strong>Pranala:</strong></em><strong><br />
</strong><a href="http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06/pembredelan-akun-cermin-admin-yang-tidak-demokratiskah/ " target="_blank"> http://new-media.kompasiana.com/2010/01/06/pembredelan-akun-cermin-admin-yang-tidak-demokratiskah/<br />
</a><a href="http://kickandy.com/theshow/2010/01/29/1780/1/1/1/MENGAPA-MEREKA-DIBUNGKAM- " target="_blank"> http://kickandy.com/theshow/2010/01/29/1780/1/1/1/MENGAPA-MEREKA-DIBUNGKAM-<br />
</a><a href="http://indonesiabuku.com/?p=3210 " target="_blank"> http://indonesiabuku.com/?p=3210<br />
</a><a href="http://oase.kompas.com/read/2009/12/24/2158302/Tentang.Pembredelan.Lima.Buku.oleh.Kejagung" target="_blank"> http://oase.kompas.com/read/2009/12/24/2158302/Tentang.Pembredelan</a>&#8230;</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/409/buku-yang-dibredel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seputar konsumtif dan indonesia</title>
		<link>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia</link>
		<comments>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 05:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bakul Rujak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Live & Society]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan panjang]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bakulrujak.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[seorang teman pernah bercerita kepada saya, suatu hari ia pergi ke sebuah acara pameran peralatan elektronik di jakarta dan pulang dengan tas-tas yang berisi barang perkakas komputer yang baru dibelinya. kemudian dia mengaku hampir 2 bulan peralatan barunya hanya menumpuk saja di rak dan tak digunakannya karena bingung untuk apa. mudah sekali ya masyarakat indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="antrian panjang di mall" src="http://betet.blogdetik.com/files/2009/12/crocsale.jpg" alt="" width="300" height="225" />seorang teman pernah bercerita kepada saya, suatu hari ia pergi ke sebuah acara pameran peralatan elektronik di jakarta dan pulang dengan tas-tas yang berisi barang perkakas komputer yang baru dibelinya. kemudian dia mengaku hampir 2 bulan peralatan barunya hanya menumpuk saja di rak dan tak digunakannya karena bingung untuk apa. mudah sekali ya masyarakat indonesia mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebetulnya kurang diperlukan.. apakah teman saya itu telah menjadi konsumtif ?</p>
<p><strong>mengapa konsumtif?</strong></p>
<p>mengapa masyarakat indonesia menjadi konsumtif ? saya sengaja hanya fokus terhadap masyarakat indonesia sebab konon di negara lain sifat konsumtif tak terlalu menonjol seperti di indonesia. tak percaya? kapan-kapan mari kita pergi ke sana dan membuktikannya.</p>
<p><em><strong>1. gengsi</strong></em></p>
<p>membeli telepon genggam model terbaru yang berukuran besar yang bisa digunakan untuk mengambil gambar, mendengarkan musik dengan kualitas super, menulis dan meng<em>edit</em> dokumen, mengolah <em>images</em>, <em>bluetooth</em>, <em>wi-fi</em>, modem, <em>push email</em>, gps, bla, bla, bla. pertanyaannya, berapa banyak dari segudang fitur tersebut yang anda pergunakan dengan maksimal? geli sekali saya ketika suatu hari saya bertanya pada seorang ABG (anak baru gede) yang dengan percaya dirinya menenteng sebuah telepon genggam merek terkenal, tentang apa yang biasa ia lakukan dengan perangkat mahalnya itu. ia jawab, untuk telepon, sms dan&#8230;. <em>facebookan</em> (mengupdate facebook &#8212; situs jejaring sosial paling mentereng saat ini). itulah yang saya sebut gengsi.</p>
<p>mereka merasa percaya diri, hebat dan bahagia luar biasa bila memegang barang-barang bermerek internasional, berkilau dan <em>up-to-date</em>, plus menjadi pusat perhatian. sebaliknya, resah, gelisah dan merasa sangat hina jika harus berjalan di tengah keramaian tanpa dilengkapi barang-barang tersebut. itu gaya hidup.</p>
<p>celakanya, tingkat sosial masyarakat sering kali (seakan) ditentukan oleh perangkat yang dikenakan. jas dan kemeja berkelas, sepatu mengkilap, telepon genggam sebesar batu bata yang tak lepas dari tangan, seolah dengan lantang berteriak &#8220;hai semua, saya orang terhormat!&#8221;</p>
<p>anda pernah pergi ke mall kelas elite dengan mengenakan pakaian sopan dan rapi (namun kurang bermerek) dan di pandang dengan sinis oleh hampir semua orang? saya pernah.</p>
<p><strong><em>2. banyak menonton dan kurang membaca.</em></strong></p>
<p>dimana konsumen mendapat informasi barang-barang keluaran terbaru? jawabannya adalah sebagian besar dari mereka menemukannya di iklan televisi. spesifikasi, peringatan dan himbauan (yang pada umumnya tertulis) tak terlalu dihiraukan. yang penting miliki dulu, daripada keduluan tetangga.</p>
<p>mengapa harga beriklan di televisi menjadi berkali-kali lipat lebih mahal daripada beriklan di koran? ya karena iklan di televisi jauh lebih efektif menjaring pembeli daripada iklan yang terpampang di surat kabar.</p>
<p>padahal di media cetak kita punya lebih banyak waktu dan ruang untuk mempelajari baik dan buruknya sebuah produk, spesifikasi teknis, mempertimbangkan, dan seterusnya sehingga pengeluaran yang seharusnya tak perlu bisa ditekan.</p>
<p><strong><em>3. negeri sejuta komunitas</em></strong></p>
<p>anda sadari atau tidak, kegiatan kopdar (kopi darat) komunitas hanya (atau setidaknya paling banyak dilakukan) di indonesia! saya juga baru menemukan fakta ini ketika mengikuti pesta blogger beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>lalu hubungannya dengan sifat konsumtif? hmmm&#8230; jadi misalnya di sebuah komunitas hampir semua anggotanya menggunakan nokia komunikator, kemudian anda satu-satunya anggota yang tak menggunakan gadget jenis tersebut. apa yang anda pikirkan? terkadang ketakutan untuk <em>ditolak</em> oleh komunitas karena &#8216;perbedaan&#8217; ini menjadi begitu dominan dan membuat seseorang menjadi konsumtif juga.</p>
<p><strong>kebablasan</strong></p>
<p>mungkin kita bisa saja mengatakan, &#8220;ah biarkan saja, toh mereka punya uang&#8221;</p>
<p>tapi tunggu dulu, pernahkah anda mendengar berita tentang pelajar yang melakukan &#8220;korupsi&#8221; uang sekolah untuk membeli sepatu <em>sport</em> agar bisa &#8216;diterima&#8217; oleh teman-temannya dan dikatakan <em>gaul</em> ?</p>
<p>atau saudara-saudara kita yang sebetulnya hidup berkecukupan namun nekat mencopet atau menjual narkoba hanya untuk membeli mobil baru agar tak kalah dengan tetangga sebelahnya?</p>
<p>sifat konsumtif (dan segala sesuatu) akan berakibat kurang baik tatkala mulai melampaui batasnya. apakah pantas hanya untuk hal-hal yang belum tentu besar manfaat dan kegunaannya, kita harus merugikan orang lain ?</p>
<p><strong>sementara itu &#8230;</strong></p>
<p>ah, sedih saya menuliskannya. di beberapa daerah terpencil di sudut-sudut indonesia, saudara-saudara kita harus berjalan 10 kilometer hanya untuk mengambil 2 jerigen air bersih untuk masak. harus berjalan kaki melewati sungai, tebing dan hutan-hutan untuk bersekolah. dan seterusnya.</p>
<p>lalu masih pantaskah kita disebut warga negara beradab, jika di satu tempat saudara kita mengantri di tengah terik matahari dan debu, untuk mendapatkan sedekah senilai 20ribu rupiah, sementara kita mengantri di ruangan luas ber-AC untuk membeli kemeja <em><span style="font-size: x-small;">Calvin Klein </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-size: x-small;">seharga jutaan rupiah?</span></span></em></p>
<p><strong>syukuri saja</strong></p>
<p>bukan orang indonesia rasanya jika tak pandai bersyukur dan selalu mengambil nilai positif dari segala hal. sifat konsumtif masyarakat ini sedikitnya memiliki 3 sisi positif, seperti yang ditulis Ir Handito Joewono di Agrimedia tahun 2003, yaitu:</p>
<p>1. sifat konsumtif masyarakat menunjukkan bahwa indonesia memiliki banyak marketer yang handal. terbukti mereka bisa dengan sukses merayu para konsumen untuk berbelanja dan terus menghabiskan uang mereka untuk produk yang dipasarkan. tentu saja para marketer ini aset yang berharga untuk menghadapi pasar bebas kelak.</p>
<p>2. semaki deras uang yang berputar, maka pajak dan pemasukan negara akan mengalir pula. selain itu iklim investasi positif juga akan terdorong.</p>
<p>3. tingkat konsumtif bisa menjadi hal positif bila merata hingga masyarakat lapisan bawah, apalagi disalurkan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga.</p>
<p>jadi, apakah anda tipe masyarakat yang konsumtif ?</p>
<p><em>Gambar: http://ekonomi.kompasiana.com/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bakulrujak.com/291/seputar-konsumtif-dan-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
